
"Aku katakan sekali lagi, aku dijebak. Aduh ... kepalaku pusing ini ... Jadi periksa saja darahku. Ada kandungan apa saja di sana. Itu pasti mengarah pada pemilik karaoke dan bar laknat itu, brengsek! Aku tidak pernah minum-minuman seperti itu seumur hidupku, jadi bila ada yang mencampurnya, aku tidak tahu. Aku baru tahu ketika kepalaku pusing, hingga secepatnya keluar dari tempat itu, sampai kecelakaan itu terjadi. Itu murni kecelakaan tanpa niat membunuh orang," terang Jun yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa lebam di wajah. Tangannya diborgol ke pinggir tempat tidur yang terbuat dari besi.
"Tapi Dimitri sekarang sedang koma, dan menurut anak buahnya kau sempat mengancamnya," sahut pria berpakaian polisi itu menginterogasi Jun.
"Demi Tuhan aku tidak mengancam siapa pun. Masalahnya, anak buah Dimitri itu tidak bisa berbahasa Indonesia. Mereka tidak tahu apa yang aku katakan padanya. Dimitri dan keluargaku itu ada hubungan bisnis. Kami dekat seperti teman," ungkap Jun tentang hubungannya dengan Dimitri. "Kalau kalian tak percaya, kalian bisa tanya sekretaris ayahku di Singapura. Orang tuaku sedang dalam perjalanan bisnis keluar negri. Mereka susah dihubungi."
"Masalahnya, pihak Dimitri tetap menuntut Bapak karena ingin membunuh Dimitri, dan CCTV di tempat itu mendukungnya."
"Demi Allah, ya ampun ... Biarkan masalah Dimitri aku selesaikan sendiri. Sekarang yang penting periksa darahku sekarang juga, karena campuran minuman itu membuatku mabuk dan menabrak orang."
"Ok, kalau begitu kami akan periksa, tapi untuk sementara anda diborgol dulu di tempat tidur."
"Hei, aku tidak akan lari, kenapa kau tidak melepaskanku? Aku ini pasien di sini." Jun tak habis pikir dengan petugas kepolisian yang baru itu. Pria itu kurang fleksibel.
"Karena pihak Dimitri masih mempermasalahkan maksud Bapak menabrak Dimitri."
"Astaghfirullah alazim ... demi Tuhan itu murni kecelakaan. Seharusnya pihak karaoke dan bar itu melarangku menyetir. Itu saja bisa membuat tempat itu ditutup untuk sementara, karena terjadinya kecelakaan itu ada dilingkungan bar."
"Memangnya begitu ya, Pak?"
"Tentu saja begitu!" bentak hakim itu lagi. Kepalanya berdenyut hingga ia memicingkan mata menahan sakit. Kenapa polisi mengirim orang yang tidak kompeten di bidangnya ke tempat ini? Astaga ....
Jun gemas dengan polisi muda itu yang banyak tidak mengerti di banding mengertinya tentang tugas yang diemban. Polisi itu harus menggunakan nalar saat menginterogasi sehingga bisa menahan orang yang tepat.
Tak lama orang-orang itu pergi dan mereka akhirnya melepas borgol Jun. Pria berbrewok tipis itu akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Kepalanya masih pusing dan sedikit mengantuk.
Seorang dokter berjas putih masuk ke dalam kamar perawatan itu. Ia membetulkan letak kacamatanya sebelum mendatangi pasien itu.
Jun menoleh sekilas. "Oh, dok." Ia masih memijit dahinya yang masih pusing. "Apa dokter sudah mengambil tes darahku? Itu diperlukan untuk laporan selanjutnya pada polisi." Hakim itu berusaha membuka matanya yang sedikit terpicing.
"Sudah, tadi saat kamu tidur. Sepertinya kamu diberi obat tidur juga dalam minuman, karena setelah kau sadar kau tetap tidur ketika memarmu diobati. Ini sangat tidak masuk akal karena kamu mendengkur."
"Oh, begitu."
"Mmh."
"Tapi kenapa kepalaku masih pusing, dok?"
"Itu adalah efek alkoholnya. Mungkin kamu minum banyak."
"Aku tidak minum banyak, dok. Aku dijebak."
__ADS_1
"Berarti kamu diberi minuman alkohol dosis tinggi."
"Mmh, mungkin."
Dokter itu masih memperhatikan Jun. Ia berdehem sebentar dan mengulurkan tangannya. "Kenalkan, nama Saya Doni."
Hakim itu meraih tangan dokter itu. "Iya. Jun. Junimar."
"Iya, semua orang tahu siapa dirimu. Oya, aku rasa kau tahu siapa orang ini." Dokter itu menyodorkan selembar KTP pada Jun.
Hakim itu mengambilnya. Ia terkejut hingga bangkit dari tidur melihat KTP itu. "Ah ...." Kepalanya masih pusing karena tiba-tiba bangkit, tapi itu KTP istrinya. "Ba-bagaimana kau bisa mendapatkan ini?" Ia mengangkat kepalanya menatap dokter itu. "Di mana kau temukan ini?" Ia memperhatikan pria itu baik-baik. Dokter itu terlihat tenang. "Kau mengenalnya?"
"Apa hubunganmu dengannya?"
"Tentu saja. Dia istriku!" sahut hakim itu pasti. Tidak ada yang perlu ditutupinya lagi. Kalau perlu, ia akan mengumumkan pada dunia kalau mereka sudah menikah.
"Tapi, ia ingin mengajukan cerai."
"Apa?" Jun terlihat syok!
"Jadi aku kemari untuk memintamu menceraikannya."
Jun masih melongo, tapi kemudian ia sadar. "Atas dasar apa ia minta aku menceraikannya?"
"Apa? Aku tidak selingkuh. Kata siapa aku selingkuh?" Hakim itu memicingkan matanya sebelah karena kesal.
"Kau memikirkan wanita lain, apa itu tidak selingkuh?"
"Apa kalau aku memikirkan ibuku, itu juga dinamakan selingkuh?"
Doni membulatkan matanya. "Memikirkan ibumu?"
"Sudahlah. Ia tidak punya alasan yang jelas. Coba bawa ke sini, dia. Dia istriku. Aku tak mungkin melakukan hal-hal seperti itu padanya. Apa selama ini dia bersembunyi di tempatmu?"
Dokter itu terlihat bingung. Keduanya terlihat sangat meyakinkan dengan argumennya masing-masing. Siapakah di antara mereka yang berbohong? "Tapi dia tidak mau menemuimu. Dia hanya ingin kau menceraikannya."
"Bagaimana aku akan menceraikannya bila tak bertemu dengan orangnya? Lagipula, kalau bisa diperbaiki, kenapa tidak?"
Kata-kata hakim itu ada benarnya. Khati tak bisa dicerai bila tak ada orangnya. Terpaksa dokter itu harus membawa Khati menemui Jun.
"Bagaimana kalau aku mendatanginya?"
__ADS_1
"Eh, tidak bisa karena di luar, kamar ini dijaga oleh polisi. Kau tak boleh pergi."
"Ah, sial!"
"Biar aku bawa dia ke sini."
"Apa dia sudah ada di sini?" Jun membelalakkan matanya.
"Eh, iya. Tunggu sebentar." Dokter itu pun pergi.
Jun begitu rindu. Sambil menunggu, ia teringat lagi, masa-masa bersama. Kenapa ketika mereka punya kesempatan bertemu malah sang istri minta cerai. Apa salahnya? Ia merasa belum pernah berselingkuh dengan siapa pun selagi bersama dengan Khati.
Pintu dibuka. Dokter itu datang bersama seorang wanita yang bersembunyi di belakang punggung dokter itu. Jun coba mengintip tapi sulit. Wanita itu selalu menyembunyikan kepalanya di punggung dokter itu sambil menunduk. Namun sekilas memang wajahnya sama sekali berbeda. Wajah wanita itu sama sekali tak dikenalinya.
Tubuhnya juga sedikit gemuk. Jun kembali ingat pertemuannya pertama kali dengan Khati. Postur tubuhnya persis seperti sekarang. Tingginya pun sama. Bedanya wanita ini menggunakan jilbab instan dan sekilas terlihat punya wajah berbeda. Ya, sang istri telah merubah wajah menjadi orang lain sehingga pantas saja ia tak mampu menemukannya.
"Khati ...." Panggil Jun lembut pada wanita itu. Ia berusaha mengintip wajah wanita itu, tapi wanita itu terus menghindar. Doni merasa tubuhnya menjadi tempat permainan kucing-kucingan mereka berdua hingga ia menghela napas pelan.
"Khati, Sayang. Kenapa kamu tiba-tiba pergi?" bujuk Jun pada istrinya.
"Ceraikan saja aku, Mas. Aku tidak ingin kembali," sahut wanita itu masih dari balik punggung Doni.
"Untuk apa? Aku tidak punya alasan untuk menceraikanmu."
"Mas 'kan udah janji!" Tanpa sengaja, wanita itu memperlihatkan wajahnya karena kesal.
Jun melongo melihat wajah sang istri sekarang, tapi ia segera mengenalinya dari kedua bola matanya yang tampak sendu. Ya, wanita ini benar-benar sang istri yang selama ini dicarinya. Khati kini mempunyai wajah yang tampak biasa-biasa saja. "Inikah wajahmu sekarang, Sayang?"
"Sudah, jangan merayuku," pinta Khati hampir menangis. "Ceraikan saja, aku. Kau 'kan sudah janji."
"Janji?"
Khati mengeluarkan selembar kertas yang dulu ia tandatangani. "Ini. Ini janji kita dulu."
Jun terkejut sang istri bisa menemukan kertas itu. "Tapi aku tidak pernah membuat surat itu, Sayang."
"Tapi kau berjanji padaku ...." Khati gemas dan hampir menangis.
"Aku 'kan bilang terakhir, aku ingin membicarakannya. Kenapa kau begitu berkeras ingin bercerai dariku, Sayang. Apa alasanmu?"
"Karena aku ingin menikahinya," sahut Doni lantang.
__ADS_1
____________________________________________