Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Kabur


__ADS_3

Wanita itu membunuh Sofia? Jadi aku hanya kambing hitam mereka? Betapa lucunya hidup ini. Jadi aku dituduh membunuh karena aku. Eh, bukan. Karena Julia, dan dia sekarang enak-enakan entah di mana. Mas Jun ... Mas Jun melindunginya! Aku harus beri tahu ini pada dia, tapi HPku disita Damar. Ah!


Khati yang menuruni eskalator bersama Damar, melirik ke arah restoran tempat Jun berada. Tentu saja suaminya tidak tahu kalau ia dibawa oleh mantan suaminya tapi ia teringat kata-kata sang suami kalau ada mata-mata suaminya yang akan memata-matai mereka di tempat umum. Khati melihat ke sekeliling. Tempat itu cukup ramai, tapi ia berharap benar ada mata-mata suaminya yang melihat ia bersama Damar.


Jun yang sedang menunggu sang istri kembali, terlihat gelisah. Ia sedang menebak-nebak apa yang terjadi di toilet ketika ponselnya berbunyi. "Ya?"


Kedua bola matanya membulat sempurna membuat ia seketika berdiri. "Ikuti mereka dan beri tahu perkembangannya padaku." Setelah berkata begitu, ia mematikan ponselnya. Ia berpikir sebentar dan kemudian beranjak ke kasir.


Khati dimasukkan ke dalam mobil Damar. Pria itu duduk di sebelahnya, menyetir. Ia membawa mobil itu keluar dari area mal. "Ingat, jangan coba-coba lari atau aku akan melaporkanmu pada polisi," ancam Damar lagi. Pria itu menoleh pada Khati dengan tersenyum miring.


Wanita itu hanya memberi wajah datar. Kamu yang bodoh, Damar. Kamu pikir, kamu berhadapan dengan siapa? Kalau kau melaporkan Julia, itu malah lebih bagus lagi, jadi aku tak perlu mengotori tanganku untuk memasukkan kalian berdua ke penjara.


Khati memutar wajahnya ke jendela. Wajahnya berubah sedih. Sekarang aku harus bagaimana? Setelah semua ini berakhir, haruskah kita bercerai? Sepertinya waktunya sudah dekat dan ... apa ... tidak ada salahnya 'kan kalau aku mencoba mencari tahu apa reaksi Mas Jun bila aku hamil, karena dia berhak tahu. Walau kecil kemungkinan ia mencintaiku. Haruskah aku menerima lagi pria yang terpaksa mencintaiku? Ah, kenapa sih waktu itu Mas Jun tergoda denganku, dasar payah!


Damar bisa melihat raut wajah Khati dari pantulan kaca jendela di samping sang wanita. Terlihat sekali kesedihan di wajahnya. Damar tak peduli. Yang terpenting, kini ia bisa membawa Julia bersamanya.


Khati mengerut alis. Pemandangan jalan menuju arah luar kota. Apa ia salah? "Damar, kita ke mana?"


"Tentu saja membawamu pergi jauh dari sini."


"Bagaimana kalau suamiku mencariku?"


Pria itu tertawa. "Aku tak peduli. Aku jadi buron pun aku tak peduli. Yang penting, aku sudah membawamu!" Damar terlihat nekat. Ia sepertinya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kemudian. Kemarahan dan rindu telah membuatnya kalap.


"Damar, apa kau tak takut ditangkap? Suamiku bisa ...."


Pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari samping kursinya. "Kau pikir aku tak punya persiapan."


"Damar ...." Khati terkejut.


"Aku akan berjuang hingga tetes darah penghabisan," imbuh Damar lagi. Ia tersenyum lebar, entah untuk apa. Untuk kemenangan sesaat atau nasib tragis kehidupan cintanya.


Sang wanita menatap pria itu. Apakah ini Damar yang sesungguhnya? Ia hampir tak mengenalinya. Kenapa ia bisa jatuh cinta dengan pria seperti ini dulu, tapi Damar yang dulu memang tidak seperti ini. Khati seperti bertemu dengan orang lain.

__ADS_1


Dulu pria ini adalah pria lugu dan baik hati. Apa cintanya pada Julia mampu membuatnya jadi seperti ini? Sayang sekali, Julia yang asli bahkan tidak peduli dan pergi entah ke mana, batin Khati.


Setelah berjalan cukup lama, mobil kemudian berhenti di area dekat pom bensin. Pria itu memilih parkir di sudut yang tertutup oleh mobil lain.


"Kenapa kita di sini? Kamu mau belanja atau atau mau isi bensin?" tanya Khati heran.


Pria itu melepas seatbelt-nya. "Tentu saja mau berduaan denganmu," sahutnya tersenyum tipis. Ia bergerak ke arah sang wanita.


"Apa? Jangan main-main, Damar. Aku ini sudah menikah!" Khati ikut-ikutan membuka seatbelt agar ia dapat menghindar, tapi tangan pria itu sudah mencapai sangkutan seatbelt di dekat kepala wanita itu. "Damar, hentikan! Aku sudah tak menginginkannya lagi!" Khati sudah terpojok dan kepalanya sudah bersandar ke belakang.


Damar tersenyum dengan seringainya. "Kenapa tidak kita coba lagi sebagai pemanasan."


"Damar!" Jantung Kathi berdetak kencang.


Tiba-tiba terdengar ketukan dari jendela. Keduanya menoleh. Pria itu mendengus kesal. Seorang pria berdiri di depan pintu mobil Damar yang tak terlihat kepalanya. Pria berkacamata itu terpaksa membuka jendela dan mengintip keluar. "Ada apa?"


"Oh, maaf, Pak. Bapak parkirnya terlalu ke pinggir. Saya gak bisa buka pintu mobil Saya, Pak." Rupanya anak muda itu adalah pemilik mobil di sebelahnya.


Saat itulah Khati keluar.


"Julia, kau ke mana?" Damar meraih tangan sang wanita.


"Eh, beli minuman," ucap Khati asal.


"Tunggu, aku titip belikan roti dan minuman. Ini uangnya." Pria itu mengeluarkan kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada sang wanita.


"Nomornya?"


Pria itu menyebutkan nomornya. Khati kemudian mendatangi minimarket di pom bensin itu. Sebelum masuk, ia menoleh pada mobil Damar yang terparkir di sana. Kemudian ia memutar kepalanya ke arah jalan raya. Tiba-tiba sebuah angkot berhenti di samping pom bensin karena ada yang naik di sana.


Khati terpikirkan kabur. Ia bergegas ke arah angkot itu tapi tiba-tiba seorang wanita menghalanginya. "Hei, kenapa berdiri di depanku!" Ia mendorong wanita itu ke samping tapi sang wanita malah meraih tangannya.


"Jangan takut, Bu. Kami orang-orang Pak Jun," sahut sang wanita berambut sebahu itu.

__ADS_1


"Apa?" Khati terkejut. Orang-orang suaminya ternyata ada yang wanita.


"Ayo, ikut aku, Bu."


Khati mengikuti wanita itu, tapi ternyata Damar menyadari Khati berusaha kabur. Ia melihat Khati bersama wanita itu. "Julia!"


Khati terkejut. "Mbak, dia punya pistol, Mbak." Ia memberi tahu sang wanita.


"Ayo, sini. Ikut aku, Bu."


Keduanya berlari ke arah sebuah mobil sedan hitam. Di sana seorang pria telah menunggu. "Andre, pria itu punya pistol."


"Ok, tunggu di sini." Pria itu turun dari mobil. Ia berjalan ke arah Damar.


Damar yang sudah keluar dari mobil dan mengejar Khati, berbalik arah demi melihat pria itu datang mendekat. Ia kembali ke mobil dan mengambil pistolnya. Pria tinggi kurus itu dengan cepat bergerak, berusaha melumpuhkan Damar dan terjadilah perebutan senjata di sana.


Terdengar suara letusan yang membuat panik orang-orang yang berada di pom bensin hingga berlarian menjauh. Orang-orang pemilik motor dan petugas pom. Hanya mereka yang memiliki mobil saja yang menunduk, seperti Khati dan wanita itu yang menunduk di samping mobil. Untunglah drama itu cepat selesai dengan tanpa seorang pun terluka. Damar dapat diringkus dan polisi datang kemudian. Tak lama Jun datang bersama asistennya.


"Mas."


Jun turun dari mobil dan mendatangi sang istri. Ia memeluknya. "Kau tak apa-apa, Sayang?"


Khati mengangguk. Asisten Jun juga ikut turun.


"Sepertinya, kita terpaksa memenjarakan Damar dengan kasus membawa lari istriku," sahut Jun pada asistennya.


"Tidak. Dia sudah mengatakan siapa pembunuhnya," ucap Khati pada suaminya.


"Siapa?" tanya Jun terkejut.


"Julia."


Hakim itu syok! "Be-benarkah?" Kakinya terasa lemas, tubuhnya lunglai. Ia melepas pelukannya pada sang istri.

__ADS_1


__ADS_2