
"Bu, jangan bicarakan itu. Aku ingin ia berhenti dari pekerjaannya sebagai model, Bu," sahut Jun yang bermaksud menolong sang istri.
Oh, ide brilian, sorak Khati dalam hati.
"Lho, memangnya kenapa? Karirnya bagus kok!" seru Ibu.
"Aku ini hakim, Bu. Aku tidak ingin lingkungan dan keluargaku dikelilingi hal-hal yang buruk karena akan mempengaruhi jabatanku. Seorang model lingkungannya sangat dekat dengan yang namanya 'perselingkuhan' dan narkoba. Aku ingin nama istriku bersih, karena itu aku ingin ia berhenti bekerja." Saat pria itu menyebutkan kata 'perselingkuhan', ada emosi yang ia coba tahan dan untungnya tak ada yang curiga.
"Oh, lalu ia akan jadi ibu rumah tangga?" tanya ibu dengan lembut. Ia tipe wanita yang tidak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya sehingga amat disayangi kedua anaknya.
"Tidak juga." Jun menoleh ke arah istrinya. "Kalau ia ingin bekerja, tidak masalah bagiku, asalkan lingkungannya terlindungi."
Khati tersenyum manis. Rasanya, bahagia sekali pria itu karena sudah lama tak melihat senyum manis sang istri. Seperti mendapat durian runtuh, amat menyejukkan. Ia menggenggam tangan sang istri karena senang.
"Mmh, bagaimana dengan kamu, Julia?" ibu beralih memandangi istri Jun kembali.
"Mmh, ya ... sedang aku pikirkan."
"Jangan lama-lama pikirnya, nanti terlanjur hamil lho!"
Khati tersenyum dan melirik sang suami. Pria itu tersenyum seadanya. Sepertinya menghindar dengan melihat ke arah lain.
"Ayah!" Max kembali datang bersama seorang pria bule berambut klimis. "Mr. Gard ada yang mau ditanyakan ke Ayah," sahutnya.
Melihat itu, Jun menarik sang istri dari sofa itu. "Eh, Bu. Aku makan dulu ya," pamitnya pada Ibu.
Ibu Jun mengangguk. Pria itu membawa istrinya ke meja besar itu untuk mencari makanan. "Kau mau apa, Sayang?"
"Mmh, sebentar." Khati memperhatikan satu-satu makanan yang ada. Jun membawakan minuman untuknya. "Terima kasih." Ia kemudian mengambil lasagna dalam jumlah sedikit.
"Jun, how are you? (apa kabar?)" Seorang pria bule menegur Jun.
"Oh, Reno?" Jun tersenyum sambil nepuk bahu temannya yang sudah lama tak bertemu. Ia kemudian memperkenalkan Khati pada Reno. "This is my wife. (ini istriku)"
Khati dan Reno bersalaman.
"Lovely. (cantiknya)"
Khati kemudian tersenyum mendengar pujian teman Jun itu. Pria itu kemudian sibuk mengobrol dengan temannya sementara sang istri mencari tempat duduk untuk makan. Ia menemukan meja kecil di taman belakang dan duduk di sana.
Suasana di taman juga ramai. Karena malam, ada beberapa lampu yang sengaja digantung di sebuah pohon tinggi dekat kolam renang. Di bawahnya ada beberapa meja yang dipenuhi para tamu undangan. Khati memperhatikannya dari tempat ia duduk, di dekat pintu belakang.
"Eh, maaf, Nona."
Khati menoleh. Seorang pria asing, sepertinya orang Rusia karena bahasa Indonesianya terdengar kental dialek Rusia, berdiri di sampingnya membawa makanan. Pria tinggi kurus dengan rambut hitam legam itu tersenyum padanya. "Boleh aku makan di sini?"
Khati melirik tempat lain tapi terlihat penuh.
__ADS_1
"Eh, kursinya ada yang punya ya?" Pria itu menjawab sendiri pertanyaannya dengan raut kecewa.
"Eh, tidak apa-apa. Silahkan," sahut sang wanita yang berpakaian kuning keemasan itu dengan wajah datar.
Senyum simpul kembali pada wajah pria itu dan ia duduk di samping Khati. Tentu saja wanita itu jadi terlihat sungkan tapi ia tidak bicara apa-apa. Ia hanya meneruskan makannya.
"Eh, maaf. Ini saya bicara dengan nona atau nyonya ya?"
"Nyonya," sahut Khati singkat.
"Ah, sayang sekali. Anda sudah menikah ya? Memang kalau cantik biasanya sudah menikah ya," gumam pria itu lagi.
Khati menatap pria itu. Sang pria berhidung mancung dengan alisnya yang tebal. Wajahnya tidak tampan, tapi juga tidak buruk dengan pakaian jas tipis berwarna abu-abu dengan kemeja putih.
"Kenalkan, namaku Dimitri." Pria itu menyodorkan tangannya.
Khati menyambut tangan pria itu dengan enggan. "Julia."
"Apa kamu datang bersama suamimu?"
Wanita itu berhenti mengunyah.
"Eh, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya ingin teman ngobrol saat makan. Syukur-syukur bisa berbisnis bersama."
Khati lega mendengarnya. Ia meneruskan makannya.
"Model."
"Mmh ... apa kau tak ingin berbisnis?" Dimitri mulai menyendok makanannya. "Bosku punya banyak bidang usaha. Aku bisa merekomendasikanmu bekerja dengannya atau kau mau buka usaha sendiri?" Ia menyuap makanannya.
"Mmh, boleh juga." Khati mulai tertarik.
"Kau tertarik bidang apa?"
"Bosmu itu punya usaha apa saja?" Khati mulai penasaran.
"Halo cantik!" Tiba-tiba Max hadir di antara mereka.
"Oh, Max." Sang wanita menatap kakak Jun, pria tinggi jangkung itu. Pria ini seperti punya energi lebih, ke sana kemari menyambut tamu padahal ia adalah kakak Jun. Berbanding terbalik dengan Jun yang kalem dan tenang.
"Kamu sedang apa?"
Khati bingung menjawab pertanyaan Max. "Makan?"
"Oh, ini istri, Bapak?" tanya Dimitri pada Max.
"Oh, bukan. Iparku."
__ADS_1
"Oh, begitu. Berarti istri Pak Jun ya?" Ternyata Dimitri mengenal Jun.
"Iya, betul. Mereka baru menikah."
"Oh, pantas saja ... tapi mereka terlihat cocok."
Cocok apanya ... Mas Jun telah menipuku. Walau hanya berucap dalam hati, wanita itu mau tak mau jadi cemberut.
"Kau sudah makannya?" tanya Max lagi pada Khati.
"Mmh, iya."
"Ayo ikut aku!" Max langsung menarik lengan Khati.
"Eh, ke mana?" Khati dibawa ke sebuah meja besar dekat kolam. Meja besar itu pun sama dengan meja besar yang ada di dalam rumah, penuh dengan makanan.
"Ayo, kau mau makan apalagi?"
"Aku tidak bisa banyak-banyak makan kalau malam, Kak Max," sahut sang wanita dengan senyum lebar. Ia tak menyangka kalau pria itu sangat sopan walau terkesan genit.
"Wah, jangan begitu dong! Kami 'kan jarang mengadakan pesta, dan kau tamu istimewa kami."
"Minum saja Kak Max." Khati mengambil sebuah gelas berwarna biru, untuk menyambut tawaran pria itu.
"Oh, jangan yang ini. Ini ada alkoholnya." Max menggantinya dengan minuman berwarna kuning. "Ini jus jeruk dengan sedikit soda."
"Terima kasih."
"Bagaimana kau mengenal Jun?" tanya pria itu lagi.
"Eh, dia datang padaku," sahut sang wanita sambil meneguk minumannya.
"Benarkah? Wow! Berarti dia sudah mengincarmu!"
Khati mengerut kening. Benarkah?
"Sayang!" Tiba-tiba sebuah lengan kokoh melingkar di pinggang wanita itu, membuat Khati terkejut. Ternyata Jun datang memeluknya dari belakang. "Kamu tidak digodanya 'kan?" Wajah tampan pria itu muncul di samping wajah Khati, membuat wanita itu tersipu.
"Aduh, posesif," imbuh Max yang kemudian tertawa.
"Kamu bawa ke mana saja istriku, dari tadi ngak kelihatan!" cecar Jun pada kakaknya. Sepertinya ia tak rela Max membawa istrinya ke mana-mana.
"Mas, aku baru bertemu kakakmu. Aku tadi makan," terang Khati pada sang suami. Ia tidak mau gara-gara dirinya, mereka bertengkar.
"Tuh, lihat sendiri apa kata istrimu!" sahut Max yang kesal dicurigai.
"Julia, kamu jangan jauh-jauh. Aku bingung mencarimu," gerutu Jun dengan manja.
__ADS_1