
Terdengar bel berbunyi hingga ke kamar Khati. Wanita itu segera memakai jilbab instannya, sambil melirik bayi Erlangga yang masih tertidur nyenyak. Ia melangkah ke pintu depan dan membukanya.
"Dokter Doni?" Wanita itu terkejut.
Pria itu membawa kembali parcel buah di tangan. "Ini untukmu."
"Eh, ya ... terima kasih. Ada apa ya, dok?" Khati menerima parcel buah itu di tangan.
"Eh, tak enak rasanya bicara di depan pintu." Pria itu seperti ingin bicara banyak.
"Sebenarnya, hanya ada aku sendiri di rumah. Eh, Saya buka saja pintunya gak papa 'kan, dok?"
"Eh, iya. Tidak apa-apa."
Wanita itu kemudian membawa dokter itu duduk di sofa ruang tamu. Dokter itu melihat rumah yang cukup besar itu. "Ini kos-kosan?"
"Sewa kamar, tepatnya, dok. Ada apa ya, dokter datang ke sini? Apa ada pembayaran biaya bersalin yang kurang?" Khati cukup terkejut dengan kedatangan dokter itu ke rumahnya, karena persalinannya sudah sebulan terlewati.
"Oh, tidak. Aku hanya ingin tahu kabarmu."
Wanita itu mengerut dahi. "Kabarku baik-baik saja, dok. Saya juga memeriksakan keadaan bayi Saya ke puskesmas terdekat, jadi tidak pergi ke rumah sakit."
"Bagus itu."
"Iya."
Mereka terdiam sejenak.
"Eh, biar aku buatkan minumnya dulu ya, dok?"
Pria itu tak membantah membuat Khati bingung dengan kedatangan dokter itu di rumahnya. Tak lama, wanita itu datang dengan secangkir teh hangat di tangan. Ia meletakkannya dekat dengan dokter itu. "Jadi ada apa ya, dok, sampai repot-repot membawa parcel buah untuk Saya." Kembali ia mengulang pertanyaan.
Pria berkacamata itu seperti bingung memulai, tapi kemudian ia paksakan diri untuk bicara. "Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Pertama kali aku melihatmu, aku pikir kamu hanya seseorang yang mengingatkanku pada almarhum istriku. Jadi ketika kamu pergi aku berusaha untuk tidak mencarimu, tapi aku merasa kehilangan. Aku berusaha bertahan tapi tak bisa, aku ingin bertemu denganmu."
Jawaban jujur dokter itu membuat Khati tercengang. Ia pun bingung harus menjawab apa. "Dokter, Saya sudah punya suami."
"Tapi suamimu tidak bertanggung jawab. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian tapi aku tertarik padamu. Apa, kau mau menikah denganku?"
Keterusterangan dokter itu membuat Khati makin terperangah. Pria itu melamarnya. "Dokter ... a-aku ...."
"Kalau kau mau, aku akan memperjuangkanmu. Kita bukan anak muda dengan masa lalu tentang sekolah dan teman. Kita punya masa lalu pernah punya pasangan dan kita tahu menikah itu seperti apa. Kini kita mencari pernikahan yang benar-benar menyejukkan. Bukan begitu, ibu Anna? Eh, bolehkah aku memanggilmu, Anna saja?"
__ADS_1
Walaupun terlihat lembut, pria ini ternyata bicara langsung ke tujuannya. Ia seperti yakin, wanita itu mau menikah dengannya. "Dokter, masa laluku tidak sesederhana itu."
"Itu tidak penting, karena dalam hidup yang akan kita ubah adalah masa depan bukan masa lalu. Jadi petik saja masa lalu sebagai pelajaran untuk masa depan."
Khati kehabisan kata-kata. Ia masih terkejut dilamar pria itu.
"Anna, aku menyukaimu dan aku merasa kau menyukaiku juga."
"Tunggu dulu, dok."
"Panggil saja, Doni."
"Doni."
"Terima kasih." Pria itu tersenyum senang.
Khati semakin bingung dengan senyum pria itu. "Doni, hubunganku dengan suami rumit. Aku tidak ingin kamu terlibat di dalamnya."
"Kenapa kau ceritakan ini? Berarti kau menyukaiku 'kan?" tanya pria itu memastikan.
Memang Doni pria yang cukup tampan. Kulit putih dan hidung mancung dengan alis tebal, sekilas seperti pria Korea tapi Khati tak ingin bermain api lagi. Selama statusnya masih menikah dengan Jun, ia hanya ingin membesarkan Erlangga dan tak ingin menikah lagi. Ia pasrah dengan hubungannya yang tak jelas ini sebab dalam hatinya, posisi Jun tak bisa tergantikan.
Terdengar suara tangisan bayi. Erlangga ternyata sudah bangun. Pria itu langsung beranjak berdiri. "Aku serius, Khatijah. Tolong pikirkan lagi. Aku pamit dulu, nanti aku datang lagi."
"Eh, tapi ...."
Pria itu bergegas pergi. Khati tak bisa berbuat apa-apa selain melihat pria itu pergi dengan mobil sedannya. Setelah menutup pintu, ia bergegas ke kamar.
Kemudian hari-hari dilalui dengan kunjungan dokter itu yang tak tentu waktu. Kadang siang, kadang malam, kadang setelah berhari-hari ia kemudian muncul. Lita dan teman-teman kos yang lain mulai tahu karena sering melihat pria itu datang.
Bagaimana tidak, karena pria itu datang dengan membawa seikat bunga mawar. Teman-teman sesama teman kos bahkan sering menggoda Khati, karena hanya dialah di rumah itu yang dikunjungi pria sementara yang lainnya masih jomblo.
"Sudah, terima saja Anna. Lumayan, ganteng lho!" sahut salah seorang teman wanitanya yang kemudian masuk kembali ke kamar.
Kini tinggal Lita dan Khati yang berada di ruang makan. Khati cemberut sambil mengacak-acak gado-gadonya. "Menurutmu, aku harus bagaimana, Lit?"
"Lho, kok tanya aku? Kamu mau gak sama dokter Doni?"
Khati masih menggulung bibirnya.
"Lalu nanti anakmu besar, bagaimana? Kamu sampai sekarang belum bikin akte kelahirannya lagi. Cepat saja, nanti repot kalau anakmu mau masuk sekolah."
__ADS_1
Itulah masalahnya. Khati tidak punya KTP, jadi sulit membuat akte kelahiran, tapi bagaimana kalau nanti anaknya sekolah?
"Perbaiki hidupmu, Anna. Paling tidak demi anak. Anakmu butuh figur ayah. Bagaimana kalau nanti dia besar. Jangan biarkan statusmu seperti ini."
Ya, ia tak bisa buat KTP baru karena ia tidak punya data pendukung selain data nama aslinya, Khatijah. Ia juga tak bisa buat KTP atas nama Anna juga karena tak punya data pendukungnya juga. Mau tak mau ia harus bercerai dengan Jun agar ia punya data Khatijah.
Ya, ia harus kembali jadi Khatijah karena itu memang dirinya. Ia tak bisa bersembunyi selamanya. Ia harus menghadapi ini agar orang-orang yang mencarinya bisa bertemu lagi dengannya. Pamannya, orang-orang di kantor dan orang-orang di rumahnya.
Bukankah ia tak punya kesalahan apapun? Kenapa ia takut menghadapi kenyataan, hanya karena tidak ingin bertemu Jun? Toh, ada Doni yang mendampinginya. Ya, ia akan menikah dengan Doni.
"Doni, 'kan bukan pilihan buruk. Iya 'kan?"
Mudah-mudahan Doni bisa menerima siapa diriku yang sebenarnya!
-------------+++------------
Dokter Doni datang kembali membawa seikat bunga mawar merah. Ia mendatangi rumah itu di malam hari ketika semua penghuninya ada di rumah.
"Anna, doktermu sudah datang," ledek Vita pada Khati. Ia bersiul-siul sambil meninggalkan kamar.
Khati yang baru selesai menyusui, terpaksa membawa Erlangga karena bayi itu belum mau tidur. Doni senang melihat Khati membawa bayi mungil itu keluar. "Ah, siapa ini? Belum tidur ya?"
"Belum, Don."
"Boleh aku gendong?"
Namun baru disentuh saja, bayi itu menangis. Doni tetap menggendongnya sambil tertawa. "Lho, kok anak cowok nangis sih? Ini Om yang biasa datang ke sini lho!" Karena terus menangis, terpaksa bayi itu ia kembalikan lagi pada Khati.
"Ada yang ingin aku bicarakan, Don. Bisakah kita duduk dulu?"
Doni meletakkan bunganya di atas meja. "Ini, Sayang, bunga untukmu."
"Iya."
Keduanya duduk. Khati menatap ke arah pria itu. "Don, bagaimana kalau aku selama ini tidak seperti yang kau lihat. Maksudku, aku menggunakan data palsu, dan aku tidak seperti yang kau duga selama ini."
"Jadi siapa dirimu yang sebenarnya?" Pria itu seperti sudah menduganya.
Khati mengeluarkan KTP yang selama ini disembunyikan di dalam tas yang sedang dipegangnya. Ia memberikan KTP itu pada Doni.
Pria itu terkejut. Ia menatap ke arah Khati dengan mata membola. "Kamu wanita ini? Khatijah Anhar? Wanita yang hampir terkena hukuman mati karena membunuh istri mantan suaminya?"
__ADS_1