Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Istriku


__ADS_3

Pria itu mengerut alis. "Kenapa jadi merasa tidak enakan? Ini 'kan memang tugasmu untuk menjadi Julia, iya 'kan? Kalau ia sudah dekat lagi denganmu, kau bisa menggali keterangan tentang apa yang terjadi pada malam pembunuhan itu."


"Iya, tapi ... ah ...." Khati bingung bagaimana cara menjelaskannya pada pria ini.


"Kenapa?"


"Walaupun Mas Damar itu mantan suamiku, tapi dia mantan, Mas. Dosa kalau aku berhubungan lagi dengannya. Aku 'kan sudah menikah dengan orang lain."


Jun tersenyum. "Kau menjaga perasaanku?"


"Itu ajaran orang tua dan pastinya aku tak terbiasa bermain api seperti ini," jawab wanita itu sambil tertunduk.


"Tapi kau tadi bisa dekat dengan Dimitri, bagaimana?" sindir pria itu.


"Itu beda, Mas. Dimitri menawarkan pekerjaan sedang Mas Damar jelas-jelas meributkan soal pernikahan. Ini dua hal yang berbeda, Mas." Wanita itu mengangkat wajahnya dan terlihat sedih. "Aku masih bingung kalau harus berdekatan dengan Mas Damar lagi. Bila hanya urusan kantor, itu tidak masalah, tapi kalau urusan hati aku masih belum sepenuhnya siap."


Jun terkejut mendengar pengakuan sang istri soal perasaannya. "Sini, Sayang." Ia meraih tubuh kurus itu dalam pelukan. Ia baru menyadari Khati masih terluka akibat perceraiannya yang terdahulu.


Wanita itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Hangat. Hanya ini yang dibutuhnya saat ini.


"Maafkan aku ya, tapi ini takkan lama. Kamu harus tegar. Aku berjanji, segera setelah masalah ini selesai, aku akan menceraikanmu sehingga kau bisa kembali ke kehidupanmu yang dulu." Sang pria mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


Khati hampir meneteskan airmata. Kenapa semakin sulit saja kepala ini berkompromi soal kata perceraian. Apa tidak ada satupun alasan yang bisa untuk menyelamatkan pernikahan ini?


Sementara itu, Jun pun merasa sesak. Semakin hari ia semakin kehilangan alasan untuk menceraikan Khati. Wanita itu terlalu sempurna. Karena itu ia ingin memilikinya.


---------+++-------


Pria berbrewok tipis itu tak bisa tidur. Matanya terpejam tapi pikirannya, entah ke mana. Ia sudah membolak-balikkan tubuhnya tapi tetap saja tak bisa tidur. Pikirannya masih terus menerawang mengingat Khati. Malam ini adalah malam terparahnya. Hasratnya tak bisa dibendung untuk tidur dengan wanita itu.


"Hah!" Pria itu terduduk di atas ranjang dengan pikirannya yang belum beralih. Ia merasa dirinya sudah gila. Jun menghela napas panjang.


Dia 'kan istriku? Kenapa aku tidak boleh menjamahnya? Secara agama juga pasti disarankan, iya 'kan?


Hening. Ia hanya berusaha membenarkan usahanya yang akan ia lakukan. Ia butuh pembenaran.


Dia harus melayaniku karena dia istriku. Lagipula dia menyukaiku karena wajahku ini, iya 'kan? Takkan mungkin dia menolakku. Oya, aku harus beli pengaman. Pria itu bergegas turun dari tempat tidur, dan berganti pakaian. Dengan menyetir sendiri, malam itu ia mampir ke sebuah mini market. Setelah mendapat apa yang diinginkannya, ia segera pulang.

__ADS_1


Namun ia kembali ke kamar. Ia sedang bingung mencari alasan yang tepat untuk bisa bermesraan dengan Khati. Pria itu mondar-mandir sambil memikirkan alasannya. "Hah!" Ia mengacak-acak rambutnya karena kesal.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia menjentikkan jarinya karena senang. "Brilian!" Jun kemudian keluar kamar dan mendatangi kamar Khati.


Pertama-tama ia merapikan bajunya dan memperbaiki suara. Ia kemudian mengetuk pintu. "Julia."


Untuk sesaat ia menunggu tapi tak ada yang membuka pintu. "Julia." Jun nekat dengan mencoba membuka pintu. Terbuka! Wanita itu tidak menguncinya! Padahal ini sudah larut malam dan wanita itu lupa mengunci pintu kamarnya.


Jun mengintip ke dalam. Khati tengah tertidur di atas ranjang. Astaga, dia lupa mengunci pintu. Bagaimana kalau ada orang jahat masuk seperti ... ehem diriku.


Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia seperti pencuri tapi ia tidak ingin meninggalkan tempat itu. Bahkan ia masuk dan menutup pintu. Ia mendatangi istrinya yang tengah lelap tertidur.


Diperhatikannya wajah sang istri yang terlihat lebih muda dari sebelumnya dan tampak lebih segar. Sejak menikah dengannya, wanita itu secara teratur berolahraga, diet dan makan makanan sehat. Mungkin karena itulah wanita itu tampak muda kembali dan sehat. Apalagi wajahnya tampak makin cantik saja setelah berhasil belajar merawat diri. Bagaimana mungkin pria ini tak tergoda, apa lagi, Khati adalah istrinya.


Apa ada larangan dia menyentuhnya? Tentu tidak 'kan? Dia sudah secara sah menikahinya dan sudah jadi miliknya jadi ...


Tangan pria itu menyentuh pipi sang wanita yang semakin putih karena jarang keluar rumah. Pipi itu terasa lembut. Ia kemudian mencoba menyusuri bibir indah itu tapi karenanya Khati terbangun. Cepat-cepat ditariknya tangan itu dari penglihatan.


Pelan, merasa terganggu, wanita itu membuka matanya. Terlihatlah manik mata lembut itu menatap ke arah sang pria. "Mmh? Mas Jun?" Dalam keadaan setengah sadar Khati terduduk. Rambut panjangnya yang agak bergelombang, sedikit berantakan di atas kepala. Justru saat itu sang wanita terlihat seksi. Walaupun matanya belum bisa terbuka seutuhnya, ia menyadari kehadiran sang suami di kamar itu.


Gemas rasanya pria itu melihatnya. Ingin ia memeluk wanita itu saat itu juga tapi berusaha ditahannya. Banyak hal yang terjadi di antara mereka yang membuat ia harus hati-hati bicara.


Dengan pelan, ia merapikan rambut sang istri dengan menyugarnya hingga ujung rambut. Wanita itu hanya menerima saja perlakuan itu dalam diam.


"Aku lupa menyampaikan sesuatu." Pria itu mulai bicara.


"Apa? Apa tidak bisa besok?" Khati mengerut dahi.


"Oh, soal itu juga aku mau bicara."


"Apa? Apa ada banyak yang ingin Mas sampaikan?"


"Besok aku akan keluar kota tapi paling lama aku menginap sehari. Paling cepat aku pulang agak malam, jadi jangan menungguku. Ada pekerjaan yang harus aku urus."


"Mmh, ya. Baiklah."


Kenapa tidak terlihat peduli? Jun sedikit kecewa. "Eh, oh ya. Ada yang ingin aku ingatkan padamu. Soal rekaman."

__ADS_1


Khati mengernyit dahi. "Rekaman? Rekaman apa?"


"Tolong saat bertemu dengan Damar, kau merekam percakapan kalian dengan HP agar bila ada informasi penting darinya, kita bisa mengarahkanmu. Rekaman itu juga berguna untuk menjadi saksi bila ada percakapan rahasia antara kamu dan Damar."


"Mmh, iya," jawab wanita itu dengan pelan menggangguk. Ia mengantuk. Setidaknya ia mendengar walau belum bisa mencernanya dengan baik. "Sudah, Mas?"


"Belum."


Khati mendengus kesal. "Apa lagi?"


Jun dengan hati-hati menyentuh jemari sang istri yang berada di atas tempat tidur. Itu membuat Khati terkejut. Pria itu menelan ludah dengan susah payah ketika ingin bicara. "A-aku ingin tidur denganmu."


"Apa?" Seketika mata wanita itu terbuka sempurna. Ia menyipitkan mata dan menarik tangannya dengan kasar. "Ini tidak sesuai dengan perjanjian, Mas. Oh ya, mana surat perjanjian itu. Aku 'kan harus mendapat kopinya?"


"I-itu ada kok." Jun tiba-tiba dongkol, istrinya mengingat surat itu. Ia harus memutar otak bagaimana cara mengakalinya lagi.


"Mana?" Khati menyodorkan tangannya.


"Tunggu, a-aku lupa taruh di mana," sahut sang suami pura-pura lupa.


"Ya, sudah. Carikan. Aku harus tahu, detailnya seperti apa. Kawin kontrak, 'kan?"


"Eh, i-iya. Mmh ...." Pria itu belum beranjak. "Jadi ... tidak bisa ya? Aku punya pengaman kok," bujuknya lagi dengan suara pelan.


"Apa?" Khati mengambil bantal dan memukuli sang suami dengan itu. "Kau selalu mengambil keuntungan dariku, Mas, aku benci kamu!"


"Ah!" Jun terpaksa berdiri dan menjauh tapi istrinya masih melemparinya dengan bantal-bantal itu.


"Aku benci kamu, Mas!"


"Julia ...."


Bantal terakhir mengenai pria itu walau sudah menghindar. Terpaksa ia keluar dari kamar itu. Ia lebih baik menghindar daripada melihat istrinya mengamuk seperti itu. Tubuhnya lemas. Ia menghela napas panjang. Sepertinya ia harus melewati malam panjang sendirian dengan hasrat membara ini. Ah, betapa tersiksanya.


__________________________________________


__ADS_1


__ADS_2