
Wanita itu segera menutupi perutnya, bukan ***********, membuat sang hakim muak melihat wanita ini.
"Aku rasa, suamimu salah memilih istri. Maaf, aku masih ada pekerjaan di luar, jadi aku pergi dulu." Tanpa meminta persetujuan sang wanita, Jun membuka kunci pintu lalu pergi keluar. Tinggal wanita itu yang panik karena sedang tidak berpakaian. Buru-buru ia mengunci pintu itu kembali dan berpakaian.
Pria itu menghampiri Todi. "Todi, di mana istriku sekarang?"
"Oh, sebentar, Pak. Saya telepon dulu." Pria muda itu mencari ponselnya.
"Beri tahu aku, karena aku sedang dalam perjalanan ke sana." Hakim itu meletakkan tangannya di dekat telinga dengan jari tengah terlipat ke dalam. "Telepon," katanya sembari keluar dari ruangan itu.
Todi mengangguk.
-------------+++-----------
"Julia!"
Khati menoleh, tapi ia tak mengenal siapapun di tempat ramai seperti itu. Siapa yang telah memanggilnya? Sepertinya wanita.
Seorang wanita berambut sebahu mendatanginya sambil memperhatikan wajahnya. "Julia, 'kan?" sahutnya lagi. Ia mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang ketat di tubuh cekingnya itu.
Khati tentu saja tidak mengenalinya. Siapa wanita ini? Ia perlahan membuka kacamata hitamnya.
"Ah, benar tebakanku. Julia, aku hubungi kamu berkali-kali tapi kenapa teleponmu tak diangkat? Sudah sebulan lebih aku mencarimu. Benarkah kau telah menikah dengan hakim Jun? Kenapa kau menghilang hingga satu setengah bulan ini? Ada apa denganmu?"
"Eh, a-aku ...." Aku harus jawab apa? Siapa wanita ini sebenarnya?
"Julia, kau harus ingat kontrakmu masih dengan kami. Kamu tidak bisa sembarangan pindah agensi."
Agensi?
"Kalau mengenai kontrak, kau harus bicara dulu denganku." Seorang pria bertubuh tinggi tegap tiba-tiba datang menghampiri.
Khati bersorak dalam hati. Suaminya datang. "Mas."
"Oh, Pak Jun." Wanita itu terlihat berusaha sopan pada pria itu. "Eh, begini, Pak. Sebelum menikah, Julia masih terikat kontrak dengan agensi kami, jadi kami cukup dirugikan karena istri Anda menghilang sekitar satu setengah bulan sedangkan ia sudah menandatangani kontrak untuk beberapa produk yang membutuhkan ia menjadi modelnya."
__ADS_1
"Mmh, begitu. Begini saja. Kita cari tempat yang enak untuk mengobrol." Netra pria itu melihat berkeliling. "Oh, mungkin di kafe itu. Ayo, biar aku dengar seluruh ceritamu."
Melihat penyambutan yang ramah dari Jun, wanita itu setuju dan ikut dengan mereka ke kafe yang ditunjuk pria itu. Mereka kemudian mengobrol di sana.
"Ibu mau minum apa?" tanya Jun menunjukkan simpatinya.
"Mungkin cappucino," sahut sang wanita.
"Mmh, ok. Cappucino 2. Sayang, kamu pesan apa? Apa kau bisa pesankan?" Pria itu beralih pada Khati.
"Mmh? Ok," jawab istrinya yang langsung memesan minuman. Selagi Khati memesan minuman, keduanya bicara.
Wanita itu mengeluarkan kartu nama. "Saya bekerja di agensi yang menaungi Julia. Mungkin istri Anda belum cerita. Namaku Magdalena."
Jun mengambil kartu nama itu. "Ia sudah menikah denganku dan aku berniat agar ia berhenti dari modeling. Apa ibu bisa kasih tahu caranya?"
Wanita berambut pendek itu terkejut mendengar penuturan pria itu. "Tapi dengan begitu, Julia harus membayar denda."
"Tidak masalah. Aku akan membayarnya," jawab Jun ringan.
Khati melirik dan terkejut.
"Tidak masalah. Aku akan bayar," jawab pria itu meyakinkan.
"Juga membayar denda dari produk yang sudah terlanjur ditandatangani yang mencapai ratusan juta karena merek terkenal."
"Baiklah. Hitung, berapa yang harus aku bayar," jawab Jun dengan santai.
"Eh, tunggu dulu!" Khati langsung menengahi. Keduanya menatap ke arahnya. "Mas, tidak bisakah kita setidaknya melakukan salah satunya? Membayar denda kontrak keseluruhan terlampau banyak. Aku 'kan masih bisa melakukan promo produk yang sudah ditandatangani?"
"Iya, betul. Julia bisa melakukan promosi produk dan kontrak dengan kami pun hanya tinggal satu tahun lagi. Kalau dikerjakan semua, Julia tidak perlu membayar apa-apa," imbuh Magda pada Jun.
Pria itu memandang ke arah kedua wanita itu dan tersenyum. Ia kemudian menjawabnya dengan singkat. "Tidak."
"Lho, Mas ...." Khati bingung dengan keputusan sang suami. Ia tidak enak pada Jun. Sudah ditolong keluar dari penjara, pria itu kini harus membayar denda dari masalah yang sebenarnya bukan ia yang timbulkan.
__ADS_1
"Aku sudah putuskan istriku tidak akan melanjutkan segala sesuatu yang berhubungan dengan modeling lagi. Kalaupun ada segala hutang piutang, biar semuanya aku yang bayar."
Khati syok! Kenapa pria ini mau menanggung uang sebanyak itu hanya demi agar ia tak diganggu lagi oleh mereka? Masalah itu bukan masalahnya tapi masalah Julia. Kenapa pria itu mau menghambur-hamburkan uang bila ia sendiri bisa meminimalisir pengeluaran? Bukankah pria itu memasukkannya ke kelas modeling agar ia bisa meniru Julia? "Mas ...."
Jun mengangkat telapak tangannya agar Khati berhenti bicara. Ia kembali pada Magdalena. "Bagaimana? Jadi berapa yang harus kubayar?"
Akhirnya Magda menerima keputusan Jun. Ia harus kembali ke kantor untuk menghitung jumlah denda dari kontrak yang sudah ditandatangani Julia. Setelah Magda pergi, barulah Khati bertanya lagi pada Jun soal keputusannya.
"Aku 'kan sudah bilang padamu di rumah orang tuaku di Singapura dulu, kalau aku akan menyuruhmu berhenti modeling," terang Jun pada sang istri.
"Iya, tapi 'kan aku tidak tahu kalau dendanya sebanyak itu. Kalau tahu begitu, 'kan aku tinggal lakukan saja jadi model produk itu, dengan begitu, Mas tidak perlu membayar denda."
"Tidak usah, tidak apa-apa." Pria itu berusaha menuntaskan masalah hingga sampai di situ.
"Mas." Wanita itu hampir menangis. "Aku tidak enak, Mas bayar sebanyak itu, Mas." Air matanya mulai jatuh. "Itu 'kan masalah Julia bukan masalahmu. Kenapa kamu mau membayar dendanya?" Khati merasa bersalah.
Padahal ia tak tahu, pria itu memang harus membayar denda itu agar Khati tak terlalu banyak jadi perhatian umum. Ia ingin wanita itu fokus dengan menjerat Damar dan menggali informasi tentang pembunuhan itu. Menjadikan Khati perhatian umum sama saja dengan bunuh diri. Penyamaran wanita itu riskan ketahuan, karena itu ia rela menebusnya demi keselamatan sang istri.
Jun menatap sang istri yang telah menitikkan air dan wajah mengiba. Ia menghapus air mata sang istri dengan kedua ibu jari dengan lembut. "Aku hanya tak ingin kamu khawatir terlalu banyak. Fokus dengan pekerjaanmu saja, ok?" sahutnya dengan lembut.
"Mas, nanti aku akan ikut bayar, ya?" ucap sang wanita yang masih berusaha menghilangkan isak tangisnya. Ia ingin berbagi. "Separuhnya aku sanggup bayar kok."
"Tidak usah. Ini adalah bagian dari tugas. Karena itu kamu tak perlu membayarnya."
"Kalau sampai setengah milyar, bagaimana?" Wanita itu terlihat khawatir.
"Mmh? Aku akan bayar." Pria itu mendekap istrinya erat. Walaupun Khati sanggup membayar seluruh denda, ia takkan pernah meminta uang itu dari sang istri. Cukup ia saja yang menanggungnya karena itu memang tanggung jawabnya, sebagai seorang suami juga seorang yang tengah meminta bantuan pada Khati.
Wanita itu kembali menyandarkan kepala pada dada bidang sang suami. Hangat dan menggoda. Menggoda untuk tetap tinggal tapi ia tak bisa lakukan itu karena pernikahan ini sudah ditentukan kapan harus berakhir.
"Kamu sudah bertemu dengannya?"
_________________________________________
__ADS_1