
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan, Mas?"
"Tentu saja."
Apa dia sudah gila? Apa dia tidak peduli lagi dengan siapa aku pergi? Aku pergi dengan mantan suamiku lho! Tadi saja ia begitu bernafsu menciumku tapi kenapa mendengar istrinya pergi dengan laki-laki lain malah tenang saja? Oh, iya ... aku hanya pelampiasan hasrat. Khati kecewa. "Jadi tidak apa-apa aku berciuman dengannya?" tanyanya pelan dan lemas.
"Tidak apa-apa." Namun tak ayal telinga pria itu panas. "Lakukan saja tugasmu, Khati, karena akan ada yang mengawasimu." Pria itu menutup pintu dengan sedikit membantingnya.
Khati sangat kecewa, padahal setelah mendengar pernyataan terakhir sang istri, Jun uring-uringan. Ia tak bisa konsentrasi hingga meminta supirnya mengantar ke kantor. Ia segera menelepon seseorang. "Todi, aku pergi ke kantor sekarang. Tolong, yang membuntuti istriku jangan sendirian. Pastikan dia aman!" ucapnya tegas. Ia menutup teleponnya masih dengan wajah khawatir.
----------+++----------
Khati duduk bersandar pada meja makan sambil merebahkan kepalanya pada lengan kanan. Tangan kirinya memegang kartu hitam yang diberikan sang suami sebelum berangkat ke kantor, tadi. Ia memainkan kartu itu di atas meja.
Ia bukan tipe perempuan tukang jalan-jalan hingga saat ingin beristirahat, ia lebih memilih berada di rumah ketimbang jalan. Karena itu ia bingung ketika Jun menyuruhnya keluar.
Ia mau jalan dengan siapa? Wajahnya sekarang, ia tak mungkin mengunjungi orang-orang yang dikenalnya seperti mereka yang kini bekerja di perusahaan miliknya. Padahal ia ingin sekali ke sana tapi alasannya apa? Ia bahkan bisa bertemu Damar di sana. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, tapi masalahnya, ia tidak bisa kembali menjadi Khati yang dulu. Itu sebabnya ia tak bisa ke sana. Ia tak menemukan alasannya.
Wanita itu menegakkan kepalanya, karena tak menemukan solusi. Menjadi Nyonya Junimar Adiyaksa membuatnya bingung harus berbuat apa. Rumah itu besar. Bahkan tukang masak di rumah itu ada beberapa sehingga ia tak bisa masak seperti kebiasaannya waktu di Singapura dulu.
Ia punya banyak waktu terbuang dan ia tak biasa seperti itu. Khati yang dulu terbiasa sibuk mengurus perusahaan dari pagi hingga malam, hingga saat ia pulang ia tinggal tidur saja di kamar. Dengan tanpa kegiatan, wanita itu jadi bingung harus bagaimana.
Ah, masa bodo! Aku ingin melakukan apa yang aku suka. Khati beranjak dari kursi dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari es.
__ADS_1
Seorang pembantu mendatanginya. "Ibu cari apa?"
"Tidak ada. Aku ingin belanja. Aku ingin masak."
"Tapi tukang masaknya sudah ada, Bu."
Khati menoleh pada pembantu itu membuat sang pembantu ketakutan. Wanita berpakaian pelayan itu menunduk.
"Biarkan aku masak. Saat ini aku ingin masak," imbuh nyonya rumah itu datar. Ia tentu saja tak ingin menakut-nakuti pembantunya.
"Ah, baik, Bu."
Khati segera berganti pakaian dan berangkat menggunakan mobil suaminya yang lain. "Ke mal ya, Pak!"
"Iya, Bu," sahut sang sopir. Sebenarnya menikah dengan Jun membuat wanita itu tenang. Ia punya suami tempat ia bersandar. Ada orang tempat ia bercerita walau tanggapannya tak selalu menyenangkan. Andai saja, pria itu bisa berubah perangainya, mungkin ia lebih betah tinggal bersama pria itu.
Jun gelisah. Acap kali ia melirik ponselnya ingin menelepon, tapi ia gengsi. Ia berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ada beberapa berkas yang sedang ia lihat tapi pikirannya entah ke mana. Padahal, berkas itu tak banyak. Ia pada akhirnya menyerah dan bersandar ke kursi.
Baru pertama kalinya ia berpisah dengan Khati dan ia rindu. Ini sangat aneh baginya seakan apa yang dulu ia kibarkan sebagai 'hanya pertolongan yang dilakukan dengan berat hati' kini menjadi sungguhan. Ia benar-benar menikah sungguhan.
Eh, sebenarnya memang mereka menikah sungguhan tapi yang dilewati juga sebuah kehidupan pernikahan yang sesungguhnya. Khati sebenarnya secara tidak sadar telah memberikan pernikahan yang dulu pria itu pernah impikan. Hanya saja, tokoh wanitanya bukan yang ia harapkan.
Terdengar suara pintu diketuk dan sekretarisnya membawa seorang wanita cantik ke dalam ruangan. Jun segera tahu dengan siapa dia berhadapan, karena wanita itu adalah istri seorang pejabat terkenal yang tengah masuk penjara. Ia pernah melihat berkas tentang keluarganya. Saat itu juga ia tahu, ini tentang masalah apa.
__ADS_1
"Pak, ini ada Nyonya Suiyoso ingin bertemu."
"Ok, kebetulan aku belum pergi keluar. Silakan." Jun meminta wanita itu duduk di seberang mejanya.
Sekretarisnya pergi sedang wanita itu segera menghampiri meja hakim itu. Seorang wanita berpakaian gamis panjang berwarna biru yang terlihat mahal dengan jilbab warna senada. Wajah cantiknya dipoles dengan make up tebal nan mahal menjadikan wajah cantik itu seperti boneka yang sempurna. Ia dengan tertib duduk di hadapan pria itu. "Pak, apa suami Saya tidak bisa mendapat keringanan? Setidaknya dia jadi tahanan kota saja, Pak. Jangan dimasukkan penjara. Kesannya, parah sekali apa yang dilakukan suami Saya."
"Lho, di negeri ini, kalau sudah masuk jalur hukum, ya harus melewati tahapannya dong, Bu. Saya tidak bisa mengeluarkan orang tanpa ada sebab yang masuk akal, apalagi di luar jalur yang sudah ditentukan."
"Saya sedang hamil, Pak. Anak pertama. Bagaimana bisa Saya kehilangan suami di saat seperti ini," ucapnya dengan mimik sedih.
Jun tahu, wanita ini adalah istri ketiga yang baru dinikahi penjabat itu. Dan ia sudah terbiasa menghadapi para klien yang manja seperti ini. "Sebaiknya Ibu ikuti saja prosesnya. Kalau suami Ibu terbukti tidak bersalah, ia pasti akan segera pulang."
"Tapi rasanya tidak bisa secepat itu, Pak." Wanita itu mulai menangis. "Menurut pengacaranya, ini masalah rumit. Suami Saya kemungkinan ada di penjara untuk waktu yang lama." Ia terisak.
"Tolong, Pak, suami Saya tolong dijadikan tahanan kota saja. Kami sanggup membayar berapapun biaya yang harus kami keluarkan. Bapak perlu berapa ratus juta? Perjalanan ke luar negeri? Atau rumah mewah?" Wanita itu mengambil tisu dalam tasnya dan membersihkan sisa-sisa air mata yang hanya sebentar itu.
Jun menatap wanita itu dan hampir tertawa. Karena pekerjaannya sebagai hakim agung, ia sudah sering menemui orang-orang yang akan melakukan apa saja agar mendapatkan keringanan hukuman bagi keluarganya. Dari menangis, berbohong, menawarkan hadiah hingga menawarkan diri sehingga ia hanya melihat saja, karena sudah kebal dengan segala rayuan.
Melihat hakim Jun yang tengah memperhatikan dirinya, sang wanita merasa hakim itu tertarik padanya. "Eh, sebentar, Pak." Wanita itu bergerak ke arah pintu dan menguncinya. Sang wanita mulai melucuti pakaiannya.
Jun melipat tangannya di dada dan hanya melihat adegan itu dengan wajah dingin. Setelah wanita itu melucuti semua pakaiannya, Jun mulai melangkah mendekati sang wanita. Wanita itu tentu saja terlihat senang. Hakim setampan ini menginginkan tubuhnya hari ini, ia tentu takkan menolak.
Pria itu kemudian bergerak mengelilingi sang wanita yang bertubuh indah itu lalu mendengus kasar. "Mmh! Bagaimana bila suamimu tahu?" ucapnya sedikit sarkas.
__ADS_1
"Ya, jangan sampai suamiku tahu dong, Pak. Aku juga melakukannya demi dia," sahut sang wanita membela diri.
"Lalu letak kesetiaanmu itu ada di mana? Kau melakukan ini demi suami, tapi kamu bersedia tidur dengan orang lain? Untuk apa kamu pakai jilbab itu kalau jiwamu seorang petualang? Aku juga meragukan kau sedang hamil, karena perut ratamu itu," sindir pria itu sengit.