Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Tak Terlupakan


__ADS_3

"Aku hanya semakin lapar." Pria itu tiba-tiba memeluk lengan sang istri. "Biarkan aku begini, agar bisa menahan lapar," kilahnya.


Mendengar itu Khati hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tawa. "Mungkin sebentar lagi habis filmnya. Tunggu saja ya?" Ia sedikit iba melihat pria itu mulai kelaparan.


"Mmh." Pria itu malah merebahkan kepalanya di bahu istrinya.


"Mas," tegur Khati.


"Dingin, Julia." Jun masih meminta dipahami.


Wanita itu terpaksa menahan rasa marahnya dengan sedikit merengut dan berganti merapikan syal yang melingkar di leher sang suami. Ia juga peduli. "Makanya ... untung Mas pakai syal ini, jadi gak kedinginan."


Sisanya, Jun menikmati bisa memeluk lengan sang istri untuk beberapa saat. Ia sengaja menyandarkan kepalanya karena dengan begitu ia serasa sedang memiliki, walau cuma sebentar.


Film pun usai. Lampu dinyalakan dan saat itu juga, pria itu harus melepas pelukan. Khati meletakkan wadah popcorn di kursi kosong di sampingnya agar ia bisa merapikan pakaiannya dari sisa-sisa makanan yang berjatuhan. Jun meminum sisa kolanya.


Mereka kemudian bergabung di akhir pada antrian untuk keluar bioskop. Keduanya memasang kacamata hitamnya sebelum melangkah mencari restoran untuk makan malam.


----------+++----------


Damar masih diam terpaku menatap gelas campaign yang dipegangnya di atas meja. Sejak kehilangan Julia hampir dua bulan lalu, ia mulai minum-minuman keras. Padahal ia mulai menghentikannya ketika mendengar kepulangan wanita itu, walaupun dengan mendengar berita yang tidak menyenangkan. Wanita itu telah menikah dengan orang lain.


Ia dengan gigih mencari tahu, walau berujung kecewa. Julia memang benar telah menikah dengan hakim itu, tapi ia berusaha untuk bertemu. Ia berusaha mencari tahu dari mulut wanita itu tentang alasannya tapi selalu saja wanita itu menghindar. Ia bingung bagaimana caranya bisa mendapatkan wanitanya kembali.


Waktu yang ada ia sempatkan untuk menemui wanita itu, karena rindu yang tak terelakkan. Namun ketika melihat keduanya sedang bersama, hatinya hancur. Ia benar-benar tidak bisa kehilangan Julia.


Diisinya lagi gelasnya yang telah kosong dengan botol minuman haram yang ada di sebelahnya, tapi ternyata botol itu sudah kosong. Ia meletakkan kembali botol itu dengan kesal. "Pelayan!"


Seorang pria muda berpakaian pelayan bar, mendatanginya.


"Aku minta lagi, satu!" teriak Damar dengan nada yang tidak beraturan. Matanya mulai memerah. Tak ada yang tahu ia sedang mabuk, kecuali saat ia bicara.


"Maaf, Tuan, tapi Tuan telah menghabiskan 2 botol besar. Rasanya tak mungkin Tuan minum yang ketiga, karena Tuan sudah mabuk berat."


"Urusan apa kau menghalangiku minum di sini, hah! Aku bayar, bukan hutang!" ucap pria berkacamata itu berapi-api dari tempat ia duduk.

__ADS_1


"Iya, Tuan." Pelayan pria itu mulai bicara lembut dengan membujuknya. "Sebaiknya Tuan pulang ya? Apa mau Saya antar lagi sampai kamar?"


Damar terlihat bingung. Pelayan itu berinisiatif dengan menariknya bangun dari kursi dan membawanya ke tempat pembayaran dengan susah payah. Di sana, pelayan itu mengambil sendiri dari kantong celana Damar, dompet dan menyelesaikan pembayaran. Setelah itu membawanya pergi.


Damar memang pelanggan di bar itu jadi sudah terbiasa dengan pelayanan seperti itu. Saat ia mabuk, ia langsung check-in di hotel tempat bar itu berada.


-----------+++---------


Khati baru saja akan berangkat senam ketika ponselnya berdering. Sesuai dugaan, Damar meneleponnya. "Julia ... tolong aku." Terdengar suara yang parau dari ujung sana.


Wanita itu mengerut kening. "Kamu kenapa eh, Damar?" Khati belum terbiasa memanggil pria itu dengan namanya seperti waktu kuliah dulu.


"Kepalaku pusing."


"Lho, kamu ada di mana?"


"Aku ada di hotel."


"Hotel?"


Khati kebingungan. Ia bukan tidak ingin membantu mantan suaminya tapi ia kini telah jadi istri orang. Membantu pria itu di hotel bisa jadi fitnah, apalagi ia kini telah menjadi istri seorang hakim terkenal. Bila ada yang mengenalinya, ini bisa jadi gosip murahan di berbagai media sosial. "Apa kamu tidak punya orang untuk membantumu?"


"Tidak ada. Orang tuaku pindah ke Jogja mengikuti adikku yang kuliah di sana. Jadi rumahku kosong. Tolong Julia, aku tak bisa bangun sedang perutku mual ingin muntah."


"Eh, tapi ... apa kata orang kalau aku ke sana sendiri? Aku tidak mau ada gosip-gosip yang akan merusak nama baik suamiku."


"Julia ...." Saat itu air mata Damar menetes pelan hingga melewati telinganya. Ia terbaring tak berdaya di atas ranjang. "Tolong ...."


"Eh, kau ada di mana, Damar?" Dengan fokus Khati berusaha mengingat nama hotel dan nomor kamarnya. Ia kemudian mematikan telepon itu dan menelepon sang suami.


Jun terkejut mengetahui istrinya menelepon. Ia menepikan mobilnya karena khawatir. "Sayang, ada apa?"


Khati kemudian menceritakan apa yang terjadi.


"Sebaiknya kamu menelepon pihak hotel dan bilang, tamunya sakit agar bisa dikirim ke rumah sakit. Temui saja Damar di rumah sakit."

__ADS_1


"Eh, iya, Mas."


Saat menutup telepon, sebenarnya kekhawatiran Jun berkurang tetapi kekhawatiran lain muncul. Mendengar sang istri panik menceritakan mantan suaminya itu membuat Jun cemburu. Sebenarnya, apakah masih ada cinta yang tersisa untuk mantan suaminya itu, ia sedikit resah.


Khati menuruti pesan suaminya. Ia kemudian mendatangi rumah sakit tempat Damar di rawat.


"Julia," panggil Damar ketika wanita itu masuk ke dalam ruang perawatannya.


Wanita itu menghampiri. Wajah pria itu begitu pucat. Dokter mengatakan, terpaksa harus mengosongkan isi perutnya karena pria itu ternyata belum makan sejak kemarin dan hanya mengisi perutnya dengan minuman beralkohol itu.


Khati sangat iba. Ia bisa merasakan pria itu pasti sangat kehilangan kekasihnya persis seperti ia dulu kehilangan Damar. Namun ia menyadari dirinya kuat karena bisa menyelesaikan semua sebelum meninggalkan pria itu.


Bahkan setelah itu mereka masih bisa bertemu di kantor. Ia bahkan harus mengorbankan dirinya untuk mengajari mantan suaminya itu berbisnis agar bisa bekerja di perusahaannya, sementara hatinya sedang amat terluka. Ia sanggup melakukan itu.


Beda dengan Damar yang langsung hancur ketika mantan kekasihnya menikah dengan orang lain. Ia bahkan menenggelamkan dirinya dengan minum minuman keras. Khati yakin, semenjak Julia menghilang, pria itu telah minum minuman keras karena tak mungkin pria itu jatuh sakit hanya karena minum minuman beralkohol hanya dalam waktu semalam.


"Julia." Pria itu langsung meraih tangan wanita itu.


Khati terkejut. Ketika ia berusaha menarik tangannya, Damar tak mau melepaskan.


"Julia, sebentar saja. Aku rindu padamu."


"Tapi Damar. Aku istri o—"


"Persetan dengan suamimu!"


Khati syok! Dalam keadaan lemah, sang pria masih berusaha mempertahankan egonya.


Damar menyadari wanita itu terkejut luar biasa sehingga ia berusaha kembali lunak padanya. "Eh, Julia. Tolong. Aku tidak punya siapa-siapa. Jangan tinggalkan aku," pintanya hampir menangis. Ia masih menggenggam tangan sang wanita.


Khati tentu saja bingung. Iba sekaligus terkejut dengan perubahan Damar yang kadang sering meledak-ledak setiap bertemu dengannya. Pria itu sudah berubah, tidak seperti yang ia kenal. Atau dirinyalah yang tidak kenal Damar?


Dulu, saat ia mengetahui suami paling baiknya itu selingkuh, bukankah ia merasa kecolongan? Ada hal lain yang ia tidak tahu soal mantan suaminya itu. Kini setelah melihat Damar yang sering berubah-ubah, ia yakin ia belum mengenal siapa Damar sesungguhnya.


_________________________________________

__ADS_1



__ADS_2