Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Rahasia-Rahasia


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, dan Khati mulai bosan berada di rumah. Selain tidak ada orang untuk diajak bicara, ia ingin menghirup udara segar di luar.


"Mas, kapan aku bisa senam lagi?" tanya wanita itu di suatu pagi. Mereka sedang sarapan bersama.


Jun yang baru menyuap nasi gorengnya, melirik sang istri. "Mmh? Kamu mau jalan-jalan?"


"Bukan mau jalan-jalan, tapi mau olahraga."


Pria itu terdiam. Sebenarnya, kasus Khati kembali bergulir padanya. Sidangnya sedang diajukan untuk dilanjutkan lagi, tapi yang dipikirkan Jun saat ini malah, hamil tidaknya sang istri. Ia begitu bingung.


Ia sedang berkejaran dengan waktu dan ia tak bisa fokus. Kalau kasus ini selesai apa Khati akan meninggalkannya? Namun bila tak ditemukan pembunuhnya, Khati akan menjalani hukuman mati. Kedua-duanya tidak ia inginkan. Masalahnya, ia hanya bisa memilih salah satunya saja.


Hakim itu juga menerima laporan dari asistennya bahwa Damar sering terlihat di mal tempat Khati senam. Tampaknya pria itu sedang mencari Julia, karena itu ia berusaha untuk menahan sang istri di rumah agar Damar kesal. Ia berharap saat pria berkacamata itu bertemu lagi dengan Khati, pria itu akan mengatakan semuanya.


"Mmh, untuk sementara waktu, jangan dulu ya? Tapi kalau kamu mau jalan-jalan, ke mal saja. Nanti aku temani."


"Kapan ...," tanya wanita itu, mulai merengek. Jun gemas melihat Khati seperti saat ini.


"Apa badanmu sehat?"


Khati mengerut alis. "Kenapa kamu sering menanyakan itu? Aku 'kan tidak sakit, kamu lihat sendiri."


"Eh, tidak. Maksudku, apa kamu pernah mual mau muntah?"


Wanita itu makin mengerutkan alisnya.


Mendapat pandangan seperti itu, pria itu berusaha menepisnya. "Eh, lupakan. Aku hanya khawatir saja," sahut pria itu sedikit bergumam. Apa yang harus kulakukan kalau Khati tak hamil?


"Jadi?"


"Eh, apa?"


"Kalau aku mau jalan-jalan, Mas?"


"Oh, nanti juga bisa."

__ADS_1


"'Kan hari ini, Mas kerja?"


"Nanti jam sebelas aku jemput. Kita makan siang di sana."


"Mas, gak takut kebanyakan libur, di kantor?"


"Yang penting aku ada pagi. Siangnya banyak ketemu orang di luar. Aku kadang mendatangi TKP, atau penjara."


"Ya sudah."


"Tapi jangan lama-lama ya, Sayang, dandannya. Aku minta, saat aku jemput, kamu sudah siap."


"Ok."


------+++-------


Khati masuk ke ruang kerja sang suami mencari gunting. Gunting yang ada ternyata hanya gunting dapur untuk makanan. Seharusnya sang suami punya gunting di ruang kerjanya, untuk menggunting kertas.


Ia membuka laci meja kerja sang suami satu per satu, tapi tak ditemukan. Ketika ia menutup laci itu, laci paling atas susah ditutupnya. Wanita itu menyentuh bagian bawah laci dan menemukan sesuatu yang mengganjal. Khati kemudian membungkuk untuk mencari tahu, benda apa yang telah tersangkut di situ.


Ia segera mengenali kertas itu. Itu adalah kertas, di mana ia menandatangani selembar kertas kosong yang tadinya akan digunakan untuk surat perjanjian kawin kontrak. Nyatanya pria itu sama sekali tidak menulis apapun di kertas itu, bahkan tandatangannya. Hanya ada tandatangan Khati sendiri yang berarti tidak pernah ada perjanjian apa-apa.


Lalu untuk apa dia menakut-nakutiku dengan surat perjanjian kawin kontrak ini kalau dia sama sekali tidak membuatnya? Apa agar aku terus menjalankan misi ini? Padahal dia tidak mendapat keuntungan apa pun dari kontrak ini. Aneh?


Karena bingung, Khati akhirnya menyimpan kertas itu. Ia menutup kembali laci itu dan kemudian keluar. Khati menunggu sang suami menjemputnya.


------------+++----------


Setelah selesai makan, Jun menyodori istrinya sebuah kotak kardus kecil. Ia terlihat gugup. "Eh, Julia. A-aku hanya ingin tahu saja. Apa mungkin kau hamil."


Ternyata kotak itu adalah alat tes kehamilan. Khati mengambilnya pelan. Apa dia takut aku hamil?


"Ini untuk memastikan saja. Tidak ada maksud apa-apa. Kalau ...."


"Aku akan coba sekarang."

__ADS_1


Jun menelan salivanya. Ia menatap sang istri yang menunjukkan wajah datar. Apa dia marah? "Kalau ...."


Wanita itu segera bangkit dan keluar mencari toilet, yang ternyata penuh. Ia terpaksa keluar restoran mencari toilet terdekat. Toilet itu untungnya tidak ramai.


Setelah dicelup, Khati duduk menunggu di atas closet duduk. Tak lama kertas tipis panjang itu mengeluarkan warna. Saat itulah Khati hampir tak percaya dengan penglihatannya. Tangannya gemetar dengan mata nanar. Tidak mungkin ... ini tidak mungkin! Seketika air matanya menetes. Ini tidak boleh ....


Ada dua garis terlihat di kertas itu. Ini tidak boleh. Dia tidak boleh tahu! Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini. Khati segera menghapus air matanya dan berusaha merapikan make up agar Jun tak tahu apa yang terjadi.


Wanita itu mengeluarkan cermin kecil dan bedak untuk menyamarkan bekas air mata. Tangan masih gemetar dan gugup saat melakukannya. Ya Allah, kuatkanlah aku. Aku tak boleh menyerah, aku tak boleh kalah oleh keadaan. Ia berusaha untuk tidak menangis. Kuat, Khati, kamu kuat. Wanita itu berusaha untuk menyemangati diri sendiri.


Setelah itu, ia merapikan barang-barang make up-nya dan memasukkan dalam tas kecil yang disandangnya. Baru saja ia akan berdiri, terdengar suara berisik di luar toilet. Seseorang memanggil namanya. "Julia!"


Itu bukannya suara ... Khati membuka pintu ruang toiletnya dan mendapati Damar ada di situ. Beberapa wanita memarahi pria itu karena dengan berani masuk ke dalam toilet wanita, tapi sang pria tak peduli. Saat Damar melihat Khati, ia langsung menarik dan membawanya keluar.


"Damar, kenapa kamu masuk toilet wanita?" tanya Khati bingung. Ia sudah pusing dengan masalah tes kehamilan, ia tidak mood menghadapi pria ini.


Sang pria tampak mulai nekat. "Kali ini, kamu tidak bisa bilang tidak. Kamu harus ikut aku!"


Wanita itu menepis tangan sang pria pelan. "Tapi aku datang ke sini bersama suamiku."


"Aku tidak peduli!" Pria itu kembali meraih lengan Khati.


Wanita itu berusaha melepas diri tapi cengkraman pria itu lebih kuat. "Biarkan aku bicara dulu dengan suamiku." Saat Khati mengambil ponselnya, Damar merebutnya. "Damar!"


Pria berkacamata itu mengacungkan ponsel wanita itu. "Kenapa kau begitu takut padanya, heh? Apa dia mengancammu? Apa ancamannya sehingga kau patuh padanya?" Ia hampir berteriak karena marah.


"Damar, ada apa denganmu? Aku sudah menikah, Damar." Khati mengingatkan dengan suara pelan. Sebenarnya ia sudah tidak punya tenaga untuk bertengkar. Ia hanya bisa bertahan.


Pria itu kini menyorot wajah cantik wanita itu lebih dalam. Ia mulai menduga-duga. "Apa ... jangan-jangan kau benar selingkuh di belakangku, he? Apa karena dia hakim yang berkuasa kau bisa menyembunyikan dosa-dosamu? Julia, kau telah memanfaatkan aku selama ini ya?" Sorot mata pria itu kini tampak menyeramkan seakan ia tak rela wanita itu memutar haluan menjadikannya tersangka.


Ada beberapa orang yang lewat di situ tapi pria itu tak peduli. Damar benar-benar kesal karena merasa ditinggal setelah apa yang ia perjuangkan untuk wanita ini.


Khati pun bingung dengan kalimat Damar. "Damar apa maksudmu, aku tak mengerti."


"Jangan pura-pura bodoh!" Pria itu berusaha mendekatkan wajah mereka, membuat Khati takut hingga memundurkan kepala. Dengan wajah dingin pria itu berbisik, memberi ancaman. "Kau telah membunuh Sofia dan aku telah membersihkan tempat itu. Kalau kau berani kabur dariku, aku pastikan kita masuk penjara sama-sama!" ujarnya dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Kedua mata Khati membola. Ia syok! Kini pria itu menarik wanita itu dengan kasar agar mengikutinya.


__ADS_2