Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Janji


__ADS_3

"Apa?" Bola mata Jun bergerak menatap ke arah keduanya, Khati dan dokter Doni. Ia hampir tak percaya. Sudah hampir setahun sang istri meninggalkannya dan kini tiba-tiba kembali dengan membawa pria baru untuk menggantikan posisinya. Betapa kecewa hati Jun melihatnya.


"Kalau sudah ada perjanjian itu, seharusnya tinggal dijalankan saja. Iya, 'kan?" sahut Doni pada Jun.


"Mana perjanjiannya?" ledek hakim itu pada sang dokter.


"Istrimu sudah tidak nyaman lagi hidup bersama denganmu. Buktinya ia sampai mengeluarkan uang untuk operasi wajah agar ia tidak bertemu lagi denganmu. Menurutmu secara psikologis, apa yang menjadi bebannya itu persoalan sepele?"


Jun melongo. Argumen yang diberikan dokter itu masuk akal, tapi apa sejahat itu yang dilakukannya sehingga sang istri depresi menikah dengannya? Tapi apa yang membuat Khati depresi karena ia tidak melihat itu selama sang istri tinggal dengannya. "Apa kau sedepresi itu tinggal denganku, Khati. Apa aku sejahat itu padamu?"


"Kau memang jahat! Aku bukan pacarmu. Tidak seperti dia dan takkan menjadi dirinya yang sesempurna itu, jadi jangan jadikan aku bayang-bayang dirinya lagi. Aku sudah lelah." Netra wanita itu berkaca-kaca.


"Apa selama ini kamu sanggup bilang kamu tidak memikirkan dirinya? Menjadikanku menjadi bagian rencana jahatmu, untuk jadi seperti dia itu sudah merobek rasa percaya diriku, Mas. Kau selalu menceritakan tentang bagaimana aku harus bersikap yang seperti dia dan kemudian aku tahu dia adalah mantan pacarmu, lalu kamu pikir aku harus bagaimana? Tertawa? Senang? Sementara, kau tak pernah menganggapku ada."


Jun syok! Yang dikatakan istrinya semua benar tapi ia tidak pernah bermaksud dengan itu, menyakitinya. "Khati ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Apa yang aku lakukan dulu memang jahat, Khati, tapi sungguh. Aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu."


Khati memejamkan mata. Air matanya mengalir dari dua sudut matanya. Kenapa kalimat ini baru keluar sekarang? Haruskah aku percaya?


"Nah, 'kan? Kamu sendiri tadi menyangkalnya. Ternyata memang benar kamu menduakan istrimu 'kan?" ucap dokter Doni dengan tenang.


"Tunggu dulu bukan itu maksudnya ...." sahut Jun cepat.


"Sekarang ceraikan saja dia agar dia bisa menikah denganku."


"Tapi ...."


"Cepat ceraikan dia! Kau sendiri sudah mengatakan kesalahanmu. Apa kau tak dengar betapa menderitanya istrimu selama ini?" desak dokter Doni lagi.


Jun menatap ke arah Khati dengan wajah penuh rasa bersalah. Ia tidak menyadari apa yang dilakukannya selama ini sangat melukai hati istrinya. Ia pikir ia bisa merubah kesalahan yang diperbuatnya di awal tapi ternyata, kesalahan itu telah merusak segalanya. Bahkan perasaan Khati terhadapnya. Andai ia bisa memutar waktu. Ia ingin memberi kebahagiaan lebih saat mereka bersama. Membuang segala perjanjian yang pernah dia ucapkan, dan berjanji setia hanya untuk istrinya seorang.


"Khati, apa kau semenderita itu hidup bersamaku? Apa tidak ada peluang untuk kita kembali bersama?"


Wanita itu hanya menunduk dan mengalirkan air mata yang deras melalui kedua pipinya.


"Jangan lagi kau tambahi dia dengan derita lagi. Bebaskan dia, agar ia bisa memulai hidup yang baru," pinta Doni.


Jun menghela napas panjang. Benarkah ia harus melepas istrinya pergi? Apa ini sudah jalan yang terbaik untuk kita berdua? Adakah sesuatu yang bisa menahan kami untuk tetap bersama? Ya Allah, kenapa berat sekali aku mengucapkan ini. Aku masih mencintai istriku, ya Allah. Tolong bantu aku bagaimana caranya. Air mata pria itu menetes perlahan. "Kalau kamu sudah berpikir begitu. Aku terpaksa ...."

__ADS_1


Khati semakin dalam memejamkan mata. Kenapa Mas Jun tidak berusaha lebih keras lagi bila benar-benar mencintaiku? Atau cintanya hanya sampai di sini saja?


Tiba-tiba terdengar tangis bayi dari luar kamar. Jun terkejut. Demikian juga Khati.


"Bayi?" gumam Jun.


Khati terlihat panik. Hakim itu melirik ke arah sang istri yang terlihat bingung. Ia curiga. "Khati, bayi itu ...."


"Bayimu," sahut Doni mantap.


Kembali Jun melirik istrinya. "Khati ...."


"Bukankah kau tidak menginginkannya? Aku tidak mau Erlangga jadi alasan agar kau mau bersamaku lagi."


Jun tersenyum lebar. "Tentu saja. Hei, kenapa aku bodoh?" Ia menoleh ke arah Doni. "Maaf dan terima kasih."


"Apa?" Doni terlihat bingung.


"Terima kasih karena kau sudah membawa istriku kembali. Aku dan Khati masih suami istri. Ada pun yang tidak berhubungan dengan itu Saya persilakan keluar."


"Maksudmu?"


"Tapi istrimu ingin bercerai." Dokter itu mengingatkan.


'"Kan sudah aku bilang, itu urusanku dengan istriku. Aku ingin berbaikan lagi dengannya. Bukankah bercerai itu dosa? Makanya kami akan berusaha. Lagipula ada anak di antara kami yang harus kami pikirkan."


"Apa kau tidak tahu, istrimu stres bersamamu? Ia tersiksa." Lagi-lagi dokter itu memberi tahu.


"Tahu apa kamu dengan tersiksa? Apa kau tahu Khati istri yang seperti apa? Dia kalau kentut, bau."


"Apa?" Doni mengernyit dahi.


Khati kesal, aibnya diucapkan sang suami. Seketika wanita itu menjambak rambut Jun.


"Ah, Khati!" Jun melirik ke arah Doni. "Apa kau tahu artinya tersiksa? Seperti inilah istriku sebenarnya dan aku tetap mencintainya walaupun dia menyiksaku seperti ini setiap harinya."


Doni melihatnya dengan memicingkan mata, seperti merasakan sakitnya.

__ADS_1


"Bahkan saat ia kentut yang baunya luar biasa itu, aku masih tetap di samping memeluknya. Rasa cintaku takkan berbeda. Ah, Khati!" Wanita itu makin kencang menjambak rambut sang suami karena kesal.


"Dan saat dia memberiku buah hati yang sudah lama dia inginkan, aku makin mencintainya. Menurutmu, apa kamu menemukan cela untuk bisa mengambil Khati dariku? Apa bukan kamu kini yang berharap jadi selingkuhan wanita bersuami? Carilah wanita lain karena mulai detik ini aku akan memanjakannya dan membuat lebih banyak anak darinya." Jun melirik Khati yang wajahnya memerah karena malu.


"Memangnya aku mesin pencetak anak!" Kembali wanita itu menjambak rambut suaminya lebih keras.


"Ah! Khati Sayang ...." Pria itu meraih tubuh sang istri dan memeluknya.


Begitu saja, keduanya telah berbaikan lagi. Doni merasa berada di tempat yang salah. Dengan mesra Jun memeluk sang istri di hadapannya.


Khati tidak bisa tidak, mencubit pinggang sang suami. "Mas, sopan sedikit," protesnya dengan mata menyipit. Ia merasa tidak enak pada Doni yang sudah memperjuangkan dirinya sampai sejauh ini dan dirinya tiba-tiba berbaikan lagi dengan sang suami. Doni pasti patah hati. "Maafkan aku, Doni. Aku ...." Saat bergerak maju, Jun menahan lengan istrinya.


"Sudah, tak apa-apa." Terlihat, dokter itu sudah mengaku kalah. Ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


"Doni ...."


"Kamu jangan panggil-panggil orang lain. Suamimu ada di sini," protes Jun.


Wanita itu menoleh. "Iya, tau. Aku kembali bukan berarti rujuk ya?"


"Memangnya aku pernah menalakmu?" ujar hakim itu tak mau kalah.


Samar-samar Doni mendengar pertengkaran mesra mereka di balik punggungnya ketika melangkah ke pintu. Ia berharap ini mimpi buruk tapi nyatanya tidak.


"Ish!" Khati gemas dengan pria menyebalkan ini, tapi mau bagaimana? Ia sudah cinta.


Terdengar lagi suara bayi yang menangis.


"Khati! Anak kita ...."


Wanita itu buru-buru pergi keluar. Di sana, di depan pintu, seorang perawat tengah menggendong bayinya bersama para polisi yang menjaga pintu. Khati sempat melihat punggung Doni yang kini bergerak menjauh. Ia ikut sedih karena telah membuat patah hati orang yang menolongnya tapi mau tak mau ia harus mempertahankan rumah tangganya dulu, dibanding mencari yang baru. Apalagi ia punya anak dari Jun dan cinta untuknya.


"Terima kasih, ya Sus. Maaf lama." Khati meraih bayi itu dalam gendongan.


"Iya, ngak papa."


_________________________________________

__ADS_1



__ADS_2