Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Permintaan


__ADS_3

"Aku ingin berpakaian muslim, Mas."


Jun mengerut alis.


"Aku ingin menukar semua pakaianku karena aku ingin berpakaian tertutup, Mas. Apa boleh?"


Pria itu dilema. Kalau ia tidak menyetujuinya, akan jadi masalah. Ia membutuhkan maaf dari Khati, tapi bila istrinya berpakaian muslim, apa akan jadi masalah dengan Damar? Apa Damar tak curiga? "Boleh tapi ...."


Mata wanita itu membola dengan senyum lebar. "Tapi ...." Ia mengulang kata-kata suaminya karena penasaran.


"Tidak boleh pakai jilbab."


"Apa? Kok begitu," ucap wanita itu merengut.


"Mau atau tidak? Kau boleh mengganti semua pakaianmu dengan baju tertutup," ujar pria itu sedikit jual mahal.


"Ya sudah." Masih dengan wajah merengut, wanita itu mengiyakan.


Jun melirik wajah istrinya yang mulai cerah. Sesungguhnya ia tak masalah kalau Khati berjilbab lagi, tapi misinya belum selesai. Ia merasa masih belum cukup menyiksa Damar dengan patah hatinya. Ia kini ingin menjebloskan pria itu ke penjara karena telah berniat menghilangkan nyawa kedua istri dan mantan istrinya. Ia sangat yakin, kalaupun bukan Damar pembunuhnya, pasti dia tahu siapa yang membunuh istrinya.


"Kalau begitu, habiskan makan malammu. Kau boleh mulai belanja besok." Jun pun memutar tubuhnya ingin keluar kamar.


"Makasih, Mas," jawab Khati malu-malu.


Pria itu memutar tubuhnya kembali, dengan sedikit ragu-ragu. "Apa kau tak ingin memberiku hadiah?"


"Hadiah?"


"Sebuah ciuman."


Khati merengut. Kembali pria itu merasa dirinya serakah. Ia memutar tubuhnya dan pergi.


"Mas." Wanita itu mengejar suaminya. Ketika pria itu menoleh, sebuah kecupan mendarat di pipi pria itu.


"Terima kasih."


Jun berusaha mengendalikan diri. Ada sebagian dari dirinya ingin membawa pergi sang istri ke tempat yang jauh dari orang-orang yang mereka kenal dan memulai hidup baru, tapi sebagian lagi dari dirinya meminta diri sendiri untuk waras dan menyelesaikan masalah. Ia sendiri sudah mulai jengah dengan segala kepalsuan yang mengelilingi mereka, sama seperti Khati.


Pria itu mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut dan menariknya dengan memberi kecupan di dahi. "Malam, Sayang."


"Malam, Mas."


---------+++---------


Pagi itu, Jun keluar lebih pagi. Ia sudah selesai sarapan saat Khati turun.

__ADS_1


"Mas mau berangkat cepat? Eh ini, kunci mobilnya yang kemarin." Wanita itu merapikan kerah baju sang suami sambil menyerahkan kunci mobil yang dibawa suaminya, tadi malam.


"Tidak, Sayang. Mobil itu memang aku hadiahkan untukmu. Oya, hari ini aku memang banyak kerjaan. Aku akan menyelesaikan pekerjaan yang kemarin tertunda dan ada pekerjaan baru lagi yang mesti kuurus."


Khati terpaksa mengantongi kunci mobil itu. "Ya, sudah. Hati-hati saja di jalan."


"Mmh. Oya, jangan ke mana-mana ya, Sayang. Tunggu aku pulang. Nanti aku temani kamu belanja."


"'Kan aku pergi ke tempat senam?"


"Kamu libur senam dulu untuk beberapa hari."


"Kenapa?" Khati mulai mengambil makanannya.


"Kita akan melakukan tarik ulur. Kau tidak perlu memancing dia lagi."


"Maksudnya?" Sang istri makin tak mengerti.


"Nanti aku ceritakan pas aku kembali ya, ok?" ujar pria itu terburu-buru.


---------+++--------


Jun menepati janjinya untuk pulang. Ia pulang tepat pada waktu makan siang. Karena itu ia menyempatkan diri makan di rumah karena kebetulan Khati yang masak, dengan menu kenangan waktu mereka di Singapura. Ayam goreng, sayur kangkung dan sambal goreng. Pria itu makan banyak. Saat itulah, Jun menceritakan maksudnya.


"Jadi, kamu tak usah memancing dia lagi. Dia sudah 'menggigit' umpannya. Justru sekarang ini kau jangan pergi ke mana-mana karena dia sedang mencarimu."


"Abaikan."


"Termasuk mengirim pesan?"


"Kalau kamu mau menulis, ya silakan. Katakan saja, kamu dilarang menjawab oleh suamimu."


"Kalau dia mendesak?"


"Abaikan."


"Tapi dia belum meneleponku dari tadi, Mas."


"Percayalah padaku, dia pasti meneleponmu. Mungkin dia tunggu waktu yang tepat."


Wanita itu terdiam. Ia tak terlalu yakin. Sebab ia tak ingat apa yang terjadi kemarin. Yang ia ingat, ia tengah bersama Damar, tapi kenapa berakhir di ranjang bersama suaminya? Ia tak begitu ingat apa yang terjadi tapi ia ingat ia telah minum minuman beralkohol yang seharusnya tidak ia minum. Ia telah berusaha memeriksa isi rekaman percakapan kemarin tapi rekaman itu sudah dihapus suaminya.


"Mas, kemarin, apa yang telah terjadi? Aku tak ingat apa-apa kecuali minum dan bangun dengan kepala pusing."


Dari gerak matanya, sang suami sepertinya enggan menceritakan apa yang terjadi. "Kenapa kamu minum, bukankah kamu tahu kamu tidak boleh minum minuman haram itu?"

__ADS_1


Wanita itu tertunduk. "Aku kecewa, sampai lupa apa yang aku minum."


Jun tak tega melihat sang istri bersedih lagi. "Aku sudah bilang padamu, siapa Damar itu tapi kau tak percaya."


Khati melirik suaminya. Walaupun banyak hal yang ia tak suka dari suaminya, tapi ia kini bisa melihat tujuan sang suami agar ia sadar dengan siapa sebenarnya ia dulu bersandar. Damar hanya memanfaatkan kekayaannya sejak awal, padahal Khati tahu pria itu tak sepenuh hati mencintainya.


Lain lagi dengan Jun. Wanita itu masih bingung, kenapa pria ini mempertaruhkan hidupnya demi menyelesaikan kasus ini, bahkan jabatannya sendiri taruhannya. Benarkah Jun menolongnya dengan tulus? "Iya, Mas, tapi sebenarnya apa yang terjadi?"


"Damar membawamu ke kamarnya."


Khati terkejut. "Benarkah?"


"Karena itu aku tak ingin kau keluar dulu. Untung bodyguard itu membuntutimu, jadi aku bisa menyelamatkanmu."


"Mas yang menyelamatkan aku?" tanya wanita itu tak percaya. Matanya membulat sempurna.


"Iya," gumam Jun. "Eh, sambel ini enak juga. Aku tambah ayamnya ya?"


Khati menatap pria itu. Jun pasti tak ingin meneruskan pembicaraan, karena ujungnya mereka pasti bertengkar padahal mereka baru saja berbaikan. Karena itu, sang wanita tak bertanya lagi tentang kejadian tadi malam.


---------+++--------


Khati teramat senang. Baru kali ini ia belanja pakaian bersama suaminya dan ia menikmatinya. Untuk gamis, pria itu tidak suka gamis model biasa. Ia memilihkan beberapa gamis dari bahan sari india.


"Mas, ini terlalu ramai hiasannya. Kenapa tidak beli yang model biasa?" tanya Khati saat bercermin.


"Banyak yang modelnya seperti orang tua, aku tidak suka. Kalau yang ini, kamu tak perlu ber-make up tebal, sudah cantik apa adanya."


Wanita itu tersipu-sipu mendengarnya. Pria Ini ... entahlah. Dari awal, banyak hal yang pria itu sembunyikan darinya. Tentu saja wanita ini bisa merasakannya.


Namun melihat hidup pria itu ia habiskan untuk menyelesaikan masalah ini, rasanya Khati tak bisa meremehkannya. Karena itu, wanita itu bertekad untuk menyelesaikan kasus ini secepatnya demi agar pria itu terbebas darinya. Memang hanya pria ini tempatnya bersandar kini, walau sebagai manusia ia tak sempurna.


Mereka berpindah-pindah ke beberapa toko. Setelah puas, mereka beristirahat di sebuah kafe.


"Sudah ya, Sayang, belanjanya. Hari ini sampai sini dulu. Besok kita belanja lagi. Ini sudah penuh tanganku membawa semua belanjaan ini," keluh Jun pada istrinya. Ia melirik tumpukan belanjaan yang disusun rapi di kursi samping.


"Besok, aku juga bisa belanja sendiri kok, Mas."


"Tidak, tidak boleh! Kita harus buat Damar terjepit. Kita harus membuat dia geram tidak bisa bertemu denganmu," ucap Jun tegas.


Khati hanya diam mendengarkan larangan sang suami. Ia memotong kue yang ada di hadapan dan menyuapnya. Pria itu juga sibuk menyeruput teh hangat.


Dari jauh seseorang mengintai mereka. Pria itu membetulkan letak kacamatanya. Ia sudah membuntuti keduanya sejak memasuki beberapa toko pakaian di lantai atas tadi.


__________________________________________

__ADS_1




__ADS_2