
"Eh, Mas." Khati langsung berdiri.
Jun tak menghiraukan ucapan istrinya tapi ia dengan cepat menarik kerah kemeja Felix dengan kasar. "Jangan sembarangan menggoda istriku ya!" bentaknya dengan keras. Ia melepas pria itu dan membawa sang istri ke mejanya. Untung ia segera sadar diri, mereka sedang dalam pengasingan. Ia tak boleh membuat masalah dengan orang sekitar agar tidak ada yang memperhatikan mereka.
Khati terlihat bingung. Ia juga kasihan pada Felix tapi ia tak bisa sembarangan di depan umum karena ia berada dalam lindungan Jun. Ia jadi serba salah ketika sang suami meraih tangannya dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut. "Dia tidak salah. Aku hanya numpang duduk sambil menunggu kamu datang, Mas," terangnya lagi. "Kami baru datang."
Jun bukan tak tahu pria itu juga anggota senam di tempat istrinya berolahraga tapi ia takut Khati salah bicara dan juga satu lagi. Cemburu, tapi ia masih belum sadar akan hal itu. "Kau tak boleh bicara sembarangan pada banyak orang atau identitas kita diketahui. Besok kau pindah, senam di tempat lain saja."
"Tapi ...." Sang wanita menghela napas pelan. "Baiklah."
Melihat sang istri tak marah, Jun merasa lega. Selama makan siang di sana, Jun berusaha sedikit manja pada sang istri. Ia sering meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan mesra. Ia berusaha pamer pada Felix yang duduk tak jauh dari mejanya. "Sayang, kau mau belanja apa hari ini?"
"Mmh, bahan makanan masih banyak di lemari es," gumam wanita itu sambil masih berpikir.
"Yang lain mungkin?"
Sesuatu terlintas di kepala Khati. Ia pernah melihat benda itu di lantai bawah. "Boleh aku minta mukena baru?"
"Mmh, boleh. Nanti aku temani."
Seusai makan siang, mereka turun ke lantai 3 dan memasuki sebuah toko pakaian muslim. Saat Jun melihat-lihat mukena yang ada, Khati berhenti dan melihat baju-baju muslim di sana. Ia menatap jilbab-jilbab cantik yang membuatnya rindu masa-masa ia dulu waktu di Jakarta. Rindu akan rumah, perusahaan, pegawai dan suasana Jakarta.
Ia mendesah pelan. Kapan ia bisa kembali ke tempat itu lagi? Apa tak bisa ia menyimpan satu saja jilbab untuk dirinya sendiri? Begitu sulitkah? Ia rindu memakainya.
Ketika Khati hendak mendekati rak tempat jilbab, tangan suaminya telah mendahului meraih tangannya. "Julia."
"Mengapa aku tidak boleh punya satu saja, Mas," pinta wanita itu putus asa.
Jun menggeleng. Ia berusaha untuk tidak membuat keributan dan ia berharap Khati juga begitu. Sang wanita terpaksa mengikuti suaminya dengan lemas.
Setelah membayar, mereka keluar. Terdengar suara anak kecil menangis tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sepertinya anak itu tertinggal dari orang tuanya. Keduanya mencoba menunggu tapi tak ada yang muncul mengakui. Hanya ada pandangan heran dari orang-orang sekitar.
"Ke mana orang tuanya?" tanya Jun cemas. Ia melihat kanan kiri.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Mas."
Jun yang lebih dulu mendatangi bocah laki-laki itu bersama sang istri. Ia mengangkat kacamata hitamnya ke atas kepala. "Hei, ke mana orang tuamu? Where's your parents?"
Bocah berkulit asia itu menggeleng. Ia masih menangis. Pria itu coba memeluknya dan bocah itu tidak menolak. Bola mata kecilnya itu sudah memerah dengan kelopak mata yang mulai bengkak. Jun menggendongnya dan menggandeng Khati. "Kita bawa saja ke sekuriti."
Keduanya mendatangi kantor mal itu di lantai bawah. Khati iba pada bocah kecil itu, tapi perhatian Jun membuat ia heran. Pria itu mengajak bicara bocah itu sambil menghapus air mata sang bocah dengan kedua tangan. Ia terlihat sangat peduli.
Kenapa dia tidak menginginkan anak sedang dia terlihat amat peduli pada anak-anak? Khati mengerut dahi.
Setelah selesai menyerahkan bocah itu, mereka keluar dari kantor itu.
"Eh, Julia. Apa kau mau pergi denganku nanti malam?" tanya Jun sedikit ragu-ragu.
"Ke mana?"
"Eh, kita coba candle light dinner?"
"Julia." Pria itu segera mengejar istrinya. "A-aku dapat voucher makan malam dari orang tuaku sebagai hadiah pernikahan kita."
Khati kembali menghentikan langkahnya dan menatap sang suami dengan dahi berkerut. "Orang tuamu? Di mana mereka?"
"Mereka dengan kakakku masih melakukan perjalanan bisnis. Karena itu mereka minta maaf. Segera setelah selesai mereka akan menemui kita."
Jun? Dia punya kakak? Jadi dia tidak berbohong waktu mengatakan akan memperkenalkan aku pada orang tuanya? Tapi untuk apa? Aku menikah dengannya untuk sebuah misi, lalu untuk apa ia memperkenalkan aku pada orang tuanya? "Mas, untuk apa kamu cerita pada orang tuamu, apa mereka tahu penyamaran ini?"
"Aku pernah cerita pada orang tuaku bahwa aku akan menikah dan sekarang aku menikah, walau secara mendadak."
"Mas, aku 'kan cuma sementara. Apa perlu kamu cerita pada mereka?"
"Mereka akan tahu Julia, karena saat aku pulang ke Jakarta nanti aku akan mengumumkannya."
"Apa? Kenapa mengumumkannya?" Khati lagi-lagi heran mendengar keputusan Jun.
__ADS_1
Pria itu tersenyum penuh misteri. "Tenang saja. Aku akan mengurusnya. Jadi bagaimana? Jadi kita candle light dinner? Aku akan belikan kamu gaun malam dan menjawab pertanyaan kamu berikutnya." Kali ini pria itu pintar membuat istrinya penasaran dan akhirnya Khati mengikuti permintaan sang suami.
-----------+++----------
Candle light dinner diadakan pada sebuah ruangan tertutup sebuah restoran. Lampu memang dibuat temaram dengan lilin-lilin kecil menghiasi sebuah meja. Ya, memang ada sebuah meja di sana dan keduanya tengah duduk sambil menikmati makan malam mereka. Jun memakai jas hitam dengan kemeja putih sedang istrinya memakai baju gaun pendek di bawah lutut berwarna abu-abu. Keduanya menikmati makan malam sambil mengobrol.
Jun tak bisa tidak, mengagumi sang istri yang semakin hari semakin cantik saja. Apalagi ia sangat pintar berdandan setelah masuk kelas modeling. Di sana sang istri diberi target untuk menguruskan badan disertai tip-tipnya hingga ia bisa menguruskan badan tapi tetap terlihat sehat dan segar.
"Katanya kau mau cerita tentang kenapa kau ingin mengumumkan pernikahan kita?" tanya sang istri yang mulai tak sabar.
"Iya. Mmh, aku ingin mantan suamimu tahu itu," pria itu mengambil gelas berisi kola dan meminumnya.
Khati masih belum mengerti. "Maksudmu apa? Bukankah dia akan marah, kekasihnya menikah denganmu?"
Pria yang terlihat makin tampan dengan jas mahalnya, tersenyum senang. Istrinya mengetahui tujuannya. "Benar, dengan begitu ia akan mengejarmu."
"Hah?" Khati masih belum mengerti maksud suaminya.
"Aku menikahimu juga sekaligus untuk melindungimu. Ia takkan sembarangan dan akan mencari cara untuk menghubungimu."
"Tapi, aku harus bicara apa bila bertemu dengannya?" Khati terlihat panik.
Pria itu kembali tersenyum. "Nanti akan kuajari cara bicara dengannya, jangan khawatir."
"Tapi ... apa dia percaya kalau aku Julia? Ini hanya penampilan luarnya saja tapi aku tak yakin akan bisa menyamai Julia yang sesungguhnya."
"Nanti akan kukirim video tentang Julia. Kau bisa mempelajari cara ia berjalan, berbicara dan lain sebagainya. Kau pasti bisa menirunya."
Kalimat itu, tidak membuat Khati menjadi lebih tenang. "Apa wajahku sudah mirip Julia?"
__________________________________________
__ADS_1