
Jun memasang wajah sebal di dalam mobil. Hari ini mood-nya sedang tidak bagus. Sedari tadi segala sesuatunya berjalan dengan tidak semestinya. Pertemuannya dengan petugas daerah diwarnai dengan insiden salah seorang napi yang kabur saat ia di sana. Ia terpaksa tinggal lebih lama untuk memanggil polisi dan memantau polisi melakukan tugasnya. Lagipula, pria itu juga diinterogasi karena berada di sana saat kejadian itu berlangsung. Laporan para petugas lapas jadi tertunda.
Setelah itu, ia juga pergi ke kantor Kehakiman daerah. Karena datang terlambat, pria itu jadi ikut lembur karena harus melakukan pemeriksaan dan menerima laporan. Setelahnya, ia mendapat jamuan makan malam bersama dengan beberapa staf di sana. Ketika selesai hari sudah larut malam, tapi ia bersikeras untuk pulang. Cuaca tak mendukung dengan turunnya hujan lebat.
Ia kini masih menatap keluar lewat kaca jendela mobil, derasnya hujan. Jarak pandang tak bisa begitu jauh, sebab hujan seringkali membuat kaca di dalam mobil jadi tak jernih alias berembun. Beberapa kali sang sopir harus mengusap kaca di hadapan dengan kain lap agar bisa melihat ke arah depan. Ini jadi memperlambat perjalanan karena lari mobil tak bisa kencang.
Jun ingin segera pulang. Ia rindu dengan Khati. Walau kini ia tak bisa menyentuhnya, tapi setidaknya memandang wajah cantik wanita itu saja sudah cukup baginya. Ia tak bisa meminta banyak untuk saat ini, demi misi itu berhasil.
Tiba-tiba, mobil bergerak tak beraturan. Terdengar bunyi aneh dari luar. Mobil segera dihentikan.
"Oh! Ada apa ini!" Jun terkejut.
"Pak," sahut sang sopir yang menengok ke belakang. "Sepertinya ban mobil bocor, Saya harus ganti ban."
"Benarkah?" Hakim itu mengusap kaca jendela di samping dan menatap ke luar. Mereka masih berada di daerah pinggir kota yang jauh dari perumahan. Hujan masih deras, sementara tidak ada tempat berteduh untuknya. "Kita punya ban cadangan 'kan?"
"Iya, Pak."
"Baiklah. Aku juga tidak bisa berteduh, karena itu aku bantu kamu mengerjakannya."
"Ah, terima kasih, Pak." Sopir itu tak menyangka hakim itu mau membantunya mengganti ban.
Jun memang tak punya pilihan. Ia tak bisa berada di dalam mobil ketika mengganti ban, sehingga cara satu-satunya adalah, ikut supir itu membantu mengganti ban agar mobil cepat bergerak kembali.
---------+++--------
Jun masuk ke dalam kamar dalam keadaan basah kuyup. Ia segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia mengambil piyama tidur dan memakainya.
Tubuhnya masih menggigil kedinginan padahal ia sudah mandi dengan air hangat. Mungkin karena terlalu lama basah kuyup di dalam mobil sehingga tubuhnya terlanjur mendingin. Segera ia mengeringkan rambut seadanya dengan handuk dan masuk ke dalam selimut. Ia berharap selimut itu bisa menghangatkannya, tapi sepertinya tidak. Ia masih saja menggigil kedinginan. Kelelahanlah yang membantunya cepat tidur.
__ADS_1
-------------+++-----------
Pagi itu Khati heran karena suaminya tak kunjung turun. Padahal menurut pembantu rumah tangganya, sang suami sudah pulang walau sudah larut malam. Sudah setengah jam ia menunggu tapi pria itu tak kunjung keluar, membuat Khati terpaksa menghentikan sarapan dan naik ke lantai dua mendatangi kamar pria itu.
Wanita itu mengetuk pintu. "Mas." Tak terdengar suara apapun. Melihat itu, Khati memberanikan diri membuka pintu. Dari ranjang itu terlihat rambut pria itu tersembul di ujung selimut. Sepertinya pria itu masih tertidur dengan selimut yang menutup hingga ujung kepala. Gorden pun belum dibuka sehingga kamar itu masih terang benderang karena cahaya lampu.
Dia masih tertidur? Benarkah? Tak biasanya dia begitu.
Khati mendekat dan menyibak selimut itu. Benar saja. Sang suami masih tertidur di dalam selimut. Pria itu sedikit terusik ketika cahaya lampu menerangi wajahnya. Pelan, pria itu membuka matanya yang sayu. Wajahnya sedikit pucat, Khati menyadarinya kemudian.
"Mas, kamu kenapa? Sakit?" Wanita itu menyentuh kening sang suami. Hangat.
"Ah ... Jangan dibuka selimutnya, Khati. Dingin," protes Jun dengan menarik lagi selimutnya hingga menutup wajah. Gerakkannya lamban dan lemah.
"Tunggu!" Khati kembali membuka kembali selimut itu, dan memperhatikan wajah pucat sang pria.
Terpaksa Jun menatap ke arah sang istri yang memandangi wajahnya yang tampak lemah saat itu. Matanya tak bisa sepenuhnya terbuka karena ia menahan gigil.
"Mmh? Mungkin karena pulang terlalu malam dan kami kehujanan. Mana roda mobil bocor lagi, di tengah jalan. Terpaksa kami mengganti ban saat hujan deras karena tidak ada tempat berteduh," adu Jun pada sang istri. "Sekarang aku kurang tidur, Khati. Jadi biarkan aku tidur dulu. Mungkin sebentar lagi aku sehat." Ia berusaha untuk tidak menarik simpati wanita itu karena ia sudah berjanji takkan menyusahkan sang istri, walau sebenarnya ingin. Ia ingin sekali dimanja sang istri pada saat itu juga, tapi ia adalah pria yang memegang janji.
Di tariknya lagi selimut itu kembali tapi kali ini ditahan oleh Khati. "Khati," rengeknya. Ia tentu saja tak bisa tegas saat sedang sakit begitu.
"Kau belum sarapan, Mas. Sarapan ya?" bujuk istrinya.
"Tolong, biarkan aku tidur dulu, Khati. Aku mengantuk sekali."
"Tapi badanmu panas. Apa kamu mau ke dokter?" Khati yang hendak menyentuh lagi kening suaminya, segera dihentikan oleh tangan pria itu.
"Khati, jangan sampai aku mengganggumu dengan memohon padamu. Aku sedang kedinginan tapi aku tidak bisa memelukmu!"
__ADS_1
Pengakuan Jun mengejutkan wanita itu. "Kenapa ...."
Pria itu melepas tangan wanita itu dan kini menarik lagi selimutnya. Kembali Khati menahan selimut itu, membuat Jun tercengang.
"Khati ...."
Wanita itu mulai masuk ke dalam selimut, bergeser dan menelusup ke dalam kedua tangan sang suami yang tengah menyamping. Ia memeluk tubuh yang sedang hangat karena demam dan meletakkan kepalanya bersandar pada dada bidang yang sedang ringkih itu. "Begini 'kan?"
"Khati ...." Pria itu begitu senang. Ia menaikkan tubuh sang istri ke atas dadanya sambil menarik kembali selimut itu hingga leher.
Khati menurunkan selimut itu untuk kesekian kali. "Kalau sedang begini jangan ditutup selimut, Mas, nanti sulit bernapas. Peluk saja aku biar cepat sembuh."
Kali ini pria itu mendengarkan permintaan sang istri. Ia memeluk erat wanita yang bersandar di tubuhnya itu, kemudian ia memejamkan mata. Pria itu tersenyum bahagia mendapati Khati dalam pelukan.
"Namaku Julia, Mas, bukan Khati."
"Iya, Sayang."
Kini Khati pun memejamkan mata, menemani sang suami tidur pagi itu. Terlelap dengan mimpi indah mereka berdua.
---------+++--------
Khati menggeliat membuat pria itu terbangun. Menyadari sang istri masih di pelukan, pria itu merasa sangat senang. Ia mengusap pucuk kepala sang istri dengan lembut sambil mengecupnya pelan.
"Jangan mengambil keuntungan ketika aku sedang baik padamu, ya?" Wanita itu membuka matanya. Ternyata sedari tadi ia tak tidur. Ia hanya sekedar memejamkan mata memastikan suaminya tak macam-macam padanya ketika ia tidur. Pria itu memang menepati janjinya, karena setelah tubuhnya terasa hangat, ia tertidur.
Dilihatnya wajah pria itu yang mulai dipenuhi butiran keringat. Bajunya juga basah karena peluh hingga membuat baju Khati di bagian depan ikut-ikutan basah karena keringat pria itu.
__________________________________________
__ADS_1