Boneka Tuan Kaya

Boneka Tuan Kaya
Bab 10 Tamparan keras.


__ADS_3

Bayu mengantar Laras, Bayu pun langsung pergi dari kosan Laras sementara Alex menatap Laras dari kejauhan mobil Bayu pun sudah pergi Alex turun dari mobil menuju kosan Laras dia mengetuk pintu nya keras Laras yang mendengar ketukan pintu itu berhenti melangkah.


Laras membuka pintu saat itu Laras menatap kaget sekali Alex ada di depan kosan nya sementara Alex masuk menerobos dengan muka marah dia menarik tangan Laras mendorong nya ke dingding.


"Kau mau main main dengan ku." ucap Alex sudah tidak bisa lagi membendung marahnya.


Laras tak mengerti dengan perkataan Alex dia hanya mengeleng karna tangan Alex mencekik lehernya terasa susah bernafas tangan Laras berusaha untuk mendorong Alex.


"Kamu membuat ku marah." Alex pun melepaskan tangan nya.


Laras mengambil nafas nya dalam dalam dia benar benar kehabisan nafas saat itu leher nya terasa sangat sakit sekali hampir saja lelaki ini membunuh nya.


"Aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun." ucap Laras masih berusaha berbicara padahal nafas nya sudah tersengal sengal.


"Kau berpelukan dengan lelaki lain, kamu bilang tidak melakukan kesalahan apa pun hah." teriak Alex.


Laras menatap nya aneh dia benar benar berpikir sepertinya otak nya perlu di lenser biar terlihat berpikir ke depan jangan fikiran nya mesum aja.


"Lalu masalah nya apa." ucap Laras yang tak mengerti.


"Kau menyakiti hati Lexa, dia itu tunangan nya kau tau." teriak Alex alasan yang masuk akal bagi dia omongkan.


Laras menatap wajah Alex dia bahkan tak mengerti sama sekali dengan perasaan nya, takdir begitu jahat pada dirinya.


"Aku tau Lex tak ingin membuat Lexa menangis, lalu bagaimana dengan perasaan ku." ucap Laras menatap pria di depan nya.


Alex terdiam dengan ucapan Laras barusan itu dia berfikir tapi rasa ego nya mengalahkan hatinya Alex menatap tajam Laras.


"Kau fikir siapa. sampai ingin di peduli seperti Lexa begitu." ucap Alex menatap wajah Laras seakan merendahkan nya.


"Aku sama sekali tidak ingin di perduli kan oleh mu. tapi karna kalian orang yang selama ini membuat ku bahagia kalian rebut. kalian manusia yang tak punya hati." ucap Laras menatap tajam Alex.


Plak..


Tamparan keras di wajah Laras, air mata Laras terjatuh baru kali ini dirinya di perlakuan seperti binatang, bahkan perasaan pun di atur oleh orang yang lebih berpenguasa.


"Aku tidak suka kamu mengatai ku seperti itu, apalagi tentang adik ku." ucap Alex.

__ADS_1


Dia melangkah pergi dari situ sambil menutup pintu kosan Laras keras sekali semua orang yang ada dikosan melihat orang berantem hanya menatap nya dengan wajah bingung.


Tangis Laras meledak dia benar benar merasa sakit sekali hatinya dengan perkataan Alex barusan itu.


Setelah perasaan Laras agak mendingan dia pun menghapus air mata nya dan menuju kamar mandi dia akan bermalam di rumah sakit.


Alex masuk ke mobil nya dengan perasaan aduk marah, kesal, serta perasaan aneh lainya menyelimuti hatinya saat ini, mata Alex menatap tangan nya yang tadi habis bekas nampar Laras.


Maafkan aku. Alex.


Alex pun memukul setir mobil nya dengan keras dia pun menyalakan mesin nya dan pergi dari situ menuju rumah nya di perjalanan Alex, selalu menatap tangan nya merasa ada yang menyesal menyelimuti hatinya.


Tak terasa waktu begitu cepat sekali mobil nya sudah sampai dirumahnya dia pun masuk ke rumah dengan wajah sedikit murung Lexa dari atas tangan melihat Abang nya datang dia berlari tiba tiba kakinya tersandung dan hampir terjatuh Alex yang melihat langsung menangkap nya.


"Kau tidak hati hati." ucap Alex marah.


"Maafkan Lexa Bang, habis nya Lexa senang sekali Abang pulang." ucap Lexa.


Alex tersenyum menatap adik nya yang selalu manja pada dirinya itu tapi tiba tiba dirinya teringat Laras.


Laras maafkan aku. Alex.


Dengan langkah kaki cepat Laras masuk ke kamar Sonya disana dia melihat Sonya berbaring dengan sangat nyenyak sekali Laras pun mengambil selimut dari dalam tas nya dia menyelimuti Sonya dengan lembut tiba tiba air mata nya terjatuh air mata entah itu bahagia karna sudah tidak memikirkan biaya rumah sakit Sonya atau bahagia karna dirinya akan menderita.


Tiba tiba ponsel Sonya berdering Laras yang melihat nya langsung mengambil nya dia mengangkat nya di seberang sana suara tangis terdengar ramai.


"Hallo ini Bi Rasmi, Sonya cepat pulang ibu mu meninggal." ucap Seorang wanita yah dia tetangga nya, Ibu nya Sonya.


Air mata Laras terjatuh begitu juga dengan tangan nya karna gemetar mendengar ucapan itu mata nya melihat Sonya dia bahkan belum sadar.


"Sonya bangun." tangis Laras meledak dia menguncang guncang tubuhnya berharap Sonya bangun tapi mata nya terlalu berat untuk terbuka.


Laras pun menangis di samping Sonya sambil menunduk, saat itu jemari tangan Sonya bergerak Laras yang melihat pun kaget dia berdiri langsung menekan tombol panggilan Dokter.


Tak berapa Dokter pun datang dengan cepat Laras pun memberitahu nya dengan cepat Dokter memeriksa nya.


Mata Sonya terbuka dia seperti merasakan pusing di kepalanya, merasa tidak terasa pusing lagi mata Sonya melihat sekeliling nya seperti mengatakan kenapa dirinya ada disini.

__ADS_1


"Laras, kenapa aku ada disini." Sonya dengan wajah pucat nya berbicara pada Laras.


"Sonya, kamu bisa ingat aku." tanya Laras tak bisa menutupi keterkejutan.


"Iyah." jawab Sonya lemas sekali.


Laras pun langsung memeluk tubuh Sonya senang sekali karna Sonya tidak amnesia seperti kata Dokter itu.


"Ibu." ucap Sonya dia mengingat Ibunya yang sedang sakit ingin berdiri tapi tangan nya ditahan Laras.


"Kamu masih sakit, berbaring lah dulu." ucap Laras menatap sahabatnya.


Dia pun berbaring lalu tangan Sonya memegang tangan Laras menatap nya dengan penuh kehangatan Laras yang di perlakukan seperti itu pun merasa bersalah apa yang harus dia lakukan saat ini air mata Laras terjatuh.


"Laras maafin aku, karna aku selalu menyusahin kamu." ucap Sonya dia benar benar berbicara dengan suara lemah.


"Son, Ibu Kamu." belum sempat Laras melanjutkan omongan nya Dokter dan Suster menyuruh nya ikut ke ruangan nya.


"Aku keluar sebentar yah." ucap Laras.


Sonya mengangguk mengerti Laras pun sekarang sudah ada di ruangan Dokter dia menatap Laras.


"Begini Mbak, pasien telah melewati masa kritis dan Alhamdulillah dia tidak mengalami amnesia, jadi pasien boleh bisa pulang tapi menunggu satu minggu, untuk mengecek kembali apa dia benar benar sehat nya total." ucap Dokter itu.


Laras pun berbinar di mata nya dia tersenyum lalu mengucapkan Terima kasih Laras pun kembali ke ruangan Sonya dia sudah mantap ingin memberi tau Sonya.


"Son, walau ini kabar buruk aku mohon kamu jangan sampai sakit." ucap Laras menatap Sahabat nya.


Sonya menatap Laras sebenarnya ada apa kenapa Laras terlihat berat sekali mengatakan nya.


"Baik Laras, aku gak akan sakit jadi cerita lah." ucap Sonya sambil tersenyum.


"Ibu mu meninggal." ucap Laras.


Air mata Sonya keluar dia kaget sekali dengan ucapan Laras barusan seperti nya dirinya salah mendengar.


"Sepertinya aku salah mendengar yah Laras." sambil tersenyum tapi air mata nya terjatuh.

__ADS_1


Laras mengeleng dia tidak kuat untuk berbicara Sonya pun menangis dia tidak percaya dengan perkataan Laras.


__ADS_2