
Alex pun pamit ingin pergi ke kantor walau sejujur nya Alex ingin berada di rumah karna Laras ada di rumah Laras mengantar Alex sampai depan mobil nya.
"Ingat jangan pergi lagi." ucap Alex berkali kali dia berbicara seperti itu.
"Iyah." ucap Laras dengan senyum.
Alex pun sebelum berangkat dia kembali memeluk Laras dengan erat sekali menciumi rambut Laras sementara Vando dia melihat ke arah lain.
"Tunggu aku pulang." kecupan terakhir Alex di kening Laras.
"Hati hati di jalan." ucap Laras melambaikan tangan.
Semua penjaga menatap Tuan Alex sangat berbeda biasa nya dia marah marah setiap pagi tapi setelah kembalinya Laras sikap Alex berubah.
Vando menjalankan mobil nya dia pergi dari rumah Alex menuju kantor Alex sementara Alex masih senyum senyum mengingat memori tadi.
"Vando jadwal meeting aku di percepat aku tidak sabar mau pulang." ucap Alex dia menatap Vando.
"Baik Tuan." ucap Vando dia merasa tenang karna sikap Alex berubah.
Mobil Alex datang semua karyawan berbaris menyambut kedatangan big bos nya Vando turun dari mobil nya dan membuka kan pintu mobil Alex.
"Silahkan Tuan." ucap Vando dengan sopan.
Alex turun dari mobil nya semua karyawan nya menunduk hormat tiba tiba seorang karyawan baru saja masuk ke barisan Alex melihat nya dia menghampiri karyawan itu.
"Kamu baru datang." ucap Alex menatap perempuan itu.
"Tuan maafkan saya anak saya sakit semalam saya tidak bisa tidur karna dia menangis saja." ucap Perempuan itu.
Semua karyawan di situ menatap perempuan malang itu dengan perasaan kasian karna sebentar lagi dia pasti di pecat.
"Kenapa kamu masuk kerja." ucap Alex lagi sementara Vando masih berdiri tegak di belakang Alex.
"Tuan maaf kan saya." ucap karyawan perempuan itu.
"Vando." panggil Alex perempuan itu sudah gemetar lemas.
"Iyah Tuan." ucap Vando.
"Beri dia cuti dan kasih tunjangan untuk anak nya." ucapan Alex tadi membuat yang mendengar di situ terlihat kaget bahkan Vando sendiri.
"Baik Tuan." ucap Vando.
"Satu minggu cukup untuk merawat anak mu." tanya Alex pada perempuan itu.
__ADS_1
"Cukup Tuan." ucap perempuan itu.
Alex pun kembali melangkah memasuki lif khusus untuk dirinya sementara Vando dia mengurus karyawan tadi.
"Tuan makasih." ucap perempuan itu menahan air mata nya.
"Yah." ucap Vando.
Vando menuju ruangan Alex semua karyawan di bawa membicarakan presdir nya sendiri.
"Tuan Alex berubah setelah pergi ke desa pelosok itu." ucap Salah satu karyawan.
"Iyah semoga seterusnya Tuan Alex seperti itu." ucap lagi seorang disamping nya.
Alex sudah ada di ruangan nya dia menatap layar handphone nya dengan wajah berseri seri.
"Tuan ini Vando." ucap Vando.
"Masuk." ucap Alex mata nya tak beralih dari beda pipih itu.
"Vando cari kan aku sebuah permata yang indah aku ingin membuat kalung dan desain nya cuma ada satu tidak untuk di perjual belikan." ucap Alex.
"Baik Tuan." ucap Vando.
"Aku percaya tugas penting ini jadi jangan membuat aku kecewa." ucap Alex menatap Vando tajam.
"Pergilah, aku ingin menelvon cinta ku." ucap Alex.
Sementara Vando yang mendengar ucapan Alex barusan terkaget baru kali ini Alex mengatakan hal konyol seperti itu.
Cinta ku. Vando.
Vando keluar dari ruangan Alex menuju ruangan nya kata kata cinta ku masih berputar di otak Vando.
"Pergilah cinta ku." ucap Vando keras.
Karyawan yang mendengar ucapan Vando barusan menatap nya dengan heran tapi tidak berani ketawa Vando yang di tatap seperti itu pun melangkah cepat memasuki ruangan nya.
"Bodoh bodoh bodoh." ucap Vando memukuli kepala sendiri.
"Ini nie efek virus Tuan Alex kayak gini." ucap Vando mengatai diri nya sendiri.
Sementara di ruangan Alex dia sedang melamun mengingat Laras waktu tadi sementara Laras dia membersihkan tempat makan tadi.
"Nona jangan." ucap Bi iim melarang Laras saat tangan nya akan mengambil piring kotor itu.
__ADS_1
"Bi iim." ucap Laras kaget.
"Bi iim apa kabar." ucap Laras dia menatap Bi iim.
"Baik Nona." ucap Bi iim begitu sopan.
"Bi aku Laras bukan Nona." ucap Laras agak keberatan.
"Tidak Nona Laras, sekarang Nona istri dari Tuan Alex tidak pantas sekali saya memanggil anda dengan nama seperti itu." ucap Bi iim menjelaskan.
Tapi berbeda dengan Laras dia terlihat tidak suka dengan ucapan Bi iim barusan tapi Laras mencoba tidak memasukan ke hati.
"Bi iim, Laras mau ketaman dulu yah." ucap Laras.
Bi iim mengangguk dia lanjut membersihkan piring kotor itu sementara Laras dia sudah ada di taman.
Melihat lihat pemandangan di pagi hari yang sangat segar sekali Laras pun duduk di bangku taman itu dengan perasaan tenang.
"Non Laras." ucap Bi iim.
"Bi iim." ucap Laras.
Bi iim meletak kan sebuah buah dan jus di taruh di dekat Laras dengan sopan sementara Laras tak mengerti arti makanan itu semua.
"Non tadi Tuan Alex telpon Bi Iim dia menyuruh Bi iim untuk memberi buah buahan ini." ucap Bi iim.
Laras hanya tersenyum menatap Bi iim wajah nya terlihat sekali memerah tak lama Bi Iim pergi lagi meninggalkan Laras sendiri.
Laras mengambil garpu di samping piring itu dia memakan buah melon itu dengan perasaan kesal sekali tapi Laras tetap memakan nya dengan pelan.
Alex diruang meeting sangat fokus sekali dia berkali kali senyum pada rekan meeting nya sementara Vando berdiri tepat di samping Alex.
Meeting pun berjalan lancar sekali selancar jalan tol Alex keluar dari ruangan meeting nya menuju ruangan nya.
"Tuan mau saya buatkan kopi." ucap Vando karna melihat Alex lelah sekali.
"Tidak aku mau pulang." ucap Alex dia mengambil jas nya dan berdiri.
Alex keluar dari ruangan nya Vando pun mengikuti di belakang nya dia berkali kali menghembuskan nafas karna sikap Alex yang banyak berubah hanya karna semalam.
Vando menyetir dengan pelan seperti biasa sementara orang di belakang nya tidak sabaran berkali kali Alex menatap Vando.
"Vando cepetan." ucap Alex suara nya sudah mulai tinggi.
Vando pun mempercepat laju mobil nya Alex di belakang sudah tidak menatap Vando lagi dia fokus ke jalan.
__ADS_1
Mobil pun berhenti di depan rumah Alex dengan cepat Vando membuka pintu mobil nya dan menunduk sopan.
Alex langsung berlari masuk ke rumah nya dia pertama kali menuju kamar nya tapi tidak ada Laras di kamar Alex wajah Alex sudah marah dia keluar dari kamar nya mencari cari Laras tidak ada bahkan Bi iim pun tidak ada di kamar nya.