
Sonya masih menangis dipelukan Laras dia bahkan belum bisa melihat wajah Ibu nya untuk terakhir kali.
"Laras, aku mohon izin kan aku pulang." ucap Sonya tangan nya memegang tangan Laras.
"Kalo kamu merasa sudah sehat, aku bisa apa." ucap Laras.
Sonya pun mengucap banyak terima kasih pada Laras, dia ingin bangun dari tempat tidur nya tapi tangan nya di tahan Laras.
"Aku temeni." ucap Laras.
Sonya menatap Laras tak percaya dengan ucapan Laras sementara Laras tersenyum menatap Sonya.
"Kamu yakin.??" ucap Sonya.
Laras mengangguk, dengan keputusan itu mereka pun langsung pergi ke kampung nya yang ada di Indramayu kampung kecil sejuta dengan mangga.
Sesampainya di sana Sonya langsung melihat kuburan ibunya yang di samping ayahnya tangis Sonya meledak sementara Laras menguatkan nya.
"Ibu." ucap Sonya tak bisa lagi dia mengucap kata itu di wajah ibu nya.
Laras ikut menangis di samping nya kenapa takdir nya tega mempermainkan nya hari semakin gelap karna mereka sampai sore hari dan langsung menuju makam nya.
"Son, kita pulang yuh." ucap Laras mengajak Sonya.
Sonya sedikit mengapus air mata nya dia bangun dari makam Ibunya, Laras menuntun Sonya karna masih lemas sekali sesampainya di rumah Sonya masih banyak kerabat yang datang.
Sonya duduk di teras melamun melihat kenangan kecil yang seakan akan memudar hilang, saat itu sebuah mobil berhenti di depan rumah Sonya.
Laras melihat mobil itu dan keluar lah Ayahnya Dodit berserta Istrinya dan seorang perempuan dia terlihat cantik dan pakaian nya bagus, walau bukan merek asli.
Sonya berdiri menatap mereka dengan aneh sementara Laras berdiri di belakang Sonya dia tau siapa mereka.
"Son, ini Pak Lurah maaf yah menganggu kalian, Pak Lurah ingin mengucapkan turut berduka cita atas wafat nya Ibu mu." ucap Pak Lurah sopan.
Sementara kedua wanita itu seperti tidak betah di rumah Sonya yang jauh dari kata mewah.
"Pak ayo, ini hampir telat." ucap Istri nya.
Pak Lurah pun memberikan selembar kertas dan menyerahkan nya kepada Sonya.
__ADS_1
"Sonya, bapak hanya bisa meminta maaf." ucap Pak Lurah dia pergi dari situ.
Sonya memandangi Lembaran kertas itu tertulis indah sekali Dodit dan Dara, senyum Sonya mengembang sementara Air mata nya menangis.
Laras yang melihat langsung menghampiri Sonya dia memeluk sahabat nya menguatkan nya.
"Laras." ucap Sonya menangis kencang.
Mereka pun saling menguatkan, Satu minggu mereka ada di Indramayu lalu mereka kembali lagi di kota melanjutkan hidup nya.
Mereka sudah ada di kosan Laras mencoba menguatkan Sonya walau berat masalah nya dia harus bisa menghadapinya dengan tersenyum.
"Laras, makasih sudah ada disaat aku terpuruk." ucap Sonya.
"Iyah Son, aku juga makasih sudah mau menjadi sahabat terbaik ku." ucap Laras.
Tanpa Sonya tau Laras berkorban banyak untuk kesembuhan nya tapi Laras tidak mau memberi tau nya karna dia sudah menganggap Sonya sebagai adiknya.
Tiba tiba pintu kosan Laras ada yang mengetuk nya dengan pelan mereka menatap pintu itu siapa yang bertamu malam malam begini.
"Son, kamu tidur aja biar aku yang buka." ucap Laras.
Sonya pun mengangguk dia lalu terbaring tidur Laras melangkah menuju pintunya saat dia membuka pintu nya Alex menatap nya marah.
Di dalam mobil Alex marah sekali pada Laras kemana aja dia selama ini bahkan Alex tak bisa mencarinya.
"Kau mau kabur." ucap Alex menatap benci Laras.
Laras mengeleng dia berusaha untuk tidak emosi karna Laras tidak menjawab Alex pun mencium bibir Laras dia merindukan kehangatan ini, merindukan bersama Laras entah kenapa ketika bersama Laras hatinya benar benar nyaman sekali.
Laras berusaha mendorong nya dia takut semua orang tau di kosan nya sementara Alex tak sedikit pun melepas kan nya dia malah memeluk tubuh Laras erat.
"Besok, kamu akan menikah dengan ku." ucap Alex saat sudah melepaskan pelukan Laras.
Laras menetralkan nafas nya karna ciuman itu sementara Alex dia benar benar bodoh sekali melakukan hal gila lagi.
"Tapi." ucap Laras.
"Tidak ada pengecualian.!! Ingat itu." ucap Alex menatap Wajah Laras.
__ADS_1
"Sekarang kamu boleh keluar." ucap Alex menyuruh Laras.
Laras pun keluar dari mobil Alex dia sedikit membenarkan baju nya karna ulah Alex tadi, Laras melangkah ke kosan dengan perasaan campur aduk sekali.
Saat sudah berada di depan kosan Laras menjatuhkan air mata nya pernikahan yang dia ingin kan kini hilang bagai di telan bumi, yang ada hanya luka yang akan menghampiri nya.
"Laras, kamu kenapa.??" ucap Sonya dia tidak tidur karna menunggu Laras lama sekali.
"Sonya." Laras langsung berhambur memeluk nya menumpahkan semua air mata nya.
Sonya yang tak mengerti sikap Laras itu berusaha menenangkan nya dia menuntun Laras masuk ke kamar sesampainya di kamar Laras merasa lega.
"Kamu kenapa.??" ucap Sonya menatap sahabat nya.
"Aku hanya senang aja Son, akhirnya aku bisa masuk keperusahaan." ucap Laras berbohong.
"Aku kira kenapa.??" ucap Sonya tersenyum.
"Seperti nya besok aku akan tinggal di dekat perusahaan Son." ucap Laras.
Sontak membuat Sonya kaget dia menatap Laras tak percaya dengan ucapan Laras barusan.
"Kau yakin." ucap Sonya menanyakan kedua kali.
Laras mengangguk tanda dia yakin sekali dengan keputusan nya itu Sonya menatap Laras seakan ada yang di sembunyikan tapi entah apa itu.
"Aku ngantuk Son." ucap Laras.
Dia pun berdiri mengambil selimut di lemari dan merebahkan dirinya di samping Sonya tertidur dengan lelap sekali, sementara Alex memandangi pintu kosan Laras, senyum nya mengembang.
Alex pun mengusap bibir nya dengan lembut, dia pun lalu menjalankan mobil nya meninggalkan Kosan Laras.
Diperjalanan tak henti henti nya Alex tersenyum sampai memperlihatkan gigi nya yang putih bersih itu, tak berapa lama Alex sampai di rumahnya.
Di sana Lexa sudah menunggu Abang nya entah kenapa akhir akhir ini Abang nya sangat berbeda, Lexa begitu khawatir sehingga dia duduk di sofa menunggu Alex karna mengantuk dia ketiduran sampai Alex datang, Saat Alex melihat Sonya tertidur di sofa karna menunggu nya.
Dia pun melepaskan Jas nya di meja tamu itu dan menatap adiknya dengan lembut lalu membelai rambut nya dengan penuh kasih sayang.
Alex pun mengendong Lexa dan menaruhnya dikamar nya dia tersenyum pada Lexa.
__ADS_1
"Abang, tidak akan membiarkan kamu terluka de." ucap Alex.
Kata panggilan Ade, jarang sekali dia ucap entah kenapa hari ini dia mengucapnya begitu saja Alex pun mematikan Lampunya dan keluar dari Kamar Lexa, dia menuju Kamar nya ingin merendam tubuh nya dengan air panas yang membuat otak nya fresh kembali.