
Saat sampai di dalam cafe seorang pelayan yang tak asing bagi Laras dia menatap orang itu betapa kaget sekali ketika Bu Menejer menjadi pelayan Cafe.
"Silahkan Non." ucapnya sopan.
"Bu menejer." ucap Laras kaget saat tau pelayan itu bos nya dulu.
"Non, panggil saya Ratih aja saya hanya sekedar pelayan cafe." ucap Ratih sambil menunduk takut.
"Apa Alex yang menurun kan jabatan mu?." tanya Laras menatap Ratih lembut.
"Tidak Nona, Tuan Alex sangat baik sekali sama saya." ucap Ratih ketakutan.
Alex terdiam dia males sekali menanggepi Laras yang memperdulikan orang yang pernah menyakitinnya.
Saat Laras akan berbicara seseorang datang membawa makanan dan menyajikan nya tepat di meja Laras dia pun tersenyum dengan sangat manis.
"Vivi." ucap Laras kaget sekali siapa orang yang ada di hadapan nya ini.
Laras langsung berhambur memeluk Vivi dengan erat sekali begitu juga dengan Vivi dia membalas pelukan dari teman lama nya ini yang sudah lama tak melihat nya.
"Aku merindukan mu, Laras." ucap Vivian sambil menangis.
"Aku juga." ucap Laras lagi.
Alex pun mendehem mengingatkan Vivian betapa kurang ajarnya sikap bawahan nya itu mendengar suara Alex, Vivian langsung tersadar dia pun langsung melepaskan pelukan nya.
"Maaf Nona." ucap Vivian sambil menunduk hormat.
Laras pun merasa sangat kesal sekali dengan sikap Alex itu padahal dirinya masih ingin berbincang bincang dengan Vivian.
"Vi, lain kali jangan manggil aku dengan sebutan itu yah." ucap Laras dia berusaha menyembunyikan perasaan kesal di hati nya.
"Tapi Nona." ucap Vivian dia tidak berani menatap Laras.
"Sudahlah, aku mengajak kamu kesini bukan untuk temu kangen." ucap Alex dia mulai kesal karna sedari tadi di acuhin.
Dengan kasar Alex meraih sendok yang ada di depan nya dan memasukan makanan ke dalam mulutnya Laras yang melihat sikap Alex seperti anak kecil saja.
"Kenapa senyum." ucap Alex saat melihat wajah Laras tersenyum dengan manis nya.
"Makasih untuk semua nya." ucap Laras.
Laras pun langsung memeluk Alex dengan erat sekali tanpa Alex sadari Laras meneteskan air mata bahagia karna memiliki orang yang sangat mencintai nya dengan tulus semoga saja dia tidak akan berpisah dengan orang ini.
Sementara itu seseorang yang mengikuti mereka sedari tadi mengepalkan tangan nya dengan erat sekali seakan ingin meninju perempuan itu.
__ADS_1
"Bersenang senang lah, karna sebentar lagi kamu akan berpisah dengan nya." ucap nya lagi sebelum benar benar pergi dari situ.
Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi karna yang mengendarai nya sedang emosi dia pun menabrak sebuah motor yang tak jauh dari nya.
Brukk.
Bunyi keras karna seseorang terjatuh dan sepeda motor pun ikut terpental beberapa meter.
"Astaga." ucap Nessa dia melihat kedepan dengan takut.
"Hey keluar." ucap ucap cowok yang tertabrak tadi.
Dengan pelan pelan Nessa membuka kaca jendela tidak berani keluar dari dalam mobil nya hatinya masih berdetak dengan sangat kencang.
"Keluar." bentak laki laki itu saat melihat Nessa hanya memandangi nya dari dalam.
"Yah ada apa." ucap Nessa walaupun suara nya seperti membentak sejujurnya dia sangat ketakutan melihat lelaki yang di depan nya itu.
"Dasar tidak tau diri, minta maaf kek apa kek malah nanya ada apa lagi." ucap nya sambil marah.
"Apa, tadi kamu bilang tidak tau diri." ucap Nessa kini mulai berani dia pun langsung keluar dari dalam mobil nya.
"Nie." Nessa melempar uang tepat di depan muka lelaki itu.
Lelaki itu pun memunguti uang yang berserakan di tanah dengan teliti sementata Nessa memandanginya dengan tersenyum sombong.
"Udah miskin sok belagu lagi." ucap Nessa keras.
Lelaki itu pun mendekati Nessa dan menyerahkan uangnya dengan kasar sehingga tangan Nessa merasa sakit karna tangan lelaki itu memaksanya menaruh uang di tangan nya.
"Ambil uang mu wahai Nona sombong, satu hal yang perlu kamu pelajari di dunia ini Uang tidak bisa membeli kesopanan semoga kamu bisa cepat mendapat karma." ucap lelaki itu lalu pergi dari situ sambil menuntun sepeda motor nya.
"Dasar orang miskin belagu." ucap Nessa dia pun langsung masuk ke dalam mobilnya.
Sementara lelaki itu pun duduk tak jauh dari tempat tertabrak tadi dia membuka helm nya saat melihat tangan nya tergores dia pun mengeluarkan obat merah dari dalam tasnya dengan perasaan masih kesal sekali.
"Aww." ucap lelaki itu menahan perih karna beri obat merah pada kulit yang terlukanya.
Ketika luka nya sudah terbalut dengan benar lelaki itu melanjutkan perjalanan nya menuju rumah nya.
Dengan cepat lelaki itu menerobos malam yang membuat luka nya semakin perih tapi dirinya sedang terburu buru agar cepat sampai dirumah.
Sementara itu Laras dan Alex dia menikmati hidangan makanan dengan disekelilingi tawa dan canda membuat suasana disana semakin nyaman.
"Laras aku bahagia sekali melihat kamu tertawa tanpa beban, semoga saja kamu selalu ditemani dengan orang orang baik." ucap Vivian yang memandanginya tak jauh dari tempat duduk Laras.
__ADS_1
Sementara itu tak jauh dari Vivian seseorang sedang memandang benci kepada Laras dan juga Perempuan yang telah merebut posisi nya itu.
"Awas kalian aku pastikan sebelum aku mati hidup kalian harus menderita seperti hidup ku saat ini." ucap Ratih mantan Menejer nya dulu.
Karna malam semakin larut Alex pun membawa Laras pulang dari cafe nya saat akan pergi Vivian berlari mengejar Laras dia ingin memberikan sesuatu buat Laras.
"Laras." panggil Vivian dari dalam Cafe.
Laras pun berhenti melangkah dan menatap Vivian yang berlari ke arah nya dengan nafas ngos ngosan.
"Ini." ucap Vivian memberikan sebuah kotak di tangan Laras.
"Apa ini Vi." tanya Laras heran.
"Kamu buka aja kalo udah sampai di rumah, ohh yah Pak Alex maaf menganggu waktu bapak." ucap Vivian menunduk sopan.
"Tidak apa apa." ucap Alex dia pun menatap Laras.
"Ya sudah kalo begitu saya pergi dulu Vi." ucap Laras sambil memeluk Vivian dengan erat.
Tak terasa air mata mereka jatuh dan dengan cepat Laras mengapus air mata nya dia melepaskan pelukan nya.
"Sampai jumpa Vi." ucap Laras melambaikan tangan sebelum masuk ke mobil nya.
Vivian pun hanya mengangguk dan tersenyum dengan sangat lebar mobil Alex pun melaju meninggalkan cafe itu di dalam mobil Laras menatap kotak yang di beri Vivian barusan itu penasaran sekali.
Sementara Alex dia merasa ada sesuatu di dalam kotak pemberian Vivian tapi Alex mencoba untuk berfikir positif.
Hay para pembaca Boneka Tuan Kaya 😊
Kali ini Author ingin memberi informasi seputar Yt Author siapa tau dari kalian yang sedang bingung seputar pekerjaan dan keseharian Author bisa lihat di Yt Author.

Jangan Lupa yah mampir di Chanel Yt Author makasih salam manis 😊😊😊
__ADS_1