Boneka Tuan Kaya

Boneka Tuan Kaya
Bab 34 pengusuran


__ADS_3

Laras sedang berdiri dia menunggu Sonya tiba tiba dari depan seseorang yang mengendarai motor matic berhenti di depan nya.


"Pak Damar." ucap Laras dengan sopan.


"Bu Laras." ucap Damar dengan senyum.


Keberuntungan bagi Pak Damar yang tidak sengaja bertemu Laras di depan kosan nya langsung.


"Pagi pagi begini mau kemana Bu." ucap Damar dengan senyum.


"Ohh saya mau lari pagi Pak." ucap Laras dia terlihat risih karna sedari tadi Pak Damar selalu memandangi nya.


Tiba tiba pintu kosan Laras terbuka Sonya keluar dengan baju olah raga nya Laras pun menatap Sonya.


"Laras ayoo." ucap Sonya dia langsung menarik tangan Laras.


"Pak saya pergi dulu." ucap Laras dia melangkah pergi.


Padahal Damar masih ingin berbicara dengan Laras di jalan Sonya mulai cerewet menanyakan kan pria tadi.


"Tadi siapa Laras." ucap Sonya sambil berjalan.


"Dia guru baru di sekolah ku Son." ucap Laras dia masih fokus kejalan.


"Seperti nya dia menyukai mu Laras." ucap Sonya.


Langkah kaki Laras terhenti mendengar ucapan Sonya barusan dia menatap Sonya begitu pun juga Sonya.


"Aku gak tertarik Son menjalin hubungan untuk saat ini." ucap Laras wajah nya masih menatap Sonya.


"Sudah lah jangan di pikirkan dengan ucapan gue barusan." ucap Sonya dia menarik tangan Laras dengan senyum.


Laras langsung meluk Sonya yang selalu mengerti masalah hidup nya sahabat yang selalu ada untuk dirinya.


"Bu Sonya." panggil seorang ibu ibu dari belakang mereka.

__ADS_1


"Ehh Bu Erna." ucap Sonya dengan senyum.


"Lagi lari pagi Bu." ucap Bu Erna dia perempuan yang bergelar Dokter dan sangat di segani di kampung ini.


Laras yang tau tentang persaingan Erna dan Sonya hanya diam saja melihat mereka dengan tatapan sinis.


"Bu saya pergi dulu teman saya sudah menunggu." ucap Sonya dia melangkah pergi dari situ.


"Dasar perempuan sok cantik." ucap Bu Erna saat Laras dan Sonya sudah pergi jauh.


Sonya setelah meninggalkan orang tadi agak jauh dia mengomel ngomel dengan kesal sekali.


"Sabar Son." ucap Laras yang sedari tadi mengutuki nenek sihir muda itu.


"Suka kesel Laras gue sama dia." ucap Sonya.


Mereka pun pulang ke kosan dengan keringat yang banyak sudah hampir satu tahun Laras dan Sonya tinggal di desa ini yang jauh dari keramaian kota.


Sementara itu Alex dia menjadi dingin dan arogan bahkan Alex tak pandang bulu sedikit pun kalo karyawan nya telat datang dia akan langsung memecat nya.


Karna Alex gila kerja perusahaan nya semakin sukses dia mempunyai banyak cabang untuk usaha moll nya bukan hanya itu Alex kini sedang membangun anak cabang di sebuah desa yang jauh dari kata mewah.


"Gusur sekolah yang menghalangi pembangunan moll ku dan beri mereka uang untuk membuat sekolah yang baru." ucap Alex dia melempar berkas itu tak perduli.


"Baik Tuan." ucap Vando dia melangkah pergi menuju desa itu.


Karna perjalanan nya sangat jauh Vando menyuruh anak buah nya yang mengatur segala sesuatu di desa itu.


Sementara itu di sebuah kantor ruangan kepala sekolah semua guru sedang kumpul karna akan rapat mengenai pengusuran sekolah nya.


"Bu bukan nya ini tanah kita harus nya kita melawan mereka bukan menyerah kan nya begitu saja walau pun mereka penguasa tapi mereka tidak berhak semena mena pada kita orang kampung." ucap Laras dia agak keberatan kalo sekolah ini harus di gusur.


"Saya juga berpendapat seperti itu tapi harus bagaimana lagi kita hanya orang miskin yang dengan gampang nya mereka musnakan." ucap Bu Nartih dia selaku kepala sekolah.


"Tapi kita punya harga diri Bu." ucap Laras.

__ADS_1


Semua guru di situ menyetujui Laras karna bagaimana pun membangun sekolah baru itu memerlukan biaya besar belum lagi membeli tanah.


"Tapi." ucapan Bu Nartih terpotong karna seseorang masuk begitu saja di kantor nya.


"Anda siapa main masuk saja." ucap Laras menatap Pria yang berjas hitam itu.


Pria itu membuka koper berisi uang dan berkas berkas dan dia menatap semua orang yang ada disitu termasuk Laras.


"Saya disini mandor dari pembangunan moll di desa kalian jadi tolong kerja sama nya biar desa ini semakin maju." ucap Pria itu dia berdiri tak duduk sama sekali.


Laras pun berdiri dia tidak terima dengan tingkah nya yang semena mena itu Laras menunjuk Mandor itu dengan telunjuk kanan nya.


"Kau hanya bawahan jadi jaga sikap mu sama penduduk kampung sini dan juga saya sebagai penduduk disini menolak dengan tegas pergusuran di sekolah ini." ucap Laras dia tidak takut sama sekali.


Pria itu mengebrak meja nya dia menatap tajam Laras tangan nya kembali menunjuk Laras dengan tegas.


"Kamu hanya penduduk desa yang tidak tau kemajuan jadi tanda tangani saja kalo tidak ingin berurusan dengan bos ku." ucap Pria itu lagi.


"Bawa kesini bos mu itu aku sama sekali tak takut pada nya." ucap Laras dia kembali mengebrak meja nya.


Semua guru yang baru takut sikap Laras pemberani pun memandangi Laras dengan kagum sekali guru yang tidak kenal takut.


"Baik saya akan bawah bos saya dan saya jamin hidup kalian akan sengsara karna tidak mau berdamai ingat itu." ucap Pria itu dengan emosi dia meninggalkan ruangan itu.


Laras begitu emosi sekali dia lalu duduk dengan lemas apa yang harus dia lakukan tapi dia tidak mau sekolah ini di gusur oleh mereka yang bertindak tidak sopan bahkan semena mena pada penduduk desa yang asli orang sini.


Damar baru saja datang karna dia harus menyerah kan laporan ke kampus nya sesampai nya di ruangan nya tidak ada satu pun guru yang masuk.


Pintu ruangan pun terbuka semua guru membicarakan pengusuran di sekolahan nya wajah Damar tampak kaget sekali mendengar pembicaraan itu.


"Bu apa benar yang di bicarakan tadi." ucap Damar dengan sopan bertanya pada guru disitu.


"Iyah Pak Damar bahkan Bu Laras dengan berani nya mengebrak meja kepada mandor kota itu dan menyuruh bos nya datang." ucap Bu guru itu.


Wajah Danar kembali tersenyum bukan hanya cantik tapi dia bahkan peduli pada sesama itu membuat Damar semakin menyukai nya.

__ADS_1


Laras pun izin pulang pada Bu Nartih dia terlihat lelah sekali melihat Bu Laras pucat seperti itu Bu Nartih mengizinkan nya.


Laras pulang ke kosan nya dengan wajah tampak murung sekali memikirkan tempat kerja nya yang ingin digusur walau Laras tau dirinya tidak akan bisa menghentikan pengusuran itu tapi dia akan berusaha semampu mungkin mempertahankan nya.


__ADS_2