Boneka Tuan Kaya

Boneka Tuan Kaya
Bab 60


__ADS_3

"Non Lexa." ucap Vando meraih tangan Lexa yang berdarah akibat benturan tapi rahang Vando mengeras dia hendak membunuh Orang yang telah membuat Lexa terluka.


"Vando." panggil Alex.


Vando pun berdiri lalu menunduk sopan pada Alex mereka seperti memberi isyarat Vando pun mengangguk hendak melangkah dia lalu berbalik menatap Lexa begitu juga dengan Lexa menatap lelaki yang mulai mencuri hatinya itu.


"Non Lexa, Mari saya bantu." ucap Vando.


Vando pun langsung meraih tubuh lemah Lexa dan mendudukan nya di ranjang, sementara Laras dan Alex mereka sudah keluar dari ruangan Lexa.


Didalam mobil Laras masih terdiam dia tidak habis fikir dengan keluarga Bayu apa dan kenapa mereka sampai tega membunuh orang yang tak bersalah termasuk darah daging nya sendiri.


"Sayang." panggil Alex meraih tangan Laras yang terasa dingin.


Laras menatap wajah Alex dengan sendu ada banyak pertanyaan di benak Laras tapi entah mana dulu yang harus dia kata kan.


"Apa keluarga ku mengenal keluarga mu." ucap Laras pertanyaan dari beribu pertanyaan.


Alex pun mulai bercerita dengan panjang Kali lebar menceritakan masa lalu keluarga nya Laras mendengarkan dengan sangat teliti.


Flashback.


"Selamat yah atas kenaikan jabatan baru mu." ucap Ayah nya Bayu kepada Ayahnya Laras.


"Makasih Her." ucap Hendri.


Mereka berdua pun saling berbincang bincang dengan disematkan candaan tanpa Hendri Sadari Heri merencanakan sesuatu untunya.


Jam kantor pun telah usai para pekerja kantor pun pulang tinggal lah sih Hendri dan Heri yang masih berkutak di ruangan nya karna ada tugas banyak yang harus diselesaikan.


Jam menunjukan pukul setengah satu Hendri pun baru menyadari waktu nya sudah malam dia pun membereskan meja kerja nya setelah selesai dia menatap Heri yang sedang masih fokus mengerjakan kerjaannya.


"Her." panggil Hendri sambil menuju meja kerja Heri.


Heri yang mendengar panggilan Hendri pun hanya terdiam dia tidak merespon sama sekali.

__ADS_1


"Heri, aku pulang duluan." tegur Hendri sambil menepuk bahu Heri.


"Ohh yah, gimana." ucap Heri dengan senyum palsu nya.


Hendri sekilas melihat meja kerja Hendri dia pun tersenyum dengan sangat lebar sementara Heri ikut yang melihat Hendri tersenyum ikut tersenyum mengurangi rasa gugup nya itu.


"Kalo kangen sama Risma pulang jangan dipandangi fotonya aja." ledek Hendri dengan senyum diwajah nya.


"Eehh iyah, aku sampai malu ketauan." ucap Heri dengan senyum Ghosting nya.


"Yuk pulang." ajak Hendri dengan tulus.


Heri pun langsung mengeleng dia mengatakan ingin menyelesaikan dulu kerjaan nya karna sebentar lagi selesai.


"Ya sudah kalo gitu aku pergi dulu." ucap Hendri dia pun menepuk pundak Heri dan berlalu pergi meninggalkan nya sendiri.


Hendri keluar dari ruangan Heri dia melangkah kan kakinya sambil melirik jam yang menunjukan pukul 00 : 45 WIB, langkah kaki Hendri mempercepat langkah nya.


Ting.


"Alhamdulilah." ucap Hendri saat melihat isi pesan tersebut.


Sambil berlari kecil Hendri menuju mobilnya dia hendak menemui istrinya yang sudah melahirkan dirumah sakit karna handphone Hendri tak dihidupkan sehingga dia tidak mendapatkan kabar dari istrinya tersebut baru ketika handphone dihidupkan dia mendapatkan kabar bahagia itu.


Mobil pun terparkir di area rumah sakit dengan tergesa gesa Hendri Memasuki rumah sakit tapi yang didapatkan bukan kebahagiaan melainkan rasa sedih yang menimpa dirinya itu, Istri tercinta nya meninggal dengan cara mengenaskan sementara anak nya entah di bawah kemana.


"Heri, apa yang kau lakukan." ucapan Hendri memenuhi ruangan kamar bersalin istrinya itu.


Heri dengan senyum tak bersalahnya melangkah mendekati Hendri dengan pelan sambil mengelap darah yang masih menempel dipisau itu.


"Aku membenci mu, karna kamu hadir di hidup ku dan jadi penghalang ke suksesan ku mendapatkan harta." ucap Heri dengan wajah tak sedikit pun mempunyai rasa kasian.


"Dasar gila." ucap Hendri.


Brug.

__ADS_1


Hendri yang tak bisa menahan amarah nya memukul wajah Heri hingga terjatuh kelantai dengan keras, mata Hendri menyusuri setiap bagian tubuh wanita yang sangat dicintai nya itu.


"Sayang, bangun ini aku datang." ucap Hendri dengan nada menahan tangis sementara air mata nya sudah terjatuh.


Karna tak ada jawaban dari istrinya Hendri pun berdiri meraih kerah baju nya Heri hingga membenturkan nya ditembok.


"Dimana anakku." ucap Hendri mata yang sudah menyiratkn rasa amarah yang memdalam.


"Dia sudah MATII" teriak Heri di depan muka Hendri tak lama kemudian dia tertawa dengan mengejek.


Plak.


Sebuah Tamparan yang sangat keras mengenai pipi Heri, tapi Heri kembali memukul wajah Hendri hingga pertarungan pun tak bisa dielakkan.


Hendri yang sudah sangat marah pun masih memukuli Heri dengan keras sementara Heri berusaha menghindari pukulan itu, hingga kesialan itu menimpa Hendri, Heri menancapkan pisau nya tepat dijantung Hendri.


Tubuh kekar dan berlumuran darah yang masih segar itu pun terjatuh berceceran di keramik rumah sakit itu hingga membuat keramik yang putih kini terlihat kotor dan menyeramkan.


"Mampus." ucap Heri dia pun segera pergi dari ruangan itu hendak mencari bayi dari lelaki itu.


Tapi saat mencarinya diruangan bayi sudah tidak ada bayi nya betapa marah sekali Hari dia pun langsung menendang tempat tidur bayi Hendri itu.


Tak jauh dari Hendri seorang suster membawa bayinya karna dia melihat sendiri kejadian perkelahian itu, suster itu pun juga tau kalo rumah sakit itu bekerjasama kepada pria jahat itu.


Hujan pun turun dengan sangat deras nya sementara suster itu terus berlari menerpa gelap nya malam, saat akan menyeberang sebuah mobil menabrak tubuh suster itu, bayi yang digendong nya terpental dan jatuh ke sungai.


Mobil yang menabrak Suster itu pun langsung keluar dia menatap dengan wajah tersenyum senang Karna sudah tidak ada lagi akar dari orang itu.


Bayi yang malang itu terhanyut hanyut oleh deras nya air hingga ada seorang ibu ibu yang hendak mencuci pakaian disungai dia mendengar tangis bayi itu.


Betapa kaget sekali saat melihat wajah cantik dan mungil itu menangis dengan kerasnya ibu itu pun dengan cepat membawa bayi itu kepanti asuhan milik nya.


Bayi cantik itu pun di beri perawatan dengan baik dan juga mendapatkan tempat yang layak semua orang disitu sangat menyayangi anak itu hingga banyak yang ingin mengadopsi nya tapi Ibu pemilik panti itu terlalu menyayangi bayi itu sehingga dia tidak mau kalo bayi itu di adopsi jadi di angkat menjadi anak nya dan di beri nama Laras.


Mendengar cerita panjang Alex air mata Laras terus terjatuh dia tidak menyangka jika selama ini dirinya pernah jatuh cinta pada anak yang telah membunuh keluarga nya.

__ADS_1


__ADS_2