Boneka Tuan Kaya

Boneka Tuan Kaya
Bab 35 Marah nya Alex.


__ADS_3

Siang hari Mandor yang ditugasi mengurus semua tentang pembangunan mol itu datang ke kantor dia sekarang berada di kantor Alex sambil bersujud.


"Tuan maaf saya tidak bisa menjalankan tugas ini semua guru disana menolak nya salah satu dari mereka bahkan menghina Tuan." ucap Mandor itu dia sambil menunduk.


Prang.


Sebuah gelas kaca jatuh hampir mengenai mandor itu Alex pun berdiri dari kursi nya baru kali ini ada yang menolak pengusuran nya.


"Dasar kamu tidak berguna." ucap Alex dengan marah sekali.


Vando yang berdiri tepat di belakang Alex pun terlihat geram dengan ucapan utusan mandor itu bagaimana cuma sekedar gadis kampungan bisa menghalangi pembangunan nya.


"Gadis itu bahkan meminta saya membawa anda karna dia sama sekali tidak takut dengan anda Tuan." ucap mandor itu.


"Baik saya akan datang sekarang juga Vando siapkan mobil nya." ucap Alex dia sangat marah sekali.


"Baik Tuan." ucap Vando dia melangkah keluar dari situ dengan cepat.


Alex keluar dari ruangan nya mandor nya pun mengikuti nya dia begitu senang karna gadis kampung itu akan terkena masalah karna tidak menuruti ucapan nya.


Satu hari Alex di perjalanan dia sama sekali tidak terlihat lelah Vando berkali kali menatap Alex di spion nya.


"Tuan seperti nya dua jam lagi kita akan sampai di desa itu jadi alangkah lebih baik nya Tuan istirahat sebentar untuk menyegarkan badan Tuan." ucap Vando sambil menyetir.


"Yah." ucap Alex dia masih fokus mengetik di laptop nya.


Vando pun memarkir kan mobil nya di penginapan itu Vando keluar terlebih dahulu lalu dia membuka pintu mobil Alex saat Alex turun banyak mata perempuan yang menatap nya dengan terpesona kagum oleh ketampanan Alex.


Vando pun memesan kamar sementara Alex dia duduk di cafe hotel itu sambil melihat handphone nya tak lama pelayan datang membawa minuman dua kepada Alex karna Vando memesan minuman.


"Tuan." ucap Vando dia menunduk.


Alex menyuruh nya duduk Vando pun duduk di samping Alex dia menatap minuman di depan Alex yang hampir isi nya habis di minum oleh Alex.


"Tuan kamar nya sudah saya pesan." ucap Vando mulai berbicara.

__ADS_1


"Baik lah aku capek mau mandi." ucap Alex berdiri.


Vando pun langsung berdiri dia membawa barang Alex dengan hati hati Alex melangkah masuk ke kamar nya dia melihat pemandangan desa itu dari jendela hotel ini sangat nyaman sekali.


Perasaan Alex mengebu gebu ingin memeluk Laras dia sangat merindukan Laras sangat sangat merindukan lamunan Alex tersadar karna ucapan Vando.


"Tuan air panas nya sudah siap." ucap Vando.


"Saya akan lama berendam jadi siap kan aku makanan." ucap Alex dia masuk ke kamar mandi.


Vando mengangguk mengerti dia pun keluar dari kamar nya dengan perasaan bahagia karna Tuan nya tidak terlihat marah lagi.


Sementara Alex dia merendam tubuh nya dengan memejam kan mata nya mengingat wajah Laras yang mencuri hatinya banyak sekali perempuan yang berusaha mencuri hati nya tapi Alex sama sekali tak melirik nya sedikit.


Dan selama setahun ini Lexa berubah menjadi dewasa dia tidak lagi menangis mengatasi masalah nya dia menyibukan diri nya sendiri dengan memulai sebuah bisnis makanan dari uang hasil tabungan nya sendiri.


Karna sudah lumayan dingin sekali air rendaman nya itu Alex bangun dan membersihkan tubuh nya.


"Tuan." ketukan pintu dari kamar mandi nya membuat Alex kaget.


"Tuan saya Vando." ucap Vando sudah lebih dari tiga jam Alex di kamar mandi nya itu membuat Vando cemas.


"Saya bentar lagi keluar." ucap Alex dia terlihat kesal dari cara bicara nya.


Vando pun segera menyiapkan baju nya Alex keluar menggunakan handuk dan memakai baju yang di siap kan Vando.


Alex menatap Vando yang berdiri di sofa dengan tegas Alex kemudian duduk di sofa melihat makanan yang di sajikan Vando.


"Tuan besok kita akan kesana karna sekarang sudah malam mungkin pagi sekali karna di pedesaan ini masih sepi jadi tidak terlalu banyak yang masuk menggunakan mobil." ucap Vando dia menerima laporan dari mandor itu.


"Urus semua nya aku tidak mau mengendarai sepeda motor." ucap Alex dia masih asik memakan makanan di meja itu.


"Baik Tuan." ucap Vando dengan tegas.


Mereka pun menghabiskan malam di hotel itu Sementara Laras dia sedang duduk di teras depan kosan nya dengan mondar mandir memikirkan besok Sonya yang mengerti kegelisahan sahabat nya ini pun keluar sambil membawa teh hangat dan biskuit.

__ADS_1


"Kamu masih mikirin besok Laras." ucap Sonya dia menaruh minuman dan cemilan itu di meja.


"Sonya aku tak masalah kalo mereka membangun moll di tanah kosong tapi harus kah mereka mengusur sekolahan yang tak seberapa lebar tanah itu." ucap Laras dia semakin tak mengerti jalan pikiran orang itu.


"Karna sekolah tempat mu mengajar itu bisa menghalangi moll nya mungkin itu yang mereka pikirkan." ucap Sonya.


"Tapi aku tidak bisa melihat sekolah yang sudah usang itu di gusur walau bagaimana pun mereka." ucapan Laras tertahan mata nya sudah memerah.


"Mereka tidak bisa membangun kembali karna dana nya akan kurang dan itu membuat hati ku hancur Son." ucap Laras lagi.


Sonya memeluk Laras dia menguatkan Laras dia tau Laras sangat peduli sekali pada anak anak yang ada di sekolah itu sejak awal Laras pun menolak di gaji tapi karna tidak bisa menolak keinginan Bu Nartih Laras menerima nya walau tak seberapa banyak.


"Minum teh dulu yuk." ajak Sonya.


Mereka pun duduk di bangku itu dengan meminum teh hangat dan biskuit.


Tiba tiba tamu yang tak di undang datang menemui mereka Sonya menatap kesal sekali siapa pria yang datang ini.


"Herman." ucap Laras dia kaget karna Sonya ada disini.


"Iyah Bu Laras, Bu saya boleh berbicara dengan Dokter Sonya sebentar saja." ucap Herman dia meminta izin.


Laras bingung harus bersikap apa dia menatap Sonya tapi wajah Sonya terlihat kesal sekali tapi lirik mata nya membiarkan Herman berbicara pada nya.


"Kalo begitu saya pergi ke dalam yah mau menyiapkan minuman." ucap Laras dia langsung masuk.


"Son, aku benar benar tulus mencintai kamu." ucap Herman dia masih berdiri sambil menatap Sonya.


"Herman berhenti membuat hidup ku susah aku tidak sama sekali mencintai mu jadi mohon terima keputusan ku." ucap Sonya menatap Herman.


"Baiklah jika itu keputusan mu aku cuma mau memberi tau minggu depan aku akan ke jerman membantu kakak ku disana jadi izin kan sisa hari ini aku mengajak mu ke suatu tempat." ucap Herman.


Wajah Sonya terlihat sedikit sedih saat mendengar ucapan Herman barusan itu tapi dia tidak mau membuat susah kembali hidup nya.


Sonya hanya mengangguk Laras yang mendengar dari dalam pun tersenyum melihat mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2