
"Bergabunglah denganku, dan mari kita buru para makhluk bencana tersebut."
"Aku sudah menduganya ternyata begitu, kau mengumpulkan orang-orang kuat untuk memburu mereka."
"Benar, ketika kecil kota tempatku tinggal dihancurkan oleh Great Titan, saat itu semua orang berubah menjadi makanannya termasuk orang tuaku. Hal yang membuatku masih hidup sampai sekarang adalah balas dendam."
Ardhi merasa bahwa jika dia mengatakan bahwa penyihir Kegelapan masih hidup, orang di depannya akan memburunya juga.
"Kamu bisa meminta anggota partymu untuk bergabung."
"Aku memang akan menerimanya namun aku memilih untuk tidak melibatkan mereka pada sesuatu yang merepotkan, bagaimana menurutmu Yuki?"
"Aku juga setuju master, master memang kuat terlebih setelah berlatih saat musim dingin, apabila mereka ikut aku juga takut itu akan sangat berbahaya."
"Pedang yang bisa berbicara kah, jika kamu menerima tawaranku itu sudah lebih cukup."
"Lalu berapa makhluk bencana yang berhasil di kalahkan?"
"Tidak ada sama sekali, yang ada malam petualangku yang terbunuh.. saat aku mendengar bahwa kamu mengalahkan Servert itu menjadi harapanku tentu aku juga akan bergabung untuk ini."
Ardhi pikir itu wajar bahwa Sirna berniat turut ambil bagian juga, walau dia telah membentuk kelompok kuat pada dasarnya tidak ada pencapaian yang bisa mereka raih.
"Anastasia?"
Saat namanya dipanggil Anastasia masuk.
"Apa ada sesuatu?"
"Untuk malam ini biarkan Ardhi menginap di rumahmu, besok pagi kita akan pergi ada baiknya bahwa ia memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat."
Wajah Anastasia memerah meski demikian dia berusaha untuk segera mengiyakan.
"Kamu terlihat berbeda Anastasia, kamu terlihat lebih cantik dan lebih ceria."
"Tolong jangan menggodaku, aku merasa malu."
__ADS_1
"Pasti juga wanita ini berfikir tidur untuk master."
"A-aku ti-idak memikirkan hal aneh."
"Tuh kan, penyangkalannya terlihat mencurigakan."
"Pedang yang berbicara yang mencurigakan."
Atas provokasi Anastasia, Yuki Onna kembali ke bentuk manusianya, dia merangkum Ardhi dengan erat.
"Akulah yang akan menerima Master malam ini."
"A-aku tidak mengizinkan hal-hal aneh terjadi di rumahku."
"Dasar perawan."
"Apa?"
Ardhi hanya menggaruk pipinya ragu, doa meminta Yuki untuk menahan diri sampai mwreka benar-benar pulang ke rumah.
"Lalu bagaimana soal kuncinya?"
"Sejauh ini aku telah mendapatkan dua kunci."
"Begitu, aku yakin tidak mudah untuk mengalahkan sosok penjaganya."
"Semua juga berkat anggota kelompokku, aku mungkin sedikit bersalah pada Latifa yang terus memaksanya menggunakan sihir penyembuhan pada kami."
"Bukannya bisa menggunakan potion juga."
"Soal itu."
Yuki menggantikan tuannya untuk berbicara.
"Potion hanya untuk berjaga-jaga, jika Latifa tahu dia kemungkinan marah dan akan bekerja dua kali lipat dari seharusnya."
__ADS_1
"Rasanya seperti dia tidak ingin perannya digantikan oleh potion."
"Benar sekali."
Sesampainya di kediaman Anastasia, Ardhi dan Yuki meminjam kamar mandinya, Anastasia mengetuk pintu mereka selagi berkata sedikit lebih keras.
"Dengar kalian tidak boleh melakukan itu di rumah orang walaupun sudah menikah."
"Aku tahu, dasar cerewet."
"Dinding rumah ini tipis aku bisa mendengarnya jika ada hal aneh-aneh."
"Aku tahu."
"Kenapa kamu mendesah."
"Cuma perasaanmu."
Sementara itu Anastasia mulai membuat makanan yang cepat disajikan yaitu sebuah sebuah sashimi. Tidak banyak orang yang membuatnya namun untuk Yuki dia yakin akan sangat menyukainya.
Setelah banyak hal dihidangkan, Ardhi dan Yuki telah mengambil tempat untuk menikmati makanan bersama, masing-masing menggunakan sumpit untuk memasukannya ke dalam mulutnya.
"Rasanya benar-benar terasa di rumah, master coba makan ini.. bukan mulutmu."
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Jangan malu-malu."
Anastasia hanya mengerenyitkan alisnya dengan kemesraan mereka.
"Lalu bagaimana dengan anggota kelompokmu Ardhi?"
"Aku sudah menjelaskan situasinya pada mereka, aku yakin mereka bisa mengerti, memang rasanya tidak enak tapi ini demi kebaikan semua orang."
"Hmm, kamu terlalu baik."
__ADS_1