
Itu cukup membuat Ardhi terheran.
"Aku menyadari bahwa diriku tidak cocok menjadi hal seperti pahlawan, aku terlalu lunak terhadap monster dan juga aku selalu mudah dipengaruhi oleh iblis, karena itulah aku lebih suka seperti itu, tentu aku meminta siapapun merahasiakannya, dariku (kekuatan pahlawan) aku serahkan ke Vizel dan dari Vizel sepertinya menyerahkannya padamu. Kurasa sepertinya jalan yang dilalui dunia ini sedikit berkelok-kelok karena ulahku hehe."
Ardhi merasa tidak bisa menyalahkannya, meski dia tidak ingin bertarung namun dia tidak begitu saja luput untuk meninggalkan dunia ini.
Walau seperti itu, orang yang dipercayakannya tetap berhasil menjaga dunia.
Niss melanjutkan.
"Setelah kepergian pahlawan aku kembali menyusuri jalan sebagai petualang tanpa membunuh sampai akhirnya aku menemukan para Lamia. Mereka tinggal di dalam hutan untuk menyembunyikan diri mereka.
Aku mulai berbicara banyak hal dengan mereka dan aku pikir bahwa apa yang aku katakan nantinya pada orang lain akan tersampaikan bahwa monster sebenarnya bisa saling memahami walaupun hanya satu ras.
Namun setelah itu orang-orang malah memburu mereka secara besar-besaran untuk dijadikan sebagai pertunjukan, orang-orang akan membayar tinggi untuk melihat mereka.
Saat itulah aku memutuskan untuk menyelamatkan mereka lalu membangun labirin untuk melindungi mereka."
"Karena itulah labirin ini sangat lebih sulit dari labirin lainnya."
"Aku berharap bahwa mereka akan menyerah namun mereka malah lebih bersemangat untuk menerobos hingga akhirnya mereka semua mati, orang-orang pun mulai mengikuti untuk masuk. Aku menyelamatkan monster tapi aku juga malah membunuh banyak manusia di saat yang sama. Karena itulah aku membuat satu hal lagi yaitu menyembunyikan keberadaan tempat ini dengan mengalirkan jumlah mana tertentu untuk mengaktifkannya, selain labirin yang tersembunyi labirin ini akan mengeluarkan siapapun manusia yang masuk dan membuat perlindungan dari apapun, dan ketika aku sudah tidak bisa menjaga tempat ini aku ingin kamu mengambilnya Ardhi."
"Itu menjelaskan kenapa tak hanya Lamia yang ada di dungeon ini tapi monster lainnya juga."
__ADS_1
Niss mengangguk kecil.
"Kalau begitu ambilah ini."
Tubuh Ardhi bersinar sesaat sebelum akhirnya waktu kembali berjalan, tubuh Niss menjadi bola-bola cahaya yang lalu menghilang begitu saja.
"Ada apa nyan, aku sepertinya melewatkan hal penting nyan."
"Di mana tengkorak itu?" lanjut Marsya.
"Dia sudah pergi."
"Pergi."
"Apa yang Ardhi lakukan desu?"
"Aku mengeluarkan semua petualang dan monster yang ada di tempat ini kecuali Lamia, kemudian menyembunyikan keberadaan Labirin kembali."
"Ardhi sudah memiliki hak kepemilikan rupanya, baguslah desu."
Mery mengangguk kecil.
"Yuki Onna."
__ADS_1
"Aku tidak tahu bahwa dialah orangnya Master"
"Aku tidak mempermasalahkannya, ia hanya takut disebut sebagai pengecut."
"Master sudah menyadarinya, ia hanya terlalu baik untuk mengangkat sebuah pedang."
Ardhi mengangguk mengiyakan dan di saat yang sama Marsya hanya diam kebingungan sampai gerombolan Lamia muncul.
"Kami sangat berterima kasih, tuan kami belum sempat mengaktifkan perpindahan monsternya kami senang bahwa tuan Ardhi melakukannya untuk kami, sekarang kami bisa hidup dengan damai di sini."
"Aku juga turut senang, aku akan mensuplai mana sebelum habis jadi saat itu aku akan datang untuk memeriksa."
"Terima kasih banyak."
"Kalau begitu kami pergi sekarang, sampai jumpa."
"Sampai jumpa lagi, kami akan sering melakukan perkawinan untuk menambah jumlah kami."
Ardhi tidak ingin membayangkannya.
Menggunakan sihir teleportasi mereka kembali ke kota Georginia namun saat mereka tiba kota tersebut telah hancur.
"Sekarang ada apa lagi desu?"
__ADS_1
Semua perubahan ini terlalu cepat bagi mereka.