Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 69 : Pienat


__ADS_3

Hari sudah malam walaupun pemandangan tetap berwarna merah, Eren mulai membakar kayu yang ia kumpulkan lalu meletakkan beberapa ikan di pinggirnya.


Untuk Gloria dan Pienat mereka hanya menunggu dengan sabar sebelum menerima bagiannya masing-masing.


"Jadi apa di dalam peti itu, isinya mayat?"


Terhadap pertanyaan Eren, Pienat sedikit ragu menjawabnya.


"Aku sebenarnya kurang tahu, aku hanya menemukannya di dalam reruntuhan dan di atasnya ada sebuah pesan yang mengharuskan siapapun yang menemukannya membawanya kemana pun dia pergi atau kutukan akan menimpamu."


Bukannya membawanya juga sudah menjadi kutukan, ucap Eren dalam hati, dia segera berkonsultasi pada dewi lewat pikiran.


(Bagaimana menurutmu Dewi?)


(Peti itu sangatlah mencurigakan, bahkan mataku tidak bisa menembusnya)


(Bisa diasumsikan bahwa suatu benda di dalamnya sangat berbahaya)


Pagi berikutnya Eren meminta untuk membuka peti tersebut, akan berbahaya jika dibawa ke desa maka lebih baik jika memeriksanya saat ini juga.


Gloria sepakat sedangkan Pienat tidak keberatan.


"Walau kita memaksanya sulit untuk membukanya."


Sebelumya Pienat telah mencoba berbagai sihir dan perkakas sayangnya peti ini tidak mau terbuka, sekarang Eren harus mengalami hal sama sepertinya.


"Sihir apiku tidak mempan, tapi mari gunakan hal berbeda."


Eren membakar peti tersebut dengan sihir api tanpa henti kemudian dia melanjutkan dengan sihir es hingga secara perlahan peti itu mulai retak, menjalar ke setiap bagiannya.


"Kau menghancurkannya!" teriak Pienat.

__ADS_1


"Apa boleh buat bukan?"


"Padahal aku selalu membawanya kemana pun aku pergi."


Gloria memasang wajah bermasalah.


"Mau-maunya kamu membawa benda berat seperti ini, jika peti mati jelas di dalamnya mayat."


Eren merasa demikian, hampir mustahil bahwa di dalamnya akan ada benda selain itu, kemungkinan mumi juga tidaklah nol.


Peti mulai hancur dan benar saja terdapat seseorang yang terbaring, hanya Eren yang memasang wajah datar sedangkan kedua yang lainnya telah mundur ke belakang dengan nada cemas.


"Menakutkan."


Di dalamnya hanyalah sebuah tubuh mayat yang sudah mengering dan telah diawetkan sebaik mungkin.


Dari posturnya dia merupakan wanita dengan rambut pirang panjang. Ada catatan dengan tulisan kuno di tangannya yang segera Eren baca.


"Kenapa kata-katanya berbeda?" tanya Pienat.


"Jelas sekali orang yang telah lebih dulu ke reruntuhan telah menjahilimu dengan menuliskan tulisan yang pertama."


"Itu masuk akal."


"Sial, seharusnya aku tidak usah membawa peti ini... terlebih berat lagi khususnya saat semua orang menatapku dengan mata sinis."


"Jelas sekali semua orang akan waspada padamu, mereka menyangka kau pembunuh yang membawa buruannya dalam perjalanan sebagai cemilan."


Tepat Eren menyelesaikan perkataannya dia sudah dicekik oleh tubuh mayat itu yang hidup secara mendadak.


Gloria dan Pienat berteriak terkejut.

__ADS_1


"Selamatkan diri kalian, aku sudah tamat."


Eren kembali melirik ke arah tubuh tersebut namun berbeda dari sebelumnya, kini tubuh tersebut telah memiliki daging, kulit yang baik serta penampilan pada umumnya.


"Aku kembali hidup kah."


"Apa kau akan menghisap darahku."


"Tentu saja tidak, maafkan aku.. aku cuma bermain-main sedikit soal peringatannya."


Dia melepas lengannya lalu menjulurkan lidahnya dengan jahil. Sesaat sebelumnya dia menakutkan tapi sekarang dia hanya wanita cantik dengan pakaian compang-camping.


Ia meregangkan tangannya.


"Benar-benar sangat lama, berapa lama aku tidur?"


Tidak ada yang tahu pasti yang jelas itu pasti waktu yang sangat lama.


"Begitu."


Gloria memotong.


"Anda siapa?"


"Aku Meysia, aku istri ke sembilan pahlawan pertama."


"Kamu pasti bohong, bukannya semua istri pahlawan pergi kekaisaran, seharusnya kamu berada di sana termasuk keturunanmu juga."


"Soal itu, aku sendiri yang membuatku mati... aku memiliki keabadian karena itulah aku memberikan wasiat pada keturunanku untuk mengemasi diriku ke dalam peti ini dan meninggalkannya di reruntuhan lagipula ketika semua orang mati aku akan kesepian dan kalian malah membuka segelnya."


Ketiganya menjatuhkan dirinya dengan wajah bersalah selagi meminta maaf.

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan, sekarang aku tidak berniat lagi untuk mati."


__ADS_2