
Tanpa membuang waktu lagi keduanya mulai masuk ke dalam, itu seperti dungeon pada umumnya dengan ruangan mirip seperti berada di dalam lobby.
"Ada apa Ardhi?"
"Aku mengingat dungeon yang pernah aku masuki di wilayah kota Georginia."
"Heh begitukah, apa ini mirip dengan di sana?"
"Tidak, jauh berbeda."
Marsya menghentikan kakinya tepat saat dia akan menginjak perangkap.
"Hampir saja, jika aku mengenainya akan ada panah yang menusuk kita."
"Kau sepertinya terbiasa dengan dungeon."
"Aku sering berkunjung ke dungeon untuk makan, rasa monster di tempat-tempat seperti itu terasa enak juga."
"Begitu."
Naga memiliki sesuatu seperti itu juga, dengan kata lain naga juga perlu mencari lawan untuk bertarung. Marsya mengendus.
"Di tempat ini tidak ada monster, semuanya hanya jebakan manusia."
"Kalau begitu bukannya itu bagus," kata Yuki.
"Tapi aku lebih suka bertarung."
"Mari tahan jiwa nagamu untuk sebentar dan melihat lebih jauh, Marsya pimpin jalannya."
__ADS_1
"Serahkan padaku."
Mereka melewati berbagai jebakan, khususnya batu besar, lubang penuh bambu tajam dan beberapa lagi lainnya seperti kapak.
Berkat keberadaan Marsya semuanya bisa dilewati hanya saja, ketika mereka yakin bahwa mereka akan sampai di tempat tujuannya, itu hanyalah sebuah dinding batu bata tanpa sedikit petunjuk apapun.
"Apa pahlawan meminta kita untuk menghancurkan dinding?"
"Kurasa begitu."
"Kalau begitu aku tidak akan menahan diri."
Marsya menyelimuti tangannya dengan sebuah kobaran api membara, ketika dia meninju dinding tersebut tidak ada hal yang terjadi seolah sesuatu telah menyerap kekuatannya.
"Gagal."
"Kurasa aku tahu bagaimana cara membukanya."
"Jadi ini yang dimaksud bahwa hanya pemilik pedang Yuki yang bisa melewatinya."
"Aku tidak ingin mengatakannya, tapi pahlawan sangatlah pandai," balas Yuki.
Mereka berdua setuju dengan itu, terlebih tempat yang mereka datangi berikutnya adalah sebuah kolam lava panas yang dipenuhi dengan semburan uap ke udara, di tengah kolam ada sebuah pulau kecil yang di atasnya terdapat sebuah peti harta karun.
Ardhi mengayunkan pedangnya dan itu menciptakan sebuah jalan es sampai tengah.
Jika ini dungeon hal-hal seperti peti harta karun hanyalah sebuah jebakan, bagi Ardhi hal seperti itu sangatlah hal lumrah di dalam sebuah permainan game.
Dia membuka peti dan melihat sebuah gulungan. Saat gulungan itu disentuh ia merasakan sebuah kekuatan yang dapat ia rasakan.
__ADS_1
Panel-panel mirip jendela dalam game mulai bermunculan di depan mata tanpa orang lain bisa melihatnya, masing-masing dari mereka bertuliskan instaling hingga bertuliskan completed.
"Ini?"
"Ada apa master?"
"Pahlawan Sebelumnya memberikanku semua kemampuannya, aku bisa melihat statistikku meningkat."
"Itu mengagumkan master."
"Aku turut senang mendengarnya."
"Jika dengan ini, aku yakin masih ada peluang untuk mengalahkan raja iblis."
Sebelumnya Ardhi memiliki kekuatan sama seperti raja iblis dan sekarang seorang pahlawan.
Di dalam peti juga terdapat beberapa armor ringan dengan pertahanan cukup kuat yang segera Ardhi kenakan, ada efek untuk menyembunyikan armor yang memungkinkan hanya pakaiannya saja yang terlihat.
Mereka keluar dari dungeon, sementara Marsya menawarkan dirinya sebagai tunggangan.
"Lalu kemana kita pergi?"
"Ke ibukota."
"Heh, apa kita akan menyerang kotanya?"
"Para pahlawan mungkin ada di sana, ini kesempatan bagus untuk menyapa mereka termasuk merebut semua kuncinya."
"Hanya kita berdua, yah itu akan menarik.. nah Ardhi, ngomong-ngomong soal dungeon yang kau ceritakan sebelumnya, apa setelah semua ini bisakah kita mengunjunginya aku sedikit penasaran."
__ADS_1
"Aku tidak keberatan tapi dungeon itu sangatlah kuat."
"Itu malah membuatku semakin penasaran."