
Ardhi menerjang ke depan untuk memberikan tebasan cepat, tak diduga bahwa pria di depannya mampu mengimbangi gerakannya.
Dentrang... Dentrang.... Trang.
"Apa kau berniat membunuh semua orang di wilayah ini?"
"Kami diminta pihak kekaisaran karena bisa dipastikan mereka juga akan jadi sebuah ancaman mengerikan untuk dunia ini, bukannya iblis adalah iblis."
Ardhi di tendang hingga dia sedikit terdorong ke belakang.
"Iblis di sini tidak seperti iblis yang kita kenal di dunia lain, mereka hanyalah ras saja.. mereka bisa hidup seperti manusia, mempunyai kesediaan serta bahagia."
"Siapa peduli, bagiku mereka sama... aku sebenarnya tidak terlalu peduli masalah dengan dunia ini, yang kuinginkan hanya kekayaan yang akan kudapatkan setelah membunuh semua orang di tempat ini."
"Apa kau serius mengatakan itu."
"Tentu saja."
Pria kurus yang pucat itu mengayunkan pedang di udara dan menciptakan tebasan angin yang ditahan secara langsung oleh Ardhi. Jika dia sengaja menghindarinya semua orang di belakangnya akan terpotong.
"Apa dewi Herina benar-benar memanggil orang sepertimu."
"Itu karena sebelumnya aku memang pandai menggunakan pedang."
"Master?"
"Aah, kita harus jauhkan orang ini dari kota."
Ardhi sudah bisa menggunakan sihir teleportasi walau jaraknya tidak jauh, itu lebih baik daripada bisa melakukan apapun. Pelajaran saat di dungeon sangatlah berharga.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi kau tidak akan bisa mengalahkanku."
Lima pedang Ardhi naik ke udara kemudian menusuk pria kurus tersebut dari segala arah yang dia tangkis secara cepat.
"Kekuatan yang menarik, apa dengan segini bisa mengalahkanku."
"Ini sudah cukup."
"Apa?"
Ardhi mengambil celah dari serangan pedangnya untuk menangkap wajah pria di depannya.
"Teleportasi."
Satu kata itu membawa keduanya keluar kota, tidak menahan diri Ardhi melemahkannya tepat saat dia akan jatuh.
"Sial, benar-benar merepotkan tidak disangka kau mengambil cara seperti itu, tapi sangat bodoh seharusnya kau menusukku saat itu juga."
"Kau terlalu naif, namaku Barel... walau aku terlihat pucat aku masih banyak memiliki kekuatan."
"Namaku Ardhi."
"Hubur aku dengan segala apa yang kau miliki."
Di bawah cahaya bulan mereka saling menukar serangan, menciptakan percikan cahaya ke udara yang dibarengi lengkingan dari suara logam yang saling berbenturan.
Darah menyembur dari tubuh Ardhi bahkan setelah dia melewati rentetan serangan tersebut dia melompat ke dahan pohon sebelum turun ke bawah.
"Fire Bolt."
__ADS_1
Bola api mengenainya hingga dia terlempar jauh.
"Hehe, bagaimana? Kami sudah tahu kekuatanmu dari sang Dewi, kau bahkan tidak memiliki skill penilai dan juga jendela status seperti kami."
Ardhi sudah mengetahui hal itu sejak lama, dibanding Herina dewinya jelas memiliki batasan yang dikurung.
"Tidak masalah, aku sudah banyak berlatih jadi aku masih bisa mengalahkan kalian."
Tubuh Ardhi diselimuti petir hitam, bersamaan pedang yang dikendalikannya dia kembali menyerang lebih cepat. Barel memiliki kemampuan serangan mutlak, jika musuhnya menghindar serangannya tetap akan mengenai musuhnya, hal yang bisa dilakukan adalah terus menahan serangannya.
"Kau bisa mengatasi seranganku, kau memang kuat, ini jauh lebih menarik."
Ardhi kembali di terbangkan, di udara itu Barel telah mengejarnya.
"Kau menggunakan sihir terbang."
"Bukannya bagus."
"Guakh."
Dia tertebas sebelum kembali terlempar menghantam tanah.
"Master?"
"Aku tidak apa."
"Bukan saatnya bersantai."
Tepat saat Barel hendak menusukan pedang Ardhi telah menancapkan pedangnya lebih dulu, menciptakan es yang mampu membuatnya mundur.
__ADS_1
"Heh, pedangmu bagus, aku menginginkannya."