Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 24 : Sebuah Kemenangan


__ADS_3

Tepat saat energi sihir yang ditembakan menghilang semua orang keluar dari persembunyian kemudian menyerang sebanyak yang mereka bisa lakukan. Key memulai dengan tembakan sihir bersama Therta, disusul Feng Ho dengan seni beladirinya selanjutnya tebasan cepat Ardhi dan Anastasia.


Menerima serangan berturut-turut membuat Black Spider kewalahan, di dorong mundur dan hendak melarikan diri.


Tak ingin membiarkannya lari begitu saja Ardhi menancapkan pedangnya di tanah membuat es segera membekukan kakinya.


Di atas langit Key telah melompat tinggi lalu menusukan jarumnya tepat di atas kepala Black Spider hingga ambruk, menghancurkan pijakannya sampai akhirnya Black Spider tidak bergerak lagi dan akhirnya tumbang dalam hitungan detik. Dipastikan bahwa musuh mereka bisa dikalahkan.


Ardhi menyarungkan kembali pedangnya.


"Ki-kita berhasil."


Semua tatapan teralihkan kepada Ardhi yang hanya tersenyum seadanya.


"Kita sangat kotor, lebih baik segera ke kota untuk mandi dan beristirahat," katanya demikian.


Sirna memeluknya dan teriakan senang baru terdengar setelahnya.


"Dasar wanita genit, jangan memeluk master seenaknya," ucap Yuki sambil menarik tangan.


"Aku tidak seenaknya, aku membuat Ardhi nyaman."


"Kalian berdua tolong hentikan."

__ADS_1


"Aku sangat berterima kasih, tidak disangka kita berhasil mengalahkannya hanya dengan sedikit orang."


Anastasia hanya mendesah pelan selagi mengacungkan jempolnya.


Masih terlalu cepat untuk merasa puas terlebih makhluk bencana yang harus mereka lawan masih banyak. Mereka tiba di kota dan segera menenggelamkan diri di kolam air panas penginapan.


Kolam pria dan wanita dipisah karena itulah kini Ardhi hanya berdua dengan Feng Ho yang mencoba memanjat dinding agar bisa mengintip kolam sebelah.


"Dibalik ini adalah tanah suci yang tidak boleh dilihat, sebagai pria aku harus melakukannya, Ardhi kau tidak ikut?"


"Bagaimana mengatakannya aku sudah sering melihat hal itu."


"Apa? Kau membuatku Iri."


Tak lama sebuah ember kayu terbang menabrak wajah Feng Ho dan dia tersungkur ke dalam kolam dengan rasa sakit.


"Hal seperti ini sering terjadi juga di pemandian umum," gumam Ardhi pelan.


Setelah menulis surat Ardhi membaringkan diri di tempat tidur bersama Yuki yang sudah terlelap.


Ketika ia menutup matanya ia sudah tahu bahwa dewi telah berada di depannya.


"Selamat, mari rayakan atas kemenangan Ardhiku yang telah mengalahkan Black Spider, hore, hore."

__ADS_1


"Lebih tepatnya aku tidak melakukannya sendirian."


"Tetap saja jika bukan berkatmu mereka tidak akan berhasil melakukannya, kita punya banyak makanan manis dan teh silahkan, silahkan."


Ardhi dengan senang menerima jamuan dari Naya, dia memasukan berbagai makanan manis ke dalam mulutnya sebelum mencicipi hangatnya teh di dalam tenggorokannya.


"Serpent kemudian Black Spider, itu bukan sebuah pendapat kecil loh.. bahkan hanya mengalahkannya akan mendapatkan keuntungan besar, bayangkan uang yang akan kamu terima Ardhi."


"Kami tidak bergerak karena uang juga.. terlebih aku harus minta maaf karena pengumpulan kunci harus sedikit terlambat."


"Itu tidak masalah, menyelesaikan masalah yang sudah lama terjadi di dunia sana juga memang penting, jika makhluk bencana sudah hilang maka angka kehidupan juga akan semakin naik."


Ardhi mengangguk mengiyakan, setelahnya Ardhi dan Naya hanya mengobrol ringan tetang apa yang mereka sukai dan ketika Ardhi bangun wajah Yuki tetap berada di sana.


"Selamat pagi master."


"Selamat pagi Yuki, apa tidurmu nyenyak?"


"Nyenyak sekali aku bermimpi bahwa dunia diselimuti es dan hanya kita yang tetap bertahan hidup sampai akhir."


"Kita berdua?"


"Benar, cinta kita mungkin yang membuat es pun tidak mampu membekukannya, kita selalu bergairah."

__ADS_1


Paling tidak Ardhi merasa lega bahwa itu hanya mimpi.


__ADS_2