
Ruti melompat untuk bisa mendarat di punggung Marsya hingga akhirnya mereka terbang di atas langit.
Tujuan mereka adalah hutan Utara yang seharusnya bisa ditempuh selama beberapa hari menjadi beberapa jam saja.
Dari atas mereka bisa melihat akar-akar yang merambat dari satu pohon raksasa berwarna hitam gelap.
"Melihatnya sekilas aku tahu itu sangat berbahaya," ucap Marsya yang mendapatkan anggukan kecil Ruti.
"Bagaimana sekarang master?"
"Aku akan mencoba menembaknya dari sini."
Ardhi menciptakan lingkaran sihir raksasa dan dari sana bola petir ditembakkan dengan kecepatan tinggi.
Itu mengincar pohonnya sebagai target namun sayangnya akar yang sebelumnya diam naik ke udara membentuk sebuah dinding yang menahannya.
"Pohon itu hidup, ini akan menjadi sulit."
Kesulitannya semakin bertambah dengan kemunculan banyak monster yang bermunculan dari hutan, mereka mengawasi keberadaan Ardhi dengan yang lainnya.
"Tidak ada jalan lagi selain membakar seluruh hutannya termasuk pohonnya."
"Bukannya itu sulit Ardhi, hutan ini terlalu luas."
"Aku juga bersependapat tapi tidak ada jalan lain, mari bakar dari bagian luar dulu," balasnya pada Ruti sebelum ketiganya melompat ke bawah.
Pedang Ardhi menembus tulang kepala mereka, disusul pukulan Ruti dan selanjutnya sihir api Marsya.
Tidak ada rencana yang mereka tetapkan, hanya mengalahkan monster dan membakar hutan.
__ADS_1
"Kalian meremehkanku, makan semburan apiku."
Api menyembur dari mulut Marsya melahap apapun di depannya, di saat yang sama Ruri telah meninju tanah membuat monster yang mengelilinginya terjerumus masuk hingga akhirnya Ardhi menyelesaikannya dengan pedang terbangnya, sesekali dia menggunakan petir yang digabungkan dengan air selanjutnya es.
Kini ia mulai menyadari semakin dekat akar ini dengan pohonnya maka semakin kuat pula tanaman tersebut.
"Kalian, tolong kami."
Beberapa orang di luar dugaan tampak terbaring di tanah dengan tubuh dipenuhi luka. Jelas sekali bahwa mereka merupakan petualang.
"Kita akan menyelamatkan mereka, mari mundur untuk saat ini."
Atas pernyataan Ardhi, Ruti dan Marsya mengangguk mengiyakan lalu pergi ke kota terdekat setelah menempatkan mereka dipunggung Marsya dalam wujud naganya.
Ada enam orang yang mereka bawa, kemunculan seekor naga menarik banyak mata tertuju pada mereka.
"Naga ini?"
"Apa mereka bisa diselamatkan?" tanya Ruti.
"Tidak masalah, tidak ada luka yang serius... itu, bukannya Anda pahlawan Ruti."
"Iya, mereka juga teman-temanku termasuk naganya."
"Aku mendengar bahwa naga bencana kini berhubungan baik dengan kekaisaran tapi tak kusangka bisa sejauh itu."
Memang sulit dipercaya tapi sekarang Marsya tengah bermain dengan anak-anak di sekelilingnya.
"Aku akan berterima kasih jika kalian membantuku untuk memasukannya ke dalam rumah."
__ADS_1
"Biar aku saja."
Ardhi melakukan tugasnya dan membiarkan mereka terbaring di ranjang, salah satu pria menerobos masuk dengan wajah khawatir.
"Kalian baik-baik saja?"
"Guild master, kita telah gagal melakukannya."
"Lalu di mana yang lainnnya?"
"Mereka sudah tewas."
"Mustahil."
Ardhi menebak bahwa para petualang ini melakukan hal semacam misi untuk menghancurkan pohon tersebut.
Guild master membungkukan badannya ke arah Ruti selagi mengucapkan terima kasih.
"Tidak, aku tidak berbuat banyak...semua ini berkat Ardhi dan naganya."
"Jangan lupakan aku juga," potong Yuki.
Hingga pandangan tertuju pada Ardhi.
"Pahlawan Ruti benar-benar suka merendahkan diri."
"Sudah kuduga sesuai yang diharap dari pahlawan kita."
"Benar sekali."
__ADS_1
"Eh?"
Ardhi pikir dia tidak ingin terlalu menarik perhatian di wilayah kekaisaran ini.