
Marsya dan Ardhi berjalan menuju sebuah pinggiran sungai yang cukup lebar, di sampingnya ada sebuah gua yang mereka gunakan sebagai peristirahatan sementara.
Ardhi bertanya soal jalur sungai, jika mereka melewatinya apa itu akan sampai ke sebuah pemukiman pahlawan.
"Benar, pemukimannya sendiri berada di bantaran sungai ini."
Mendengar itu Ardhi membuat rakit dalam waktu singkat, mereka menyalakan api dan makan pada malam harinya, dan pergi sebelum matahari terbit.
"Berpergian seperti ini tidak buruk," kata Marsya yang memainkan air dengan ekornya.
"Apa kau sudah bisa menggunakan sihir lagi?"
"Belum bisa, paling saat siang hari aku bisa kembali menggunakannya."
Naga memiliki mana yang besar tidak aneh jika memerlukan waktu selama itu.
"Master ada sesuatu di depan."
"Itu ikan pembunuh, aku dengar rasanya enak... mari tangkap beberapa," potong Marsya.
Ikannya sendiri memiliki bentuk menyerupai piranha dengan tubuh lebih besar lima kali lipat serta memiliki warna merah terang.
Marsya melompat ke dalam air untuk menangkap mereka, yang secara satu persatu dia naikkan ke atas rakit.
Ketika sudah banyak Marsya naik kembali dan duduk selagi memakan ikannya secara mentah.
"Ini enak, kamu mau Ardhi?"
__ADS_1
"Apa saja yang dimakan ikan ini?"
"Apapun, mereka terkadang memakan manusia juga."
"Aku tidak benar-benar ingin memakannya kalah begitu."
"Sayang sekali rasanya enak."
Darah memenuhi mulut Marsya dan itu terlihat mengerikan.
Saat matahari terbit mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju, itu merupakan sebuah pemukiman yang diisi puluhan rumah beratap jerami serta kayu-kayu yang sangat kokoh, para penduduknya tampak melakukan aktivitas sebagai mana mestinya, ada yang sedang merapikan rambut putrinya, orang tua yang menatap anak-anak yang sedang bermain serta beberapa lagi yang terlihat mirip penjaga dengan tombak serta pedang di tubuh mereka.
Semua orang ini sebagian besar jelas keturunan pahlawan.
Beberapa penjaga tampak mengerumuni sosok Ardhi dan Marsya. Mereka tidak ceroboh untuk membiarkan naga bencana berkeliaran di desa mereka.
"Apa yang kalian berdua inginkan?"
"Kau naga bencana? Apa kau ingin balas dendam soal pahlawan yang mengalahkanmu dulu."
"Tentu saja tidak, walau kalian keturunannya aku tidak begitu pengecut untuk melakukannya, sebaiknya kalian perhatikan pedang yang dibawa pria ini."
Mereka cukup terkejut.
"Apa itu pedang asli?"
"Kalau begitu akan kutunjukan."
__ADS_1
Ardhi menancapkan pedangnya dan itu menciptakan bongkahan es yang mengeluarkan udara dingin ke udara.
Anak-anak berlomba-lomba untuk menyentuhnya.
"Kurasa itu asli, kalian turunkan senjatanya, dan untuk kalian berdua ikut denganku.. aku yakin Nona Sofia menunggu kalian."
"Siapa dia?"
"Ia pemimpin desa dan juga orang yang menerima amanat dari pahlawan sebelum meninggal."
"Amanat?"
"Kau akan tahu nanti."
Ardhi mengitari seluruh pemandangan desa di sekitarnya, dia menyadari ada sebuah patung pahlawan di sana dengan seluruh partynya yang berjumlah 10 orang termasuk Dryad di dalamnya.
Tidak ada siapapun yang tahu tentang pedang pahlawan yang bisa berubah menjadi bentuk manusia, karena itulah sosok Yuki tidak berada di dalamnya.
"Ini tempatnya, masuklah."
"Baik."
Ardhi dan Marsya memasuki sebuah rumah yang berada paling ujung dari desa ini, di dalamnya diisi oleh seorang wanita yang mengenakan pakaian peramal pada umumnya serta membawa bola kristal di tangannya.
Ia tersenyum dari balik kain tipis yang menutupi mulutnya.
"Kalian akhirnya sudah tiba, aku sudah menunggu kalian sejak lama loh... wahai pahlawan yang akan menyelamatkan dunia ini."
__ADS_1
"Apa kau sedang membicarakan soal ramalan yang tersebar di setiap kerajaan?"
"Sebenarnya akulah yang membuatnya," balasnya ringan.