
Sofia mempersilahkan mereka duduk lalu dia menjelaskan.
"Setelah pahlawan menyegel raja iblis, ia pernah mengunjungi tokoku untuk meminta ramalan, aku mengatakan bahwa raja iblis suatu saat nanti akan kembali dan pada akhirnya dunia ini akan hancur, mendengar itu pahlawan mulai menyeleksi orang-orang untuk menjadi pahlawan berikutnya namun sayangnya mereka semua tidaklah kuat dari dirinya."
"Menyeleksi, apa pahlawan bisa ditentukan dengan cara seperti itu?"
"Aah, semua orang bisa jadi pahlawan jika memiliki tekad untuk melindungi semua orang. Yang pahlawan inginkan hanya membuat pelantikan itu dilakukan secara cepat dan secara turun menurun sayangnya orang yang dimaksud tidak pernah datang, pada akhirnya ia meninggalkan pedang tersebut di atas gunung dan membawa seluruh istrinya kemari untuk menciptakan sebuah desa."
"Apa karena peperangan terjadi banyak kerajaan yang menginginkan keturunan pahlawan?"
"Itu adalah alasan utamanya kenapa dia pergi, kini setelah pahlawan muncul maka aku bisa memberikan sesuatu yang dititipkan olehnya padamu."
Sofia berdiri untuk memeriksa setiap laci di kediamannya, ia membawa sebuah peta yang diberikan pada Ardhi.
"Di sana merupakan warisan yang ditinggalkan untukmu, karena lokasinya berbahaya tidak pernah ada yang bisa melewatinya."
"Aku mengerti, kami akan pergi segera mungkin."
"Aku berterima kasih jika kamu mau melakukannya, paling tidak, bawalah beberapa bekal terlebih dahulu."
Ketika para penduduk selesai menyiapkannya, Ardhi meninggalkan desa bersama Marsya yang kebingungan.
__ADS_1
Di dalam hutan ia bahkan tidak bisa fokus.
"Kenapa rasanya seperti mereka tidak nyaman tentang kita?"
"Jelas sekali begitu, itu seperti mereka tidak ingin terjerat urusan apapun. Singkatnya mereka terlalu pengecut untuk mengambil peran menyelamatkan dunia," ucap Yuki.
"Semua orang memiliki keputusannya masing-masing, mereka sudah hidup damai jadi melibatkan diri dalam hal seperti pertarungan melawan raja iblis tidak ingin mereka ambil."
"Master terlalu baik."
Karena lahir dari keturunan pahlawan bukan berarti mereka harus melanjutkan perjuangan keluarga mereka.
Ardhi bisa mengerti hal itu.
"Maaf membuatmu menunggu lama Ardhi, kini tenagaku sudah pulih seutuhnya, jadi mari akan aku antarkan," mengatakan itu wujud Marsya berubah menjadi seekor naga hitam dengan kulit keras bagaikan baja.
Ardhi memeriksanya secara seksama.
"Tolong jangan mengetuk-ngetuk perutku."
"Ada apa master?" tanya Yuki dalam bentuk pedang.
__ADS_1
"Kulitnya keras kurasa anak panah tidak akan bisa menembusnya."
"Sudah pasti kan, namun pahlawan itu sangat mengerikan... pukulannya benar-benar kuat, aku beberapa kali muntah darah."
Dari ceritanya itu memang bukan sesuatu yang mengenakan, tanpa pikir panjang lagi Ardhi melompat ke punggung Marsya hingga ia bisa merasakan angin yang menerpa wajahnya saat terbang.
"Kita pergi ke sana."
"Baik."
Mereka melewati beberapa hutan, padang rumput, gunung dan akhirnya tiba di sebuah ngarai dalam. Ada sebuah pintu di pinggirnya yang bahkan tidak banyak orang yang berfikir untuk membuat semacam bangunan di tempat ini.
Marsya kembali ke wujud manusianya untuk mengikuti Ardhi yang lebih dulu berjalan di depan.
"Apa pahlawan menaruh warisannya di dalam dungeon ini?"
"Seperti itulah yang ada di peta, apa boleh buat tempat ini pasti bukan tempat yang mudah dilewati."
"Hey tunggu aku."
Keduanya berjalan masuk, Ardhi mengingat perkataan Sofia sebelum keberangkatannya.
__ADS_1
"Hanya orang yang memiliki pedang itu saja yang bisa menyelesaikannya dan mengambil warisannya, kamu akan mengerti nanti... aku harap kalian bisa menyelamatkan dunia ini."
Semua perkataannya terdengar misterius.