
Kemenangan Eren Disambut baik banyak orang, walau banyak orang meninggal karena pertempuran ini semua orang senang bahwa mereka tidak mati sia-sia.
Eren duduk saat Yumi mendekat padanya.
"Kekuatan yang mengagumkan."
"Terima kasih atas pujiannya."
Yumi dan Eren melihat bagaimana semua orang tersenyum bahagia.
"Kami kemungkinan akan mengadakan pesta mau bergabung?"
"Tentu tidak, aku akan langsung kembali melanjutkan perjalanan. Semakin cepat semuanya selesai maka semakin cepat aku bisa bermalas-malasan."
"Begitu."
Eren menepuk pahanya sekali sebelum menyarungkan pedangnya. Gloria yang menyadari itu buru-buru berpamitan lalu menyusulnya.
"Tunggu sebentar jangan tinggalkan aku."
"Bukannya kekuatanmu sudah habis?"
"Aku masih punya kipas cadangan."
Gloria menariknya dari belahan dadanya, bagi Eren dia penasaran bagaimana benda itu muat di sana.
"Kemana kita selanjutnya?"
"Ada beberapa desa yang perlu diselamatkan, mari datangi satu persatu."
"Bukannya kamu pemalas?"
"Benar, aku sangat malas hingga ingin menyelesaikannya secepat mungkin."
Gloria hanya membalas dengan helaan nafas panjang. Sesampainya di salah satunya, kepala desa memberikan berbagai buah-buahan dan daging untuk mereka santap.
"Benar-benar mengejutkan ketika kami butuh bantuan kalian berdua langsung datang kemari," katanya yang dijawab oleh Gloria.
__ADS_1
"Dia utusan Dewi Herina jadi ia sudah tahu dari awal."
"Apa? Sungguh desa kami diberkahi."
Eren tiba-tiba tersendat hingga Gloria harus menepuk-nepuk punggungnya.
"Enak sekali."
"Kalau makan pelan-pelan, dan juga dengerin dulu kalau kepala desa ngomong."
"Aku sangat lapar lagipula kita hanya punya waktu sebentar untuk menikmati ini."
"Jangan bilang."
Kepala desa hanya tertawa ragu menanggapinya. Kini Gloria juga makan dengan cepat.
Setelah mereka selesai para monster mulai bermunculan, seorang penjaga melaporkan hal demikian.
"Terima kasih atas makanannya, pembayarannya akan kami selesaikan semua monsternya."
Musuh yang mereka lawan hanyalah sekumpulan goblin dengan jumlah sepuluh ribu, Eren mengarahkan dua tangannya membentuk sebuah lingkaran ganda.
Satu mantra paling sedikit membunuh dua ribu, dan dengan beberapa kali penggunaan mereka selesai dihabisi.
Eren kehilangan tenaganya yang langsung diseret Gloria.
"Kami sudah menyelesaikannya, kalau begitu kami pamit."
"Bukannya aku saja yang barusan bekerja."
"Entah kamu atau aku tetap sama kita satu paket."
"Tunggu sebentar, ini uang tolong diterima."
"Kami tidak membutuhkannya, ambil saja kembali," balas Eren acuh.
"Apa? Tidak aku sangka di dunia yang kejam ini masih ada orang baik hati."
__ADS_1
"Kepala desa itu menangis loh."
"Mungkin dia jatuh cinta padamu, Gloria."
"Kalau ngomong suka seenaknya, selanjutnya."
"Serangan di desa berikutnya dua hari jadi kita bisa sedikit bersantai."
Langkah Gloria terhenti saat dia menemukan seorang gadis loli duduk di atas peti mati. Ia memiliki rambut putih menjuntai sampai kaki dengan balutan gothic hitam.
"Akhirnya ada yang lewat jalan sini juga?"
Gloria menjatuhkan Eren sebelum memasang wajah siaga.
"Dia musuh."
"Tidak, tidak, aku ini hanya mantan petualang.. aku tadinya ingin memutuskan menetap di desa terdekat lalu tiba-tiba langitnya jadi merah dan selanjutnya aku tersesat."
"Nama desanya?"
"Desa Nyansa."
"Bukannya desa itu desa kucing yang hancur," balas Gloria cepat.
"Desa itu sudah kembali sedia kala berkat kelompok Ardhi, kini tak hanya ras kucing penduduk yang lain bisa mendiaminya juga."
Eren memasang wajah ragu.
"Ada apa lagi?"
"Desa itulah yang berikutnya harus kita lindungi."
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal, kami juga akan pergi ke sana."
"Kalau begitu kita bisa pergi bersama... aaah, tersesat itu tidak mengenakan, namaku Pienat salam kenal."
"Bukannya namamu terdengar imut?"
__ADS_1
"Seorang terkadang mengatakan hal demikian."