
Ardhi tidak ingin kalah, ia memasang umpan ikan kecil di kailnya sebelum melemparkannya ke laut, ia bisa melihat bagaimana semua peserta yang lain dengan mudah mendapatkan ikan yang mereka inginkan.
Di sampingnya Carmen juga sedang bergulat dengan pancingannya, ketika kail dimakan ikan, ada tombol yang harus ditekan oleh pemakainya yang nantinya mengalirkan arus listrik yang mampu membuat ikan tuna pingsan dan lumpuh, dengan cara begitulah memancing ikan tuna bukan sesuatu yang sulit dilakukan.
"Aku dapat yang 5 kg tuan."
"Lima aku dapat yang sepuluh," potong Yuki.
Mereka malah jadi bersaing.
Pancingan Ardhi juga menarik sesuatu dan itu tidak sebesar dua pelayannya.
"Jangan khawatir tuan Ardhi, masih banyak ikan yang bisa Anda pancing."
"Ugh."
Sepertinya Orihime sedikit mencoba menghiburnya, akan lebih mudah jika melakukannya dengan kemampuannya tapi sebelum itu dia ingin memastikan sesuatu.
"Semua orang tidak menggunakan sihir mereka?"
"Beberapa penduduk ada yang tidak bisa menggunakan sihir mungkin mereka semua memilih untuk melakukannya secara adil walaupun tidak ada peraturan yang melarangnya."
Ardhi merasa dia juga tidak perlu menggunakan kemampuannya.
Hal yang dicari semua orang di sini adalah kesenangan ketika melakukan hal bersama-sama, kemenangan hanyalah hal kedua yang tidak terlalu dipikirkan.
__ADS_1
"Para raja surgawi telah mendapatkan banyak ikan, sebaiknya kalian terus memancing," kata Orihime.
"Tidak, kami sudah lelah."
"Aku juga."
"Semangat kalian tiba-tiba menghilang."
"Tak apa, biar aku buatkan makanan dari tuna yang kalian dapat."
"Makanan master aku ingin memakannya."
"Aku juga."
Ardhi mengambil ikan yang memiliki kualitas daging yang bagus, tidak sulit untuk melakukannya saat kamu sering menggunakan ikan sebagai bahan makanan sehari-hari.
"Sudah jadi, silahkan."
Carmen, Yuki maupun Orihime terlihat terkejut dengan masakan sederhana itu.
"Padahal ini hanya ikan mentah, tapi rasanya benar-benar mengagumkan, terutama saos ini."
"Master memang hebat."
"Aku sering berlatih namun masih belum bisa mengimbangi tuan."
__ADS_1
"Kalau stoknya banyak aku tidak keberatan mengirim saos-saos ke wilayah kalian."
"Tolong lakukan itu."
Ardhi melirik ke arah para kru yang menatap mereka dengan penasaran.
"Apa kalian mau juga?"
"Apakah boleh?"
"Tentu."
"Yattaa."
Mereka mungkin akan kalah dalam festival ini, namun demikian itu tidaklah buruk untuk menikmati tuna secara langsung.
Setibanya di daratan pemenang pertama jatuh pada raja surgawi dan disusul para penduduk lainnya untuk juara dua dan tiga.
Mereka mendapatkan sejumlah uang yang cukup besar, sementara tuna yang semua orang dapat akan langsung dimasak oleh penduduk dan malam harinya semua orang bisa bersuka ria dengan berbagai makanan yang disajikan, saat itu semuanya terlihat seperti sebuah pasar malam yang ramai, sampai Ardhi menyadari bahwa semua orang tiba-tiba berhenti bergerak.
Ia melirik ke arah Yuki yang masih memakan ikan lalu memanggilnya, hingga dia juga akhirnya menyadarinya.
"Kenapa semua orang?"
"Waktu mereka dihentikan, ada sebuah serangan."
__ADS_1
Yuki berubah jadi pedang yang lalu pindah ke tangan Ardhi, dia berlari dan jauh dari kerumunan tampak seorang pria kurus pucat hendak menebaskan pedangnya pada seorang pria, beruntung bahwa Ardhi telah menahan pedang tersebut hingga ia melompat mundur.
"Tidak kusangka bahwa ada juga orang yang tidak terpengaruh sihir menghentikan waktuku ini, sihir ini memiliki kerugian bahwa pihak kubu sendiri akan berhenti namun hanya orang-orang dari dunia lain yang tidak terpengaruh, dengan kata lain kau pasti orang yang dimaksud Dewi Herina."