
Dari tangannya sebuah akar merambat untuk melukai Marsya yang melompat ke belakang.
"Kau yang membuat pohon waktu itu?"
"Jadi aku benar, kamu adalah orang yang melakukannya kekeke, maka ini balasan untuk kalian."
Pepohonan bermunculan di sekeliling Marsya yang segera menjeratnya dari segala arah.
"Ini adalah kekuatan yang aku ekstrak dari pohon tersebut, sebelumnya aku menjadikan pohon itu sebagai inang, tapi sekarang aku memilih untuk menjadikan diriku sebagai inangnya saja."
Urat-urat mirip seperti serat pohon bermunculan di tubuh wanita tersebut, rambutnya mulai memutih dan jelas kedua matanya berwarna serupa.
"Kau sampai melakukan hal seperti itu."
"Ini demi kebangkitan raja iblis."
Marsya menghancurkan akar-akar yang menjeratnya dengan membuat dirinya terselubung api.
"Biar aku tanya satu hal, siapa namamu."
"Artasela."
"Maka akan kuingat setelah aku membunuhmu."
Artasela menciptakan dinding-dinding dari kayu saat Marsya menerobos maju, pukulannya tertahan menciptakan Sonic boom
"Apa kau pernah mendengar bahwa pohon lebih kuat dari besi? Besi akan berkarat dan rapuh sementara pohon tidak akan."
Marsya melompat ke samping saat pohon itu berubah bentuk dengan mengirimkan serangan bertubi-tubi mirip tiang-tiang tajam.
"Bukannya pohon akan hancur dimakan rayap?"
__ADS_1
"Itu hanya berlaku untuk pohon biasa, pohon ini berbeda, sebuah pohon yang kuat yang bahkan bisa hidup di tanah gurun."
Tubuh Marsya terdorong selanjutnya menabrak dinding menciptakan ledakan luar biasa, di saat yang sama Nisa, Risa dan Mery muncul untuk menebas pohon tersebut.
"Kau sepertinya kewalahan nyan."
"Kalian semua?"
"Kami sudah mengalahkan musuhnya dan sedikit bosan desu."
"Aku juga berfikiran sama tapi sepertinya kita menemukan lawan yang kuat di sini," tambah Mery bersiap dengan perisai dan pedang miliknya sedangkan Artasela memandang rendah.
"Bertambahnya serangga tidak akan membuat perubahan."
Mery dan Nisa melangkah maju. Kayu-kayu bermunculan ke udara seperti sebuah tombak yang berjatuhan pada mereka, Mery memblokirnya melalui perisainya sedangkan Nisa berada di belakangnya walau demikian keduanya terlempar menabrak bangunan rumah.
"Aku tidak akan terkecoh dengan kalian."
Akar pohon muncul dari bawah kakinya menjeratnya hingga tidak bisa bergerak, Marsya hendak membebaskannya sebelum pedang besar telah jatuh dari langit membuatnya menjaga jarak, di atas pegangan pedang itu berdiri seorang pria dengan rambut biru.
"Kurasa kita sudah kalah di sini Artasela."
"Blue, apa maksudmu?"
"Victor sudah mati."
"Tidak mungkin.. apa ada orang yang berbahaya di sini?"
"Benar, sebelum raja iblis memberikan kita kekuatan kita belum tentu bisa menjadi tandingannya, mari mundur untuk sementara waktu."
"Kalian ingin melarikan diri desu?"
__ADS_1
"Kalian harusnya beruntung tidak terbunuh sekarang, aku dan Artasela merupakan pemimpin dua sekte lainnya, kurasa lambat laun kita akan bertemu lagi."
Mereka melompat lalu melarikan diri begitu saja meninggalkan rasa pahit di mulut semua orang.
Yang terpenting kota ini selamat, karena itulah tidak ada yang berniat mengejarnya.
Beberapa hari berikutnya di dalam markas sekte Artasela dan juga Blue telah melangkah ke sebuah aula besar. Di sana ada sebuah balok es yang di dalamnya terdapat sosok wanita yang mengenakan jubah hitam serta berambut hitam dengan poni menutup sebelah matanya.
Es ini hanya akan mencair dengan jiwa manusia yang dikorbankan.
Artasela yang telah berubah kembali ke wujud aslinya mengeluarkan bola kristal merah yang menembak api ke balok es tersebut.
Api ini dibuat dengan membakar jiwa manusia dan perlahan es itu mencair.
Keduanya berlutut akan sosok yang melangkah ke depan lalu duduk di singgasana selagi menyilangkan kakinya.
"Selamat datang kembali raja iblis Agarta, maaf kami sedikit lama membangkitkan Anda."
"Itu tidak masalah, bagaimana dengan tubuh-tubuhku yang lainnya?"
"Tersimpan dengan baik."
Raja iblis Agarta memiliki kemampuan untuk mengendalikan mayat karena itulah selama melawan umat manusia dia tidak pernah bertarung di garis depan, sayangnya pahlawan menyadarinya lalu menyegel dirinya bersama dewi Naya hal itu telah membuatnya kerepotan.
"Musnahkan semuanya, kini aku akan menghadapi pahlawan generasi sekarang dengan tubuhku sendiri."
"Kami mengerti."
"Dan kalian berdua akan kuberikan kekuatan yang setara dengan iblis peringkat tinggi."
"Dengan senang hati kami berdua menerimanya."
__ADS_1
Artasela maupun Blue menundukkan kepalanya dengan kuat.