Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 55 : Sejarah Dari Labirin


__ADS_3

Kelompok Ardhi dibawa ke sebuah tempat persembunyian Lamia yang merupakan sebuah jalan yang tidak terhubung dengan labirin, di lantai ini merupakan lantai yang dipenuhi air terjun dan di belakangnya ada jalan yang menghubungkan sebuah kawasan Lamia.


Semua orang bisa melihat sekitar 50 Lamia hidup di tempat ini dan melakukan rutinitas mereka seperti biasanya, mereka kebanyakan tidak pergi dari tempat ini dan hanya menjadikan apapun yang mereka temukan di sini sebagai makanan.


Salah satu Lamia yang memiliki penampilan serba putih mendekat pada mereka.


"Namaku Rora, terima kasih sudah mengantarkan saudari kami kembali ke rumah."


Alasan kenapa kelompok Ardhi bisa bertemu dengannya hanyalah kebetulan.


"Tak apa? Kalau begitu kami akan kembali pergi."


"Tunggu sebentar, tak apa untuk beristirahat di sini, di luar mungkin kurang nyaman namun di tempat ini kalian tidak perlu khawatir dengan monster."


Ardhi melirik ke rekannya dan dari mereka tidak ada yang menunjukkan keberatan.


"Kurasa kita bisa berkemah di sini sebelum pergi ke lantai 12 nyan."


"Benar desu."


"Kalau begitu kami akan menerimanya."

__ADS_1


"Itu bagus, aku ingin bisa mengobrol banyak hal tentang dunia luar kalau tidak keberatan mari mengobrol sebentar."


Ardhi juga memiliki hal untuk ditanyakan.


Beberapa waktu setelah Ardhi menceritakan tentang dunia di luar labirin selanjutnya dia yang bertanya, banyak hal yang ditanyakan khususnya tetang siapa dan kenapa labirin ini berbeda dengan yang lainnya.


Jawaban Rora membawa ke sebuah pernyataan mengejutkan bahwa labirin ini dibuat oleh seorang penyihir di masa lalu. Ia berusaha ingin melindungi Lamia dengan menyamarkannya sebagai labirin pada umumnya. Seharusnya tempat ini tidak diketahui siapapun sayangnya penyihir itu sudah lama meninggal dan akhirnya tidak ada sihir yang menyuplai tempat ini sehingga pelindung yang menyembunyikan keberadaan ini menghilang.


"Jika kami bisa sampai ke lantai 15 lalu menyuplai lagi sihir maka labirin ini akan menghilang dan kembali tersembunyi."


"Benar, tapi hal itu bisa dilakukan saat kepemilikan dungeon berubah."


Pada akhirnya tempat ini memang bukan sesuatu yang bisa dijelajahi begitu saja. Para Lamia menyajikan ikan mentah dan beberapa kerang untuk dimakan.


Ardhi pikir ia lebih suka dengan makanan matang, dan hari itu untuk pertama kalinya para Lamia belajar membuat api dari batu, perabotan makanan serta pakaian dari dedaunan.


Sekarang mereka jadi lebih baik.


"Ngomong-ngomong tidak ada Lamia pria?"


"Tidak, kami melakukan hubungan intim antar wanita dan sesekali tiap pasangan bergantian untuk menghasilkan telur."

__ADS_1


"Jadi begitu."


Ardhi pikir salahnya telah bertanya.


Pagi berikutnya mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan Lamia di tempat aman. Risa yang duduk di bahu Ardhi terlihat bersemangat.


"Labirin ini akan kita kuasai desu haha."


"Benar nyan dengan kata lain semua kekayaannya milik kita nyan."


"Tetap saja tempat ini harus tersembunyi," balas Mery.


Untuk Marsya ia tengah menyeret seekor T-rex di belakangnya.


"Aku senang datang kemari, banyak makanan enak."


Naga bencana adalah naga yang rakus.


Mereka terus melangkah semakin jauh dan akhirnya setelah mengalahkan monster mereka sampai di lantai 15. Tidak ada siapapun kecuali sebuah batu raksasa berwarna putih yang dijadikan sebagai sirkuit dari sebuah sihir.


Ada sebuah tengkorak yang terbaring di dekat saja, kemungkinan besar dia adalah penyihir yang dimaksud oleh Lamia.

__ADS_1


__ADS_2