Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 75 : Kedamaian Yang Dinginkan Semua Orang (End)


__ADS_3

Agarta meletakkan kedua tangannya lalu dengan cara itu ia memunculkan pasukan tengkorak.


Risa yang berperan dalam mengumpulkan orang-orang ini tersenyum lebar.


"Aku yang mengumpul kalian di sini, jadi jangan kecewakan aku. Sekarang serang."


"Yos, mari kalahkan raja iblis nyan."


"Benar, bergerak."


"Hoh."


Area yang sebelumnya sepi kini telah menjadi medan perang dengan skala besar, pasukan tengkorak telah dihabisi dan kini semua orang serempak menyerang Agarta.


Secara bergantian dia memblokir serangan dan di saat yang sama pula membalas.


"Kalian hanya manusia, tidak akan mungkin mengalahkanku."


Agarta mengarahkan tangannya dan itu merusak seluruh pijakan semua orang hingga melayang ke udara, pertarungan terus terjadi hingga sore hari hingga semua orang terkapar kelelahan dan terluka hingga kembali menyisakan Ardhi dan Eren yang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Di sisi lain Agarta juga berdiri dengan tubuh penuh luka.


"Bagaimana keadaanmu Ardhi?"


"Kakiku mati rasa, kau sendiri?"


"Aku sudah mencapai batasku bahkan di jendela statusku aku tidak memiliki skill lagi, yah saat kembali aku bisa mempelajari skill lainnya secara manual."


"Jadi ini serangan akhir."


"Begitulah."


Agarta melayangkan bebatuan di sekitarnya lalu menggunakannya sebagai peluru, sebelumnya dia melakukan hal sama dan sekarang kekuatan telekenesisnya hanya sebatas itu.


Eren dan Ardhi berteriak bersamaan untuk melesat maju. Eren bergerak paling depan menangkis seluruh serangan tersebut dengan pedang dan tubuhnya.


Dia berteriak dengan kekuatan yang terakhir.


"Ardhi, tanganmu!"

__ADS_1


Ardhi mengulurkan tangannya yang kemudian ditarik oleh Eren kemudian dia lemparkan ke arah Agarta.


"Ma-ju-lahhh!"


Agarta yang tidak menduganya hanya diam mematung dengan pedang Yuki telah menembusnya.


"Guakh, benar-benar konyol... setelah kebangkitanku kembali aku kalah. Aku yakin akan ada waktunya penerusku melanjutkan hal ini."


"Aku tidak ingin mengecewakanmu, hanya saja aku meragukan hal itu. Dibandingkan kau yang ingin mencapai ambisismu untuk menaklukkan dunia, ras iblis yang lain lebih memilih membuat negara baru yang damai yang saling menguntungkan dengan ras lainnya, mereka juga kembali tinggal di pesisir lautan dekat pohon besar."


Agarta terlihat terkejut sebelum tersenyum tipis.


"Siapa yang memimpin?"


"Orihime."


"Rubah itu kah, kesalahan besar telah merawatnya di ras iblis."


Tubuh Agarta perlahan tertutup es, selanjutnya menjadi serpihan debu yang terlihat mirip kristal.


Pandangan Ardhi mulai memudar lalu jatuh, saat ia membuka matanya ia menyadari bahwa dirinya telah dilemparkan ke udara berulang kali.


"Kalian semua lakukan dengan baik desu, angkat terus."


"Mari buat patungnya di semua tempat termasuk orang-orang yang ada di sini."


"Ide bagus."


Dari kejauhan Eren mengawasi.


(Apa segini sudah cukup dewi?)


(Yah, kerja bagus... dengan ini aku bisa memulihkan namaku)


(Bisa-bisanya dewi memilih pahlawan seperti itu)


(Berisik)


Gloria dan Meysia mendekatinya.

__ADS_1


"Aku sekarang bisa mengingat soal Dewi Naya, kamu tidak mau diperlakukan seperti itu juga?" tanya Meysia.


"Aku tidak pantas diperlakukan seperti itu, tempatku adalah di desa dan hidup bermalas-malasan."


"Kalau begitu aku akan ikut tinggal di sana."


"Yah, terserah kau saja, Gloria kau ikut?"


"Tentu, aku penasaran desamu seperti apa sebelum aku kembali ke negaraku."


Mereka bertiga hanya berjalan pergi yang disaksikan Ardhi dari kejauhan.


Beberapa bulan setelah kekalahan raja iblis, Latifa telah melahirkan bayi perempuan.


Ardhi memasang wajah bermasalah saat semua istrinya menatapnya seperti karnivora yang lapar, termasuk pelayannya.


"Kalian semua membuatku takut."


"Aku juga ingin hamil."


"Kau juga Carmen?"


"Aku jadi sedikit iri melihat Latifa."


Latifa hanya tersenyum dengan jari yang dia letakan di wajah putrinya.


Ardhi menjatuhkan bahunya lemas.


Masih banyak yang harus dilakukan Ardhi selanjutnya, sebelum itu dia harus mengembangkan wilayah ini lagi semakin besar.


Dewi Naya yang memiliki wujud gadis kecil berteriak selagi mengangkat kantong emas di tangannya. Dia baru menduduki penguasa wilayah ini Dryad.


"Aku menemukan ini. Mari berpesta."


"Oi, hentikan, itu dana pengembangan wilayah."


"Maafkan aku, dia merebutnya."


"Pengembangan wilayah nanti saja, mari makan."

__ADS_1


Kehidupan di dunia lain untuk Ardhi baru dimulai kembali.


__ADS_2