
Di atas sebuah singgasana tampak siluet seseorang tengah duduk selagi menyilangkan kakinya, di depannya ada lima orang yang berlutut, terdiri dari dua gadis dan tiga pria yang mengenakan pakaian seragam SMA.
"Masing-masing kalian akan diberikan kunci, tolong jaga hal itu dengan baik-baik dan pastikan tidak akan ada yang bisa mendapatkannya."
"Kami mengerti."
"Aku sudah memberikan kalian berlima semua kemampuan hebat yang bisa kalian gunakan, sekarang pemanggilan kekaisaran akan dimulai dan bantu mereka, aku mengandalkan kalian para pahlawan."
Kelima orang itu telah menghilang dan muncul di sebuah aula megah yang di sekeliling mereka dipenuhi para penyihir, raja serta tuan putri dari kekaisaran turun menyaksikan di depan mereka.
"Sebagai kaisar di negeri ini, aku menyambut kalian semua wahai pahlawan terpilih."
Mereka semua tersenyum bangga.
Pemimpin mereka adalah pria dengan wajah percaya diri, memiliki rambut merah bernama Alun.
Di samping kirinya wanita dengan rambut pirang diikat ke samping dengan warna mata emas, Ruti.
Di sebelahnya lagi gadis dengan rambut hitam panjang menutupi matanya, Nene.
Sementara di samping kanan pria besar berotot dengan rambut cepak, Dorman dan disampingnya lagi pria kurus dengan wajah pucat, Barel.
Alun memberikan hormat kepada sang raja.
"Kami sudah menerima perintah untuk membantu kekaisaran ini, jangan sungkan untuk mengatakannya pada kami."
"Sungguh berdedikasi tinggi, ada dua hal yang harus kalian lakukan."
"Dua hal?"
__ADS_1
"Belakangan ini tiba-tiba saja jumlah monster semakin banyak, mungkin ini ada sangkut pautnya dengan kemunculan naga bencana, dan yang kedua aku ingin kalian membunuh seluruh ras iblis yang masih hidup."
"Untuk yang kedua boleh kami tahu alasannya?"
"Mereka sebelumnya mencoba menginvasi dunia manusia namun dari yang kudengar mereka telah kembali menempati wilayah pohon besar, sebelum hal sama terjadi lebih baik jika mereka dimusnahkan selamanya."
"Baik."
"Sebagai gantinya kalian akan mendapatkan apapun di kekaisaran ini, kalian bisa berlatih agar bisa lebih beradaptasi."
"Terima kasih atas kebaikan kaisar."
Hanya menunggu waktu sampai semua orang saling bertemu satu sama lain.
Ardhi dibantu anggotanya kini telah membuat area persawahan untuk ditanami padi, awalnya mereka kesulitan dalam perairan namun setelah itu selesai kini mereka hanya harus memasangnya.
Nisa dan Latifa telah bersaing untuk menentukan siapa yang menjadi tercepat, untuk sisanya mereka melakukannya secara normal.
"Aku tidak sabar untuk mencoba nasi."
"Bukannya kau harusnya ikut menanamnya juga desu?" kata Risa.
"Hari ini aku terlalu lelah untuk bekerja, coba saja tanyakan pada Ardhi."
Ardhi pura-pura mengalihkan pandangannya seolah berusaha melarikan diri.
"Aku sebaiknya mengambil benih yang lainnya."
"Ia pasti sudah lebih dulu memberikan benih sangat banyak untuk Dryad desu."
__ADS_1
"Sepertinya begitu nyan."
Mery menghela nafas panjang.
"Gadis-gadis sekarang perkataannya sangat menyeramkan."
"Mery, apa kau mengatakan sesuatu nyan?"
"Tidak juga."
"Bukannya kau seharusnya melepaskan baju besimu saat menanam padi."
"Aku hanya mencoba apa bisa melakukannya dengan cara seperti ini, dan sepertinya sulit."
"Itu sudah jelas nyan."
Risa mengalihkan pandangan ke arah Latifa dan berkata.
"Dan kamu juga desu, harusnya kamu beristirahat kamu sedang hamil desu, akan buruk jika terjadi sesuatu."
"Jangan khawatir, aku masih punya tenaga."
"Anaknya pasti sekeras ibunya nyan."
"Ngomong-ngomong di mana Yuki?"
"Ia di sana."
Karena Yuki sebelumnya terjatuh hampir seluruh wajah dan tubuhnya dipenuhi lumpur hingga semua orang menertawainya.
__ADS_1
"Kalian juga harus merasakannya."
Pada akhirnya banyak orang yang bernasib sama.