
"Apa segini sudah cukup?" Ardhi tengah meminta saran Purin untuk panggung yang selama ini dia inginkan.
"Itu kurang megah aku ingin paling tidak itu bisa digunakan lagi oleh grup lainnya."
"Grup lain?"
"Sekarang idol bukan hanya aku, tapi beberapa lain juga telah mengikuti jejakku karena itulah aku ingin membuat panggung yang bisa digunakan semua orang juga."
"Aku mengerti."
Ardhi mengambil penghapus lalu mulai memperbaiki rancangannya, setelah selesai ia memberikannya pada Florentine.
"Panggung ini terlalu megah, paling tidak 50 orang bisa masuk ke dalamnya."
"Kita harus memuaskan Purin."
"Dimengerti tuan, akan segera aku buat."
Pekerjaan kayu memang bisa diandalkan kepada Florentine walaupun sebenarnya julukan sebelumnya jelas tidak ada sangkut pautnya dengan ini.
Selama berminggu-minggu beberapa orang bahu membahu untuk membuat panggung pertunjukan dan ketika selesai semua orang bisa melihat bagaimana Purin menghibur banyak orang dengan nyanyiannya.
"Senang bahwa kita berhasil menyelesaikannya."
Lynn di samping Ardhi sedikit tertawa kecil.
"Tuan terlalu memaksa diri untuk mengambulkan impian semua orang."
Nebius dan Asenola muncul menyambar tangan Ardhi.
__ADS_1
"Selanjutnya adalah giliranku yang permintaannya harus dikabulkan."
"Itu seharusnya giliran aku."
"Tolong satu-satu."
"Sudah aku katakan tuan, akan lebih baik jika Anda menikahi semua orang sesuai urutan."
"Kalian menyerangku secara bersama-sama, aku jelas tidak bisa menentukannya."
Kehidupan Harem Ardhi masih berlanjut.
Seiring perut Latifa yang semakin membesar, kini ia mulai tinggal di rumah dan hanya ditemani Nemesis.
"Aku juga ingin keluar untuk bekerja."
"Itu tidak mungkin nona Latifa, tolong perhatikan kesehatan kandungannya Anda."
"Apa mau saya buatkan teh?"
"Tolong yah."
Beberapa istri Ardhi juga terkadang datang hanya untuk menanyakan bagaimana perasaan ketika mengandung. Hanya menunggu waktu mereka juga akan berada di posisi yang sama.
"Heh, apa ini? Jangan mendekatiku uwaah."
Di luar rumah tampak Yuki tengah dikejar-kejar oleh kumpulan serigala putih yang sering digunakan Dark Elf untuk berburu.
Mereka memiliki kebiasaan untuk bermain dengan salju kemungkinan mereka juga merasa begitu saat melihat Yuki.
__ADS_1
Carmen masuk ke dalam ruangan selagi menyerahkan surat undangan dari kerajaan tetangga.
"Festival ikan tuna?"
"Benar tuan, sepertinya di pemukiman ras iblis mereka kerap melakukan festival ini saat ribuan ikan tuna bermigrasi."
"Karena kita sudah diundang maka kita tidak boleh melewatkannya... mereka semua sedang sibuk, apa Carmen mau ikut pergi?"
"Dengan senang hati tuan, aku akan bersiap dalam waktu lima menit."
"Kita akan pergi besok," Ardhi menegaskan hal demikian.
Ardhi hanya membawa pedang Yuki di pinggangnya dan ia membawa kereta kuda yang di dalamnya berisi banyak sayur-sayuran.
"Kalau begitu semuanya aku pergi, Lila jangan nakal."
"Aku bukan anak kecil lagi mama."
"Pastikan kalian membawa ikan yang banyak nyan."
"Serahkan padaku."
Dan begitulah mereka meninggalkan wilayah pohon besar. Mereka melalui jalan yang sebelumnya dibuat oleh ras iblis dan itu merupakan jalan yang nyaman untuk dilalui kereta.
"Aku sudah siap memakan mereka, apa mereka bisa memasaknya dengan baik master?"
"Walau dibilang festival sebenarnya kita sendiri yang harus menangkap mereka."
"Eh, kalau begitu kita bakal lelah?"
__ADS_1
"Itu memang benar tapi sensasi menangkapnya akan membuat ikan tersebut terasa lebih enak loh saat di makan," perkataan Carmen membuat Yuki semakin bersemangat.
Dia orang yang paling menantikannya.