
Eren lebih dulu maju dengan pedang miliknya yang diselimuti api, ia melompat untuk menghentakkannya ke tanah, menciptakan gelombang api yang menyeruak membakar pijakan Roasting.
Di saat yang sama Gloria dan Yumi melompat di depan makhluk tersebut.
Yumi mengarahkan ujung pensilnya yang menembakan cahaya sedangkan Gloria mengirimkan tebasan air sebelumnya.
Mata yang bergerak ke segala arah menangkap gerakan mereka yang masing-masing menembakan laser cahaya yang membuat keduanya terhempaskan ke belakang.
Di antara keduanya Eren telah maju menggantikan, dia menyeret pedang di tanah mengayunkannya ke depan mengirim tebasan api berbentuk bulan sabit, ia melakukannya dua kali membentuk garis silang di tubuhnya.
Dengan gerakan pamungkas pedang miliknya menembus garis yang dibuatnya.
Tangannya ikut terbakar bersama rambutnya yang sejak awal berwarna merah terang.
"Cross Engine."
Bersamaan perkataannya seluruh tubuh Roasting meledak dahsyat menciptakan api yang menyembur ke segala arah, jejak-jejak api menempel di seluruh tanah menciptakan retakan lava membara.
"Dia memang benar-benar pahlawan," ucap Gloria yang mendapatkan anggukan kecil Yumi.
Di tempat lain Dewi Herina tidak berhenti melompat-lompat.
"Bagus Eren, begitulah cara bertarung... kalahkan mereka."
Dari belakang kerusakan, sosok pria dengan rambut biru serta membawa pedang besar di punggungnya muncul.
__ADS_1
"Kekuatan api yang luar biasa sayangnya, namanya api tetaplah api itu tidak sepadan dengan air."
Bola air meluncur lalu mendorong sosok Eren mundur yang ditangkap baik oleh Yumi maupun Gloria.
Yumi menyeringai dengan wajah puas.
"Akhirnya biang keroknya muncul, kami sudah lama menunggumu Blue," kata Yumi.
"Itulah namaku."
Di atas langit sekitar sepuluh ikan hiu terbuat dari sihir air terbang lalu menukik ke arah ketiganya. Yumi mengeluarkan buku cadangannya dan dari sana paus dengan ukuran raksasa muncul lalu menelan seluruh hiu sebuah meledak bersamanya.
Hujan air membasahi permukaan tanah yang kering. Di saat yang sama Blue telah muncul untuk menebas.
Pedang besar terayun dari atas yang ditahan baik oleh Eren, jika tidak ada dirinya kemungkinan tubuh Yumi pasti terbelah. Gloria hendak turut membantu namun tubuhnya telah terlempar menjauh lebih dulu karena sebuah tendangan.
"Efek red moon tidak hanya melemahkan kalian manusia, melainkan juga memberikan kekuatan berlipat-lipat ganda pada kami."
Dua tanduk menyeruak dari kepalanya kemudian sebuah gelombang air menyerupai sebuah tornado menghempaskan semua orang.
Tiffany memutuskan untuk memimpin penyerangan bersama yang lainnya setelah menimbang-nimbang akan ikut atau tidak.
"Kini dia hanya satu orang, mari kalahkan semuanya."
Beberapa penjaga di garis depan dilemparkan ke udara dengan darah menyembur dari tubuh mereka. Kepala mereka terpotong bersama daging segar yang berserakan
__ADS_1
Roy memberikan tebasan kilat melewati pisau kembarnya, di waktu yang tepat Tiffany telah melompat ke udara, dia berputar sekali untuk menjatuhkan pedang besarnya.
Walau Blue menahannya dengan membentangkan pedangnya pijakannya merebas setinggi lutut.
Orang-orang yang melihat celah tersebut maju serempak hingga dalam waktu singkat mereka terhempas oleh tornado air.
"Yang hanya akan kalian terima adalah keputusasaan."
Eren dan juga kelompok Yumi dibantu Gloria kembali menyerang.
Blue menangkis semua serangan lalu membalas dengan tebasan diagonal.
Demi melindungi Tiffany dan Yugo, Roy maju ke depan sebagai perisai.
Tubuhnya menyemburkan darah.
"Guakh."
"Inilah yang aku benci dari kalian manusia, bahkan ketika kalian akan mati masih saja memperdulikan yang lain."
Tiffany berteriak kencang berusaha membalas dengan tebasan miliknya.
"Roy."
Pedang miliknya terbelah dua kemudian satu tangannya terpotong ke udara, Yugo tidak tinggal diam, dia melempar bola asap sebelum menyeret dua orang rekannya mundur.
__ADS_1
"Naga Air," ucap Blue menusukan pedangnya di udara.
Seekor naga yang dimaksud terbang lurus pada mereka. Eren meninju tanah dan itu menciptakan dinding api untuk menahannya.