
Di atas langit seekor naga telah melewati awan dengan kecepatan tinggi, di atasnya Ardhi, Nisa dan juga Mery telah duduk untuk sampai di tempat tujuannya yaitu sebuah kawasan yang kini sepenuhnya diisi oleh para iblis.
Mereka bukan iblis yang dikenal Ardhi yang memutuskan tinggal di pelabuhan yang damai, melainkan iblis yang langsung berada di bawah perintah raja iblis sendiri dan sekarang yang memimpin mereka adalah seorang wanita bernama Artasela.
Marsya yang hanya dalam wujud naga membuka mulutnya sembari menembakan semburan api yang mengikis apapun di bawahnya, Artasela sendiri merupakan iblis yang ahli dalam sihir pepohonan dan kini dia baru saja menciptakan pohon yang sama seperti yang ada di kekaisaran sebelumnya.
Pohon itu merambat dua kali lipat dengan kecepatan lebih dari sebelumnya, ketika akarnya berhenti para iblis akan muncul dari dalamnya.
Ardhi menarik satu pedangnya dan membiarkan sisanya terbang di sekelilingnya. Pedang yang merupakan jelmaan siluman es itu bersinar, saat dia menebaskannya kilatan cahaya menyilaukan tercipta yang langsung membekukan seluruh area pohon menjadi es.
Artasela mengerenyitkan alisnya melihat bagaimana seluruh pasukannya juga berhenti bergerak.
"Kau?"
Walau dia berubah menjadi sosok terkuatnya dengan tubuh menyerupai monster, itu tetaplah sia-sia.
Marsya mendaratkan kakinya, sementara Ardhi dan dua lainnya telah melompat turun.
"Padahal kami sudah lebih kuat karena red moon, mustahil?"
Ardhi tidak membalasnya melainkan menembuskan pedang ke tubuh Artasela hingga ia tumbang setelah kehilangan nyawanya, hal itu juga berlaku untuk seluruh pasukannya yang telah membeku.
Nisa berteriak dengan wajah panik.
__ADS_1
"Kita tidak bekerja nyan."
"Kalian sudah cukup membantu di awal.. Nisa, Mery dan juga Marsya."
"Kami hanya mengalahkan kroco nyan."
"Apapun itu, yang terpenting kita masih selamat," potong Yuki Onna dalam wujud pedangnya.
Mery mengangguk kecil sedangkan Marsya hanya mengawasi dari belakang sampai ia waspada dengan kemunculan sosok yang lebih berbahaya yang telah berjalan pada mereka.
"Akhirnya datang."
Itu merupakan sosok raja iblis Agarta, setiap langkahnya memberikan ketakutan cukup kuat.
Dari tangannya dia menciptakan lingkaran sihir api yang mengeluarkan sebuah gelombang api raksasa.
Sekilas saja itu cukup membuat siapapun terbelalak terkejut. Selain mencairkan es serangan tersebut juga meluncur dengan kecepatan tinggi.
Ardhi menggunakan skill dengan gelombang air laut hingga kedua serangannya berbenturan menciptakan asap uap yang mengepul ke udara.
"Kita jelas bukan tandingannya nyan."
"Aku juga setuju, kita sudah membantu mengalahkan iblis-iblis yang menyerang kota, untuk pertempuran akhir kita biarkan Ardhi yang mengatasinya."
__ADS_1
"Itu benar."
Keduanya naik ke atas punggung Marsya kemudian terbang menjauh, Ardhi hanya mengawasi sesaat sebelum mengalihkan pandangan kembali ke raja iblis.
Setelah serangan mereka selesai keduanya saling bertatap muka.
"Rasanya sangat nostalgia, yang barusan adalah skill yang sama yang dimiliki pahlawan pertama.. ah, jadi begitu. Dia mewariskan kekuatannya padamu."
"Jika benar apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada, kau mungkin berpikir bahwa kau telah bertambah kuat tapi sebenarnya aku juga demikian.. coba bayangkan kenapa Dewi Naya harus susah payah melanggar peraturan dewi hanya untuk menyegelku, itu karena kemampuanku melebihinya."
Agarta mengangkat sebuah bongkahan tanah ke udara yang dilemparkan ke arah Ardhi.
Ardhi bisa saja mengatasinya namun dia terkejut dengan sebuah bola api raksasa yang tiba-tiba menghantamnya hingga hancur.
Sebuah suara terdengar dari seorang pria yang muncul dari balik pohon.
"Sepertinya aku tidak terlambat, jangan bertarung tanpa melibatkan aku juga."
"Kau?"
"Biar aku perkenalkan, namaku Eren Stinger. Aku pahlawan."
__ADS_1