
Setelah kepergian Herina, Ardhi berjalan ke tengah altar yang di sekelilingnya terdapat lubang kunci, ia sudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan karena itulah dia memasukan setiap kunci lalu memutarnya.
"Ini yang terakhir."
Ardhi memutarnya dan seketika sebuah kotak persegi panjang muncul ke permukaan. Ketika pintu dibuka sosok dewi yang sering dia temui di mimpinya tampak muncul.
Ardhi hanya menatapnya untuk beberapa saat.
"Mana ciumannya, bukannya ini momen saat aku dibangunkan dari tidur."
"Anda sudah bangun, dan terlebih aku tidak ingin melakukannya."
"Benar-benar tidak menarik."
Naya membuka matanya lebar-lebar selagi meregangkan tangannya.
"Terjebak di dunia mimpi sangat membosankan, terima kasih atas bantuannya Ardhi kamu berhak mendapatkan pelukanku."
Untuk yang satu ini Ardhi memilih untuk membiarkannya, dari kejauhan Marsya dan Yuki berlari untuk mendekat.
"Sebaiknya aku merubah penampilanku, atau mereka mulai jatuh cinta padaku."
Seperti yang dikatakan Naya, ia merubah penampilannya bukan hanya sekedar wajah kini ia berubah menjadi gadis kecil 10 tahun.
"Siapa anak itu Ardhi?"
"Mungkinkah master punya anak haram."
"Dia adalah Dewi Naya."
__ADS_1
"Eh, Dewi Naya cebol."
"Kalian benar-benar tidak sopan pada seorang dewi, aku hanya berpenampilan seperti ini saat di dunia."
"Jadi begitu."
Ardhi menghela nafas panjang tapi dia tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih pada rekannya yang selama ini membantunya.
Yang kini mereka lakukan hanyalah kembali ke wilayah pohon besar. Risa, Lila dan juga Naya kini ada tiga anak kecil di rumah ini.
Sementara itu Latifa menatap mereka selagi menggosok perutnya.
"Kuharap aku juga punya anak yang imut."
Ardhi hanya membalas dengan senyuman ragu dari tempatnya duduk bersama Latifa.
"Mungkin nanti, lagipula kulihat Marsya sangat menyukai tempat ini dan juga aku tidak ingin langsung begitu saja meninggalkan semua orang."
"Kamu sudah semakin dewasa dan sebaiknya bawa juga yang lainnya, mereka juga jelas ingin berpetualang, soal aku tidak masalah... di sini juga banyak orang yang menghiburku."
"Aku mengerti."
Ardhi berlutut di depan Latifa selagi menggosok perutnya. Dia merasakan sebuah tendangan di sana.
"Anak kita sepertinya akan sangat aktif."
"Fufu bukannya itu bagus, dia akan jadi seperti ibunya."
Melihat sekilas wajah kekhawatiran Latifa, Ardhi memutuskan untuk bertanya dengan ragu.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu?"
"Walau aku sudah menikah sepertinya aku masih bisa melihat masa depan, sebuah masa depan yang sulit."
Ardhi tidak ingin memaksa Latifa menceritakannya, dan ia hanya mengelus rambutnya.
"Soal raja iblis."
Latifa mengangguk kecil.
Jika demikian bahkan dengan kekuatan Ardhi dia masih harus mencari tahu lebih banyak demi mengalahkannya, bukan hanya menjadi kuat saja.
Sampai saat itu, mungkin sebuah rencana bagus jika ia benar-benar mengunjungi dungeon yang waktu itu.
Beberapa hari berikutnya Ardhi diajak Nisa untuk memancing ikan di sungai, tak hanya mereka yang lainnya juga ikut serta, seperti Mery, Risa dan juga Nemesis seorang pelayan elf dengan pakaian maid-nya yang baru.
"Nemesis bukannya pakaianmu sedikit terbuka."
"Kata yang lainnya, ini bagus untuk membuat Anda terangsang."
"Aku yakin kau mendengarkan hal yang tidak-tidak."
Nisa melemparkan kail dengan teriakan.
"Jurus kail sakti nyan."
Dia jelas hanya melemparnya seperti biasa, Risa juga melakukan hal sama dengan pose aneh, Mery tak terkecuali.
Memancing jelas tidak ada kaitannya dengan apa yang mereka lakukan sekarang.
__ADS_1