Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 49 : Melawan Dewi Herina


__ADS_3

Itu adalah sebuah pulau yang letaknya jauh dari daratan, di pulau ini terdapat sebuah altar yang disekelilingnya di penuhi menara-menara tinggi.


Tepat saat kelompok Ardhi memasukinya, Marsya dan Yuki tiba-tiba tertahan oleh sebuah pelindung tak terlihat.


"Master kami tidak bisa masuk."


"Aku juga."


"Kalian tunggu saja di sana."


Ardhi melangkah semakin jauh dan ia bisa menemukan seorang gadis telah menunggunya santai, ia mengenakan zirah valkyrie, dengan pedang di tangannya.


Adapun untuk rambutnya ia biarkan terurai sepinggul dengan sepasang pita di kiri kanannya.


Dia adalah Dewi Herina itu sendiri.


Ia merupakan dinding kokoh yang harus dilewati Ardhi.


"Hukuman dewi Naya masihlah belum berakhir, aku tidak membiarkan seseorang membebaskannya... berikan semua kuncinya maka aku membiarkan masalah ini berlalu begitu saja."


"Aku menolak, dewi Naya melakukan semua ini demi dunia ini seharusnya ia bisa dibebaskan secepatnya. Lagipula tanpanya dunia ini mungkin sudah rusak, pahlawan yang dewi kirim juga tidak terlalu membantu."


Perkataan Ardhi cukup membuatnya terkejut.


"A-aku hanya belum mengirim pahlawan yang tepat, pokoknya serahkan kuncinya atau kau harus melawanku."

__ADS_1


"Maka itu yang terjadi."


Ardhi langsung menarik dua pedang ke tangannya dan sisanya melayang di sekitarnya. Melawan dewi bukan sesuatu yang bisa ia temui setiap harinya.


Kekuatan raja iblis berada setara dengan dewi karena itulah jika Ardhi bisa melawannya maka kesepakatan menang melawan raja iblis akan lebih besar.


Dewi Herina secara tidak terduga muncul di depan wajah Ardhi, Ardhi menahan tebasannya kemudian beralih ke arah tendangan yang memaksanya mundur menjauh, seluruh pedang yang melayang mulai meluncur pada Herina dan ia dengan sigap menepisnya sebelum menerjang kembali.


Ardhi menebaskan pedangnya dan Herina membungkukan dirinya rendah untuk menghindar lalu kemudian mengayunkan pedangnya sehingga Ardhi menahannya sebelum memberikan serangan balasan.


Tubuh Ardhi diselimuti petir hitam lalu menghilang dan muncul di belakang Herina, tanpa berbalik Herina menahannya kemudian menendang Ardhi hingga terlempar jauh.


Dengan hanya setengah-setengah melawannya tidak akan berarti, mari tunjukan yang lain. Gumam Ardhi dalam hati.


"Apa hal itu bisa memberikan perubahan?" ejek Herina.


Tanpa menjawab perkataannya Ardhi bergerak layaknya kilat, Herina terlihat terkejut saat dirinya dibombardir dengan puluhan tebasan cepat yang masing-masing menghasilkan kilatan cepat.


"Tunggu, tunggu, kau terlalu bar-bar, biarkan aku beristirahat."


Tentu saja Ardhi tidak membiarkannya begitu saja, dia terus menyerangnya tanpa jeda, jika misalkan dia memberikan celah kemungkinan dia akan kalah bukanlah hal yang mustahil.


Mengalahkan dewi sangatlah sulit, bahkan jika kekuatan dewinya tidak sepenuhnya terbawa ke dunia ini tetap saja itu akan merepotkan.


Dewi Herina terlihat kesusahan meski demikian selagi mundur dia mampu mengimbangi kekuatan musuhnya, di detik terakhir dia merubah posisinya dari bertahan menjadi sebuah serangan yang mampu melemparkan kedua pedang Ardhi ke udara.

__ADS_1


Satu tebasan berikutnya tepat muncul di depan wajah Adhi yang ia tahan dengan sebuah tepukan.


Dewi Herina memasang wajah bermasalah saat dia kesulitan menariknya kembali.


"Sebaiknya Anda menyerah dewi," ucap Ardhi demikian.


"Aku masih belum kalah."


"Coba perhatikan sekeliling Anda."


"Sejak kapan."


Ardhi biasanya selalu menggunakan dua sampai enam pedang miliknya, namun sekarang dia telah menggunakan ratusan pedang yang masing-masing dari ujungnya diarahkan pada Herina yang menatap dengan berlinang air mata.


"A-aku menyerah."


"Dengan ini aku bisa membebaskan Dewi Naya bukan?"


"Sebelum hukumannya berakhir dia akan tetap di dunia ini."


"Aku tidak keberatan."


Seluruh pedang kembali menghilang ke dalam sihir penyimpanan.


"Kemampuan pahlawan sebelumnya memang sangat berguna."

__ADS_1


__ADS_2