
Mendengar hal itu mereka semua tertawa.
"Seorang yang bisa mengirim kami kembali, itu tidak akan terjadi."
Alun menarik pedangnya lalu melesat maju, dia bergerak dengan kecepatan cahaya yang membuat Ardhi dalam sekejap menahan tebasannya.
Di saat yang sama Dorman, Ruti dan juga Nene menyerang secara bersamaan.
Ruti menggunakan pukulannya yang mematikan begitu juga Dorman, keduanya memiliki kemampuan sama.
Ardhi melompat untuk menghindari tendangan keduanya yang menghantam tanah di depannya.
Dentrang.
Dia juga menahan tebasan dari sosok Alun yang berpindah tempat secara berturut-turut, ketika dia melompat jauh bola api raksasa telah jatuh di atas kepalanya menenggelamkannya dengan kobaran api penghancur.
"Kita berhasil," ucap Nene bangga dari atas bangunan yang dia gunakan untuk berpijak.
"Kalian terlalu cepat 100 tahun untuk mengalahkan Master."
"Apa yang?"
Ardhi telah muncul di belakang Nene dengan sebuah pedang yang diayunkan olehnya, itu membungkus Nene dengan es.
"Kau?"
Ardhi menarik kunci di lehernya sementara sosok Nene menghilang begitu saja seperti halnya yang Barel alami.
Kelompok Alun yang tersisa terlihat tercengang dengan gerakan cepat tersebut, walau demikian mereka tidak bisa melakukan apapun khususnya saat akar tanaman melilit tangan kaki, dan tubuh mereka.
"Apa-apaan ini?"
__ADS_1
"Sudah kukatakan dari awal sebaiknya kalian tidak perlu tinggal di sini."
"Aku belum mengeluarkan semua kemampuanku, lepaskan aku."
Ardhi menarik kunci Dorman lalu ia pun menghilang, selanjutnya Ruti.
"Hentikan, aku mohon... aku tidak ingin kembali. Dunia itu sangat mengerikan aku tidak suka harus kembali, aku akan mendengarkanmu jadi tolong lepaskan aku."
Ardhi berpikir melepaskan Ruti yang beralih ke arah Alun yang terus mengarahkan tatapan permusuhan.
"Jangan berfikir bahwa aku membiarkan hal ini begitu saja, walau aku dikembalikan... dewi Herina pasti akan mengirimku kembali kemari."
Ardhi tidak menanggapinya, ia menarik kunci tersebut lalu mengirim juga Alun kembali.
Ikatan Ruti lepas dan ia terduduk di tanah.
Yuki dalam bentuk pedang menghembuskan nafasnya lelah.
Ardhi menyarungkan kembali pedangnya, dia bahkan tidak perlu menggunakan seluruh pedangnya.
"Aku ingin tahu kenapa kau melakukan semua ini?"
"Master lebih baik kita kirim juga dia."
"Sepertinya dia terlihat menderita jika harus disuruh kembali, asal aku mendapatkan kuncinya aku akan melepaskanmu."
Ruti hanya satu-satunya orang yang dengan rela memberikan benda itu pada Ardhi.
"Sebelum itu tolong jelaskan semuanya padaku," katanya demikian.
Ia hanya merasa Ardhi bukan orang jahat terlebih dia bisa saja membunuh semua orang tapi ia memilih untuk mengembalikan mereka.
__ADS_1
"Biar aku saja master yang melakukannya."
Setelah menyetujuinya. Yuki kembali ke bentuk manusia sementara Marsya telah datang mendekat.
"Pertarungan barusan cukup keren."
"Kita akan pergi untuk menemui kaisar."
"Danganku juga."
"Untuk meluruskan kesalahpahaman."
"Apa boleh buat."
Ardhi meninggalkan Yuki dan Ruti untuk saling mengobrol, keduanya telah masuk ke aula singgasana setelah menjatuhkan beberapa penjaga yang menghalangi.
Di depan kaisar Ardhi berkata.
"Aku pikir lebih baik kalian jatuhkan senjata kalian, tidak mau dengar."
Seluruh senjata mereka tiba-tiba berterbangan lalu berjatuhan dengan sendirinya, tentu ini adalah kekuatan Ardhi sesungguhnya.
"Apa yang kau inginkan, negara ini? Atau putriku?"
"Tidak keduanya, yang ingin kulakukan hanyalah mengalahkan raja iblis yang sebentar lagi akan bangkit."
Semua orang tercengang.
"Apa kau bercanda?"
"Itulah tujuanku, berbeda dari pahlawan yang kalian panggil, aku adalah pahlawan kedua yang dipanggil dewi Naya."
__ADS_1