Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 70 : Melindungi Desa Nyansa


__ADS_3

Sama seperti tempat sebelumnya, desa Nyansa juga berada dalam perlindungan para petualang. Hampir seluruh desa telah diblokade oleh tembok terbuat dari bambu dan yang memimpin adalah gadis demi human singa, Siesta. Bersama Anisa gadis bajak laut dan Priest bernama Yuna sebagai anggota kelompoknya.


Eren berteriak ke arah orang-orang yang berjaga di atas.


"Aku pahlawan Eren ingin ikut bergabung untuk melindungi desa ini juga."


Setiap orang melirik satu sama lain ketika Siesta meletakkan tangan di pinggang memikirkannya sesaat.


"Yang gadis telihat tidak masalah tapi kau yang terlihat mencurigakan."


"Aku? Kenapa?" tanya Eren.


"Kau mengaku dirimu pahlawan sudah jelas bukan kau yang saraf atau kau yang gila."


"Oi."


Gloria menahan bahu Eren yang hendak protes.


"Dia pahlawan sesungguhnya, namaku Gloria aku ratu dari kota bawah laut Shicheng. Aku menjamin bahwa dia memang pahlawan."


"Ah.. buka gerbangnya."


"Anda yakin Nona Siesta?"


"Lakukan saja, mereka mungkin bisa menahan gempuran berikutnya."

__ADS_1


"Dimengerti."


Di depan party Siesta, Gloria kembali memperkenalkan dirinya termasuk melibatkan Pienat dan juga Meysia.


Pienat sudah lebih dulu mengirimkan pemberitahuan tetang dirinya ke desa ini, melalui formulir warga baru.


Kepala desa mengangguk mengiyakan.


"Karena krisis ini kami belum sempat menyiapkan rumah, mungkinkah nona Pienat harus tinggal sementara waktu di rumah warga yang lain."


"Tidak usah, aku bisa tidur di reruntuhan, tunjukan tempat yang kosong."


"Silahkan."


Mereka berdua pergi begitu saja, sementara Eren menanyakan hal lebih serius.


"Desa ini diserang kawanan Wyvern, jumlah mereka sangat banyak beruntung kami bisa menghalau mereka tanpa ada korban jiwa namun jika terjadi serangan lagi kami akan terpojok."


Anisa menambahkan.


"Mereka memiliki keuntungan di udara karena itulah sulit untuk bisa menyerang mereka sebelum mendarat di tanah."


Itu bisa dimengerti.


Eren mungkin akan berfikir menyerang mereka dengan sihir dari bawah dan melihat berapa banyak yang bisa dia jatuhkan.

__ADS_1


Meysia hanya memperhatikan selagi menyilangkan tangannya menopang dadanya.


Dia mungkin tidak terlalu memikirkannya, bagi orang yang akan terus hidup bagaimanapun dia dibunuh, kematian bukan sesuatu yang menakutkan untuknya.


"Untuk sekarang kalian beristirahat saja dulu, aku akan meminta kalian nanti untuk bergantian berjaga," atas perkataan Siesta party Eren mengangguk menyetujui.


Mereka diberikan sebuah kamar serta buah-buahan untuk mengisi perut mereka, seperti sebelumnya tidak ada yang tahu ini malam atau siang yang jelas Siesta menentukan waktu melalui jam pasir.


Ketika itu habis maka giliran kelompok Eren untuk berdiri di menara pengawas.


Dari atas sana Eren bisa melihat beberapa manusia yang berbaur dengan ras kucing, seingatnya ras kucing dianggap lemah tapi sekarang mereka juga berada di garis pertempuran.


"Ada yang sedang kau pikirkan?"


"Sepertinya Ardhi telah membawa perubahan pada dunia ini," balasnya pada Meysia.


Adapun untuk Gloria dan Pienat keduanya duduk selagi memainkan permainan tradisional bernama congklak.


"Begitu, kemungkinan besar suamiku mewarisi kekuatannya padanya."


Eren hanya tersenyum kecil sebagai balasan sebelum kembali mengawasi hamparan hutan luas, dari kejauhan terlihat beberapa Wyvern yang mendekat yang membuatnya membunyikan lonceng besar, suara itu saling sahut menyahut dengan yang lainnya membuat semua orang keluar untuk bersiaga.


Eren menarik pedangnya namun dihentikan Meysia.


"Hanya ada lima, biar aku saja."

__ADS_1


Ia menciptakan lingkaran sihir di udara dan dari sana tombak meluncur untuk menjatuhkan Wyvern ke tanah, pada dasarnya istri pahlawan merupakan petualang karenanya kekuatannya tidak perlu diragukan lagi.


__ADS_2