Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 56 : Lantai Terakhir 15


__ADS_3

Jika ini sebuah labirin selalu ada bos terakhir, melalui pemikiran tersebut Ardhi menghentikan langkah semua orang.


Yuki dalam bentuk pedang akhirnya bangun.


"Apa sudah pagi."


"Di saat seperti ini dia tidur nyenyak nyan, lalu ada apa hingga kita dihentikan nyan."


"Lihat baik-baik tengkoraknya."


"Itu menakutkan desu."


Mery telah memasang postur tubuh waspada bersama Marsya, tepat saat itu kumpulan tengkorak mulai berterbangan membentuk dirinya seolah hidup kecuali tanpa daging dan kulit.


"Apa kalian semua mencoba bertarung, ayolah tidak masalah jika di lantai terakhir tidak ada bos untuk dikalahkan lagipula setelah terjebak di sini manaku sudah habis untuk labirin ini."


Tengkorak itu berbicara dengan aksen cepat.


"Mungkinkah kau pemilik labirin?"


"Benar, aku senang jika ada seseorang datang kemari jadi aku bisa menyerahkan hak dungeon ataupun Labirin ini padanya dan aku bisa mati dengan tenang."


Ardhi merasa sebaiknya meminta rekannya untuk menurunkan kewaspadaan, namun hanya sedikit jaga-jaga jika tengkorak di depan mereka mulai menyerang.


"Namaku Niss, aku seorang penyihir yang dikenal jenius di eranya. Berbeda dengan pahlawan aku memilih jalan yang membuat manusia dan monster hidup berdampingan."


"Kamu mengenal pahlawan?"

__ADS_1


"Tentu kami berada di satu desa, kemungkinan besar dia pasti sudah meninggal tapi aku yakin dunia yang dilindunginya akan selalu terjaga."


Dengan keberadaan Ardhi sebagai penerus kemungkinan hal itu tidaklah nol. Ardhi pikir semua hal yang terjadi benar-benar tepat.


Dia memiliki warisan pahlawan sebelumnya dan sekarang kemungkinan besar dia akan memiliki warisan dari temannya.


Kecuali Ardhi semua orang telah berhenti melalui sihir waktu.


"Apa kamu benar-benar harus membekukan mereka?"


"Oh iya, aku tidak suka banyak orang tahu tentangku."


Ardhi memiringkan kepalanya saat dia mengalihkan pandangan ke arah batu yang memunculkan sebuah layar dan menampilkan gambaran dua anak yang duduk bersebelahan di atas ketinggian.


"Yang satu adalah pahlawan dan satu lagi adalah aku."


Niss menunjuk dirinya yang merupakan seorang anak yang lebih kecil dari pahlawan dan selalu memeluk buku di dekapannya.


"Lagi-lagi kau dipukuli orang-orang, apa yang kau katakan pada mereka?" kata pahlawan.


"Aku hanya bilang monster tidaklah buruk, di sana ada monster yang bisa saling memahami dengan manusia."


Pahlawan kecil tertawa.


"Itu tidak mungkin."


"Mungkin saja ada, kita hanya belum menemukannya."

__ADS_1


"Kita ini pengikut Dewi Naya, dewi akan sedih jika tahu bahwa kamu memilih monster."


"Aku yakin ia akan pengertian."


"Baiklah, untuk menguji apa yang kau katakan benar, mari kita pergi dari desa ketika kita sudah besar nanti, kita bisa belajar bertarung dan kemudian kita akan mengarungi jalan berbeda dibandingkan siapapun di desa ini."


"Vizel jangan bilang?"


"Benar, kita akan mengarungi jalan dari seorang petualang."


Ardhi kembali melirik ke arah Niss.


"Kami berlatih sangat lama dan di usia 15 kami melakukan perjalanan dan menjadi seorang petualang di kota labirin, kami terus melakukan misi. Aku sudah berbicara dengan banyak monster namun tidak membuahkan hasil, ketika lima tahun berlalu temanku diangkat sebagai pahlawan karena jasanya dan dia membentuk kelompok Harem miliknya dan aku lihat kau membawa pedangnya."


"Ah iya."


"Apa dia membuatmu kerepotan?"


"Tidak juga Yuki-onna sangat baik dan bisa diandalkan."


"Ah jadi begitu, dia pasti menyukaimu hingga ia memperlihatkan wujudnya."


Ardhi mulai menyadarinya.


"Kamu tahu tentang Yuki?"


"Tentu saja, karena aku sendiri yang telah mendapatkan pedang tersebut dan memberikannya pada pahlawan."

__ADS_1


"Mungkinkah seharusnya yang menjadi pahlawan adalah kau."


"Benar sekali, seorang yang dipilih oleh dewi bukan Vizel melainkan aku.. kebetulan aku bereinkarnasi menjadi anak-anak."


__ADS_2