
Di sebuah desa terpencil seorang pria di awal 20an terbaring menatap langit merah di genteng rumah, dia mengenakan pakaian sederhana dengan pedang di pinggangnya.
Jika berbicara penampilannya ia mengenakan kaos putih panjang yang ditutup kembali jaket hitam tanpa lengan.
Untuk rambut merahnya sendiri ia ikat dengan ikat kepala.
"Red moon kah, bukannya indah."
Seorang gadis yang berdiri di belakangnya segera menegurnya.
"Sampai kapan kamu akan bermalas-malasan, kamu ini pahlawan yang aku banggakan, jika kamu tidak bisa diandalkan seperti pahlawan kekaisaran aku akan mengembalikanmu ke duniamu sebelumnya."
"Bukannya itu terlalu kejam, Dewi Herina.. biarkan aku bersantai lebih banyak lagi."
"Raja iblis telah bangkit, ini bukan waktunya bersantai... kau harus bisa mengungguli pahlawan Naya, kau tahu? Sebelumnya aku tidak memberikan kontribusi dengan benar... kalau saat itu Naya tidak melanggar peraturan aku sudah dipermalukan, paling tidak kau harus lebih unggul darinya."
"Ya ampun, ternyata dewi juga saling bersaing."
"Tentu saja."
Pria yang dimaksud berdiri selagi menepuk-nepuk pakaiannya.
"Kau sudah mau bergerak."
"Tidak, aku ingin ngopi dulu."
Dewi Herina yang geram menendang pria tersebut hingga jatuh menukik tanah dengan bunyi gedebug.
"Lakukan tugasmu dengan baik Eren, atau aku akan menggantungmu di pohon sebelum mengirimmu kembali."
"Sangat tidak sabaran."
Eren bangkit selagi merasakan tubuhnya yang kesakitan sampai sekelompok orang mengerumuninya dengan panik.
__ADS_1
"Eren, gawat... para monster bermunculan dan berniat untuk menyerang desa ini."
"Benar, lakukan sesuatu."
"Eh, padahal ini desa terpencil."
"Sudahlah, bukan waktunya bermalas-malasan hanya kau yang bisa kami andalkan, ingat... kamu yang dulu bukan yang sekarang, dulu ditendang sekarang kau diandalkan."
"Kayak lagu."
Eren mendesah pelan selagi menatap bulan merah.
"Ini akan menyusahkan, mari selesaikan hal merepotkan ini hingga aku bisa bersantai lagi," ucapnya dalam hati.
Ia berdiri seorang diri di depan para penduduk desa yang berharap padanya. Di tempat lain para Orc dengan mata merah menyela mulai bermunculan.
Ada 25 Orc dari mereka dengan masing-masing membawa gada, tubuh mereka besar-besar serta memiliki aura hitam yang menyelimutinya.
"Yare, yare, Red Moon juga mempengaruhi mereka rupanya."
Dia melompat saat Orc yang lain mulai mengirimkan serangan balasan, dengan lihai ia memotong tangan mereka ke udara kemudian menusukkan pedangnya di kepala salah satunya hingga roboh sebelum menariknya kembali.
"Sekarang giliran kalian juga."
Setelah selesai Eren mengarahkan tangannya di udara dan jendela mirip pengaturan game muncul, ia menekan beberapa pilihan lalu dalam sekejap desa telah tertutup pelindung.
"Jika kalian tetap di dalam desa kalian akan aman."
"Terima kasih banyak."
Salah satu gadis sederhana memeluk Eren.
"Apa kamu akan pergi?"
__ADS_1
"Yah, ini seharusnya menjadi tugasku."
"Tugas?"
"Sebenarnya aku seorang pahlawan."
Semua orang terkejut, bagi mereka Eren hanya seorang petualang biasa yang suka bermalas-malasan.
"Kalau begitu setelah mengalahkan raja iblis aku akan pulang."
"Boleh aku ikut."
"Tempat itu sangat berbahaya jadi tunggu saja aku kembali."
"Tolong pulanglah dengan selamat."
"Tentu, aku Eren Stinger. Seorang pria pemalas namun saat dibutuhkan akan menjadi orang yang paling bekerja keras dari siapapun, dah."
Eren hanya berjalan pergi selagi melambaikan tangannya.
Bagi pria di desa dia mengatakan sesuatu yang keren, sementara untuk Herina dia mencemoohnya dengan ejekan dalam kepalanya.
(Apa-apaan kata-kata itu? Kalau bukan karena aku, kau tidak akan bergerak.)
(Aku baru saja mencoba jadi keren, tolong jangan merusak momennya)
(Aku hanya sedikit jijik)
(Apa Dewi Naya lebih lembut darimu?)
(Hentikan, kau berfikir mau pindah jadi kubunya kan)
(Cuma kepikiran, ayolah jangan merajuk begitu, mau kue?)
__ADS_1
(Es krim)
(Baik, baik)