Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 64 : Serangan Monster


__ADS_3

Yuki memutuskan untuk membawa keduanya ke ruangan pertemuan.


"Ada apa dengan kota ini? Bukannya kota ini seharusnya lebih ramai dari seharusnya?" perkataan itu berasal dari Eren.


"Apa kau sudah pernah datang kemari?"


"Tidak, hanya saja kota sebesar ini tidak mungkin hanya diisi dengan sedikit orang."


"Aku memberikan pujian soal kepekaanmu, kota ini sebentar lagi akan diserang gerombolan monster karena itulah mereka melarikan diri, karena bangsawan juga pergi semua perintah dialihkan padaku."


Eren memasang wajah bermasalah.


"Seorang gadis kecil mengambil alih kota?"


"Lebih tepatnya sementara waktu, walau penampilanku seperti ini aku lebih tua di dalam dan juga aku seorang petualang atas."


"Begitu."


"Dan kau, apa tak masalah pergi dari wilayahmu terlalu jauh?"


"Aku ingin berkontribusi dalam hal ini, jika daratan dikuasai raja iblis tidak aneh jika mereka menyerang tempatku juga."


"Aku akan berterima kasih untuk kalian berdua."


Yuki membuka pintu dan di dalam sana anggota partynya telah menunggu. Roy duduk dengan berselonjor kaki, Tiffany melipat tangannya serius sementara Yugo tampak minum-minum.


Yumi memperkenalkan mereka semua.


"Penginapan ini sudah ditinggalkan karena itulah ambilah kamar yang kalian suka."

__ADS_1


"Jadi Eren-chan kau seorang pahlawan, jika demikian kami sangat terbantu."


"Kau pasti kuat, bertarunglah denganku."


Yumi segera memotong terhadap perkataan Tiffany.


"Ini bukan waktunya tepat untuk melakukan itu, Yugo berhentilah minum."


"Aku tidak bisa, mungkin saja ini terakhir kali aku bisa minum."


"Dasar bodoh, kita tidak akan mati," Yumi membentaknya sebelum dia duduk dengan kasar.


Gloria bertanya dengan sedikit enggan.


"Memangnya berapa monster yang akan kita lawan?"


"Seratus ribu, itu jumlah yang mengerikan untuk menghancurkan satu kota."


"Begitulah, jika kita bertarung secara terang-terangan kita akan kelelahan dan mati namun Roy sudah memikirkan cara yang lebih mudah untuk membunuh semuanya."


"Kami hanya berniat mengurangi jumlah mereka dengan sebuah jebakan."


"Jebakan seperti apa itu?"


"Kami menyemprotkan bahan yang mudah terbakar di sekeliling hutan, dan saat gerombolan monster itu masuk kami akan membakarnya."


"Kalian mengorbankan hutannya?"


"Hutan tidak sebanding dengan manusia, anggap saja sebagai pengorbanan kecil," jawab Yumi santai.

__ADS_1


"Sebenarnya kami sudah memikirkan cara lain namun apapun itu kami tidak punya waktu untuk melakukannya, keselamatan kota ini lebih penting," tambah Roy demikian.


"Um... um."


Tiffany hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tepat saat itu satu prajurit telah menerobos masuk.


"Mereka telah datang, nona Yumi tolong perintahnya."


"Kalian tetaplah di belakang, mari gunakan cara itu dulu."


"Baik."


Mereka segera bergegas keluar kota, di depan para pasukan yang sudah siap dengan senjatanya, Yumi telah menggambar sesuatu di kertas gambarnya.


Itu mengeluarkan seekor harimau putih, sedangkan Roy telah menyalakan obor untuk diberikan padanya.


Yumi mengarahkan tangannya hingga harimau hanya menggigit obor itu lalu berlari ke depan.


Setelah beberapa saat hutan di depan mereka terbakar dengan cepat. Para monster yang terjebak mulai mencoba mencari jalan keluar namun itu sia-sia, pada akhirnya mereka terbakar dengan sebuah kematian.


"Apa ini bisa diselesaikan dengan cepat?" tanya Gloria.


"Tentu saja tidak, sudah kubilang ini hanya berfungsi mengurangi jumlah mereka sekarang hal yang sebenarnya."


Para monster memutuskan untuk menerobos api, mereka menggunakan monster di depan sebagai perisai hingga monster di belakangnya bisa lolos.


Yugo tertawa.


"Kita benar-benar akan mati."

__ADS_1


"Itu tergantung pilihanmu."


__ADS_2