Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 3 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 74 : Menghancurkan Bulan


__ADS_3

Ardhi memunculkan jendela di depan matanya, skill milik pahlawan pertama adalah mentransfer kemampuannya karena itulah hal ini juga bisa dilakukan.


Layar miliknya mulai mengirimkan skill kepada Eren.


Setelah pengiriman selesai, Eren menghentikan semburan apinya hingga sosok Agarta kembali terlihat dengan sekelilingnya merupakan kawah raksasa.


Dia baik-baik saja walaupun tubuhnya mengeluarkan asap.


"Usaha bagus pahlawan, tapi perlu lebih dari itu untuk melawanku."


Eren yang sudah menyiapkan kuda-kuda, melesat maju menciptakan Sonic boom di bawah kakinya.


Dia menggunakan seluruh kecepatan petirnya untuk mengimbangi kecepatan milik raja iblis, dia bergerak ke samping sebelum ke kanan dan seterusnya.


Hanya lewat tangan kosong Agarta tidak pernah mundur, dia menundukkan kepalanya saat dua pedang hendak menebas lehernya.


Pedang milik Ardhi yang melayang di udara menembus Agarta dari segala arah namun itu seolah tidak memiliki efek apapun, singkatnya penyembuhan Agarta sangatlah cepat dibandingkan luka yang diterimanya.


Ardhi hendak mengirimkan tebasan berikutnya namun tubuhnya lebih dulu ditembus oleh tangan Agarta.


Darah menyembur dari mulut Ardhi, sebelum itu menjadi luka fatal dia menebaskan pedangnya menciptakan bongkahan es yang memisahkan dirinya dan Agarta.


"Master?"


"Aku tidak apa-apa Yuki."

__ADS_1


Ardhi telah menyembuhkan luka dirinya dengan kemampuannya.


"Aku tidak tahu apa yang kalian coba lakukan, namun menyerang hanya dengan satu orang bukanlah pilihan."


"Aku tidak berniat menyerang sendirian."


Ardhi menunjuk ke arah Eren yang di bawah kakinya telah muncul lingkaran sihir api yang cukup rumit.


"Serangan yang sebelumnya kah, percuma saja."


"Take Engine."


Eren mendorong ujung pedangnya untuk menembakan serangan mirip laser, Agarta telah bersiap menahannya namun serangan tersebut tidak mengarah padanya melainkan ke arah bulan di atas kepalanya.


"Jangan bodoh letaknya sangatlah jauh serangan seperti itu tidak akan mungkin."


"Mustahil?!"


Langit merah telah berubah menjadi cerah, yang memberikan nuansa dunia sesungguhnya. Dengan ini dipastikan bahwa buff miliknya telah dihilangkan seutuhnya.


Walau demikian Agarta tertawa dengan caranya sendiri.


"Itu mengejutkan sekali, tidak aku kira bulannya bisa dihancurkan. Tapi bukan berarti aku akan kalah setelah kalian melakukan hal barusan."


Ardhi dan Eren saling berdiri bersebelahan.

__ADS_1


"Kami juga berfikiran demikian, namun paling tidak sekarang kami bisa membunuhmu."


"Eren kah, kau cukup menjanjikan sebagai pahlawan dari Dewi Herina, pahlawan sebelumnya yang dia kirim bahkan meminta untuk keselamatan dirinya sebagai gantinya aku memintanya untuk membunuh seluruh kota dan ia mau melakukannya."


"Aku sudah mendengar hal itu, walaupun pada akhirnya dia mati juga oleh pahlawan Dewi Naya."


"Tepat sekali, bagaimana jika kau melakukan hal seperti pendahulumu. Bunuh pahlawan di sebelahmu maka aku akan membiarkanmu hidup dan kuberikan setengah dari kekuasaanku nanti."


"Itu tawaran bagus tapi sayang sekali aku tidak tertarik, yang kuinginkan hanyalah bermalas-malasan, hal seperti itu hanya menyusahkan."


"Pilihan bodoh."


"Kau terlalu sombong, apa menurutmu kami tidak bisa mengalahkanmu di sini?"


"Kalian pahlawan pasti memiliki mata penilai apa menurutmu aku lebih lemah dari kalian."


"Dia bilang seperti itu Ardhi."


"Aku mendengarnya, kau salah akan satu hal.. kami tidak berdua melainkan banyak orang."


Dari sekeliling Agarta banyak orang telah bermunculan, kelompok Yumi, Siesta, para petualang lainnya, penyihir, penjaga kota, party Ardhi dan Eren dan juga seluruh pasukan kuat dari tiga kerajaan manusia, elf dan demi-human.


Tidak terkecuali dari guild Lost Carnival yang berubah menjadi nama guild perdamaian.


"Apa yang?"

__ADS_1


"Kesalahan pahlawan pertama adalah karena dia bertarung sendirian, tapi sekarang kaulah yang sendirian," kata Ardhi percaya diri.


__ADS_2