
"Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim)
Kecanggungan terasa begitu kentara diruangan bernuansa monokrom tersebut.
"Apa mama sudah tidur mas?"tanya Kia pelan,dikala kecanggunganya.
Selama pernikahan mereka mulai menginjak tiga bulan lamanya,Kia maupun Vano tak pernah tidur dalam satu ruangan,palagi satu ranjang.
"Sepertinya sudah."kata Vano datar.
Sebenarnya,rasa canggung juga tengah melingkupi dirinya.
"Mandilah,pakaianmu sudah ada didalam lemari.Aku keluar sebentar mengambil minum."
Intrupsi Vano,sebelum hilang dibalik pintu.
Tanpa menunda nunda lagi,Kia langsung berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti dan masuk kekamar mandi.
15 menit,waktu yang Kia butuhkan untuk mandi dan berwudhu.Karena salah satu kebiasaanya adalah tidur dalam keadaan masih suci.
Krieett
Setelah yakin jia Vano tidak berada didalam kamar,Kia baru berani keluar.Ketika selesai mandi,Kia baru saja ingat jika ia lupa membawa khimar gantinya.
Setelah merutuki kebodohanya,dengan kepercayaan bahwa pria itu masih diluar kamar,Kia pun baru berani keluar kamar.
Selama hidupnya tidak ada seorang priapun yang pernah melihat sehelai rambutnya,kecuali abi,umi,dan aiknya-Ezka.
Walaupun nyatanya Vano sudah sah secara agama dan hukum,dan memiliki penuh atas Kia dan tubuhnya,namun Kia rasanya belum bisa memberikan dirinya sepenuhnya kepada pria yang sudah berstatus suaminya itu.
Krieett
Ketika hendak menggambil kerudungnya,Kia dikejutkan oleh pintu kamar yang terbuka dan memperlihtkan sosok tampan bermanik elang tersebut.
Maniķ elang itu bertemu pandang dengan manik hitam teduh dihadapanya.
Lama mereka dalam posisi pandangan tersebut,dengan pelan sebuah suara mengintrupsi.Memutus atapan intens keduanya.
"M-mas,,bisa balik badan sebentar? Kia belum pakai kerudung!"ucapnya pelansambil merunduk.
"Hm-baik"
Sungguh Kia merasa sedih,karena auratnya yang ia jaga selama ini terlihat,walaupun realitanya pria itu adalah suaminya sendiri.
Dengan cepat diraihnya hijab intans panjangya,lalu dipakainya dengan cepat.
Kecanggungan kembali melingkupi keduanya,saat hendak beristirahat.
Dengan cepat Kia mengambil bantal dan selimut baru dilemari,lalu dibawanya menuju sofa.
Vano yang melihat gerak gerik sang istri dari ekor matanya,alih alih fokus pada laptop dipangkuanya.
"Mau apa kamu??"tanyanya datar,saking penasaranya.
"Ma-mau tidur mas!!"jawabnya gugup,pasalnya pria tampan yang megenakan kacamata bacanya itu tengah bertanya sambil menatapnya menelisik.
"Kenapa kamu tidur disana? Mau mama mengetahu sandiwara kita?"katanya sinis.
"Ma-maaf mas,bukanya begitu.Tapi Kia pikir mas tidak mau tidur seranjang dengan Kia!"kataya sambil menunduk.
Deg
Segitu jahatkan dirinya selama ini? Pikir Vano.Sampai sampai istrinya sendiri berpikir begitu.
"Tidur disini,bersama saya!!"
Deg
Kia reflek mengangkat wajahnya saking tak percayanya.Barusan pria itu bilang apa? Apa dia sadar??
"Kenapa? Tidak mau??"
Bukanya mau menolak,namun Kia benar benar belum siap tidur dengan seorang pria.
Selama hidupnya,aurat dikepalanya saja baru dilihat oleh pria dihadapanya ini.
Kia jadi mengingat sebuah hadist yang mengatakan jika seorang istri menolak untuk tidur seranjang dengan suaminya,dan suaminya itu tidur dalam keadaan marah,
__ADS_1
maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.
Kia sampai dibuat bergidik kala mengingat hadist yang pernah dibacakan uminya itu.
"Kamu mau menolak per-"
"Tidak.Kia bakal tidur sama mas Vano!"cegah Kia,sambil menatap manik milik suaminya sekejap.
Dengan langkah pelan,Kia pun membawa bantalnya,lalu beranjak menuju ranjang dimana suaminya tengah duduk.
"Bismillahirrohmanirrohim!"setelah membaringkan tubuhnya dengan ñyaman dan melapdzakan doa mau tidur,Kia pun siap menyelam keduania mimpinya.
Namun sebelum itu,
"Mas jangan terlalu malam kerjanya.Mas juga butuh istirahat yang cukup,jangan lupa baca doa dulu sèbelum tidur.Selamat malam mas!"katanya lembut,diakhiri dengan senyuman manisnya.
Deg
Vano yang sempat menoleh sebentar itu,dibuat bingung dengan jantungnya yang berdetsir aneh saat melihat senyuman tulus dari gadis yang tengah terlelap disampinya itu.
Entah mengapa,lama lama berdekatan dengan gadis disampinya ini,membuat kinerjs jantungnya tak normal.
Dialihkannya lagi maniknya kelaptop dipangkuanya,alih alih menghilangkan fokusnya dari gadis disampinya.
Namun hasilnya nihil,setengah jam lamanya,pikiranya tak karuan.Tak dapat konsentrasi kala mengerjakan pekerjaanya.
Bayangan ketika melihat Arkia tanpa penutup kepala,berhasil menghantui otaknya.Rambut hitam lurus nan lebat yang teràwat,panjang sepunggung.Wajah cantik tanpa polesan make up itu nyatanya tetap cantik dengan mahkota hitam panjangnya.
Ahh....bodohnya Vano saat ini.
Kenapa juga,dia jadi terus menerus membayangkan gadis ini.
Matanya yang teduh,hidung kecilnya yang mancung,bibir tipisnya yang tak henti hentinya tersenyum,wajah babý facenya yang membuatnya menggemaskan.Itu adalah miliknya,hak nya,kepunyaanya.
Bagaimanapun juga Arkia adalah istrinya,dan ia memiliki tanggung jawab penuh atas dirinya.
Setelah menyimpan laptopnya dinakas,pria bermahkota hitam itu mengguyar rambutnya kebelakang,fruatasi.
Setelah membaringkan tubuhnya yang memang terasa letih,namun matanya tak mau terpejam.
Dialihkan lagi pandanngan kesamping kanan.
Bulu mata lentiknya menutup rapat manik hitamya.Wajah baby facenya terlihat damai,dadanya naik turun beraturan dibalik khimar panjangnya.
'Cantik'
Tanpa disadari Vano memang menggumamkan kata tersebut.Apakah dia memang sudah mulai tertarik akan keberadaan istrinya itu?
Menepis segala pertanyaan pertanyaan itu,Ia langsung saja memejamkan matanya dengan rapat.Berharap malam segera membawanya kealam mimpi.
Agar ini benar benar cuma tidur bersama saja,tanpa adegan panas yang sering ia lakukan dengan kekasihnya tiga bulan terakhir ini.
Semoga saja,malam cepat membawanya kealam mimpi,dan memberinya bunga mimpi yang indah.
Ayah....
Ayah.....
Ayah....
Disana putih,semuanya terang dengan cahaya putih.
Jauh didepanya berdiri dua bocah lelaki.
Yang satunya tampan sepertinya,dan berwajah terang berseri seri.
Sedangkan disampingya,memang tampan seperti dirinya,namun dalam keadaan terantai dan menangis.
Ayah.....kenapa tidak menyayangiku?
Kata bocah tampan bermanik hitam teduh tersebut.Manik teduh yang familiar dimatanya?
Ayah.....menyayangiku,tapi kenapa menyikasku?
Kata bocah disebelahnya,yang sedari tadi tersenyum sambil menangis.
Ayah....
__ADS_1
Ayah.....
Namun belum sempat Vano menghampiri keduanya yang terlihat menangis sesenggukan,kelebat hitam sudah terlebih dahulu membawanya kealam sadar.
Hos
Hos
Hos
Deru napanya berat,kala tudurnya terbangun oleh mimpi aneh tersebut.
'Mimpi apa barusan?'gumamnya.
Belum selesai keterkejutanya karena mimpi tersebut,sesuatu yang menggeliat dalam pelukanya,membuatnya hampir memekik saking kagetnya.
Sejak kapan.......dirinya tidur dalam posisi ini??
Posisi yang membuat jantungnya langsung bermaraton ria.
Bagaimana bisa,ketika ia terbangun ďari tidurnya,dirinya berada dalam posisi memeluk perut ramping sang istri yang masih terlelap.
Euggh..
Lenguhan kecil dari siempunya,seakan akan menghidupkan alarm alam bawah sadar Vano.
Dengan cepat dilepasnya pelukanya,lalu beringsut menjauh dari sang istri.
Diliriknya sebentar keadaan sang istri.
Masih terpejam damai.
Uhh....hampir saja? Batin Vano lega.
Entah bagaimana bisa,dia tidur dalama posisi tersebut.Yang ia tahu ia tak ingat sama sekali telah memeluk perut ramping itu semalam.
☆☆
Seorang wanita berambut kecoklatan bergelombang sepunggung itu,tengah menatap bahagia pada benda pipih bergaris dua dihadapanya.
Senyuman yang mewakili kebahagiaanya tak penah berhenti absen dari bibir ramunya.
'Kamu anugrah buat mama baby'lirihnya sambil mengelus elus perut rampingya sayang itu.
Setelah mengalami gejala gejala umum itu,Arin-menyempatkan dirinya untuk membeli benda tersebut keapotik.
Ternyata yang diduganya benar,tuhan tengah menitipkan anugrah dirahimnya.
Buah cintanya dengan sang kekasih.
Namun disisi lain,ia juga merasa bersalah karena telah mènjadi orang ketiga.
Hati kecilnya merasa bersalah telah menyakiti hati gadis yang tlah resmi menjadi suaminya.
Namun,lagi lagi ia menepis rasa bersalah itu jauh jauh.
'Sekali ini saja,sekali ini saja aku egois.Untuk meraih apa yang harusnya menjadi milikku dan bayiku.'batinya penuh tekad.
Bagaimanapun juga ia butuh menepis rasa bersalah itu demi bayinya.
Demi cintanya,ia rela menyakiti perasaan gadis yang tak bersalah.
Ia akan berjuang merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya semenjak dulu.
Cintanya,syatus,kebàhagiaannya,prianya,untuk dirinya sendiri.
'Kita akan rebut papa bersama sama sayang!'batinya.
Karena kepulanganya sudah direncanakan dari jauh ketika ia terpuruk,saat mendengan kabar kèkasihnya telah beristri.Ia kembali,dan menjalankan drama ini.
■■■
Hampir saja (2)🍄
Haapp.....jangan lupa vote,komen dan share ya😊😊
Sampai jumpa dipart selanjutnya🤗🤗
__ADS_1
Sukabumi 15/11/19
11.40