
'Kamu adalah pengikat yang secara tidak langsung mengikat hubungan yang mulai merenggang ini.'
"Celamat pagi Ayah...unda...."
Sapa sikecil Anzal yang sudah rapih dengan seragam playground-nya.
Kedua orang dewasa yang disapa tersebut tersenyum sumringah,menyambut putra kecilnya.
"Hali ini Anzal diantal cekolah cama yayah ya nda?" Tanya bocah tersebut,sambil duduk dipangkuan sang ayah.
"Iy-"
"Hari ini katanya Anzar mau berangkat sama Abi?" Sela suara bas yang melantun dari pria yang berdiri diambang pintu tersebut.
"Abii...."
Panggil Anzar,sambil melambaikan tanganya.
"Selamat pagi semuanya!"
Sapa pria tampan yang berbalut setelan formal tersebut.
"Pagi Mas,ayo ikut sarapan bersama kita."
Ajak Kia sambil tersenyum kecil.
Pria itu tersenyum kecil,ketika mendapat sapaan hangat tersebut.Lalu ia mengambil posisi duduk berhadapan,dengan pria bermanik jelaga yang tengah menatapnya tak suka.
Keadaan canggung dan dingin tersebut begitu kental,sampai Salma dan Harun ikut bergabung pun,atsmosfir diantara ketiganya terasa asing.
"Mas mau tambah sayurnya?" Tawar Kia.
"Boleh."
Dengan cekatan,wanita berpasmina cream lebar tersebut mengambilkanya.Layaknya seorang istri melayani suaminya.
'Dia istri saya,kenapa jadi kamu yang dilayani?' Decih Vano membatin.
"Nda....yayah...juga cayulnya udah abis,kok...ndak diambiliin??"
Tanya sikecil bersuara.
Bocah tampan itu memang selalu menenpel kepada Vano,sejak pria itu datang kekehidupanya.
Bagaikan oase digurun sahara,Anzar memang selalu saja tahu kapan harus membela ayahnya.
Dengan senyum yang dibuat buat seikhlas mungkin,kià menambilkan sayur kepiring milik Vano.Tanpa disadari,seulas senyum tipis terbit dibibir Keevano.
Ia tahu jika Kia melakukanya karena keterpaksaan,namun ia juga bersyukur karena putranya selalu berada dikubunya.
Selesai sarapan bersama,agenda selanjutnya adalah mengantarkan sikecil untuk bersekolah.
Diusianya yang baru memasuki umur tiga tahun,Kia memang telah mendaftarkan putranya itu ke salah satu playground yang cukup terkenal di Ankara.
"Anzar hari ini berangkat sekolahnya sama siapa,ayah atau abi?"
Tanya wanita baya tersebut,sambil menyiapkan bekal sang cucu.
"Hm.....ciapa ya??"
Bingung sikecil Anzar,sambil memainkan jarinya didagunya.
Wanita baya berhijab syar'i tersebut tersenyum kecil,melihat kepolosan sang cucu yang menurutnya sangat menggemaskan tersebut.
"Umi,kia kemana?"
Tanya pria berpakaian formal yang tengah mengenakan dasinya tersebut.
__ADS_1
Salma tersenyum kecil,melihat kesulitan yang dialami menantunya tersebut.
"Sini,biar umi bantu!"
Dengan cekatan,Salma membantu Vano untuk memasangkan dasinya.
Vano tersenyum kecil,dalam hati ia bergumam,seharusnya Kia yang melakukan ini semua,karena bagaimanapun Kia masih berstatus sebagai istrinya.
"Uwwaah....yayahnya Anzal handcome ya!"
Puji bocah tampan tersebut,sambil berdiri didepan ayahnya.
Grep
"Putra ayah juga Handsome,hm...verry handsome!" Jawab Keevano,sambil meraih tubuh putranya untuk direngkuh kedalam pelukanya.
"Kia mana mi?"
Tanyanya,saat diedarkanya manik jelaganya.Namun tak dapat pula menemukan sosok yang dicarinya.
"Tadi Kia izin ketaman belakang sama Bara.Ada yang mau dibicarakan katanya!"
Tutur Salma.
"Hm"
Jawab Vano sambil menatap kearah luar jendela dengan nanar.
Ia tahu jika selama tiga tahun ini,banyak yang telah berubah.Banyak yang telah terjadi kepada wanitanya.
Iya tahu ia juga belum terlambat untuk kembali memperjuangkan hubunganya,namun resikonya ia memiliki seorang rival potensial yang sudah gerak cepat dari dulu.
Dia adalah Bara,pria yang saat ini maupun dulu selalu menjadi rival abadinya dalam meraih cinta Arkia.
Pria potensial yang berprofesi sebagai lawyer atau pengacara terkenal yang saat ini bekerja disalah satu firma hukum ternama di Ankara.Belum lagi status single yang membuat pria ini menjadi idaman banyak kaum hawa.
Vano tahu cukup besar resiko Bara untuk mendapatkan hati Kia,namun iapun tak mau kalah secepat itu.Jika memang hubunganya masih bisa dipertahankan,maka ia akan memperjuangkanya sampai titik penghabisan.
"Ya,ada apa mas? Katanya tadi mas ada yang mau ditanyakan?" Tanya Kia sambil tersenyum kecil.
Keduanya kini tengah duduk berhadapan disebuah pondok kecil,ditaman belakang rumah Kia.
"Kamu tahukan,berapa lama kita saling mengenal?"
Wanita cantik bermanik hitam teduh itu mengangguk.Ia dan Bara memang sudah cukup lama bersahabat,dari kecil sampai sebesar ini.Rasanya selain Ezka,Bara-lah
Yang hampir mengetahui semua seluk beluk tentang apa yang kesukaanya atau tidak disukainya.
"Kamu juga tahukan ki,kalau aku suka kamu?" Lanjut pria tampan beriris coklat tersebut.
Deg
"Aku suka kamu,sebagai pria terhadap wanita.Bukan suka sebagai sahabat."
Bibir mungil Kia terkatup rapat.Dulu,teman teman perempuanya yang suka kepada Bara dan pernah ditolak bara dengan alasan pria ini menyukai perempuan lain,Kia pikir itu memang bukan dirinya.
Namun ketika mendengan secara langsung,jika yang selama ini disukai Bara adalah dirinya,bibir Kia seakan kelu seketika.
Jantungnya bergemuruh tak karuan.
Entah mengapa,ia terkejut bukan main saat pria dihadapanya ini mengutarakan isi hatinya secara langsung.
"Aku sayang sama kamu ki,sama Anzar juga.
Jadi.....aku mau tanya sama kamu,mau gak kamu jadi pendamping hidupku ki?"
Tanya Bara to the point.
Dirogohnya saku kiri celana bahanya,dikeluarka kotak persegi berbahan kaca transparan tersebut.
__ADS_1
"Arkia Shalfira mubaraq,aku tahu ini entah lamarañ keberapa dalam tiga tahun ini.
Namun tanpa bosan aku bertanya,will you marry me ki.....?"
Tanya pria tampan tersebut,sambil berlutut disamping tempat Kia duduk.
Memperlihatkan sebuah cincin berhiaskan permata yang canti dihadapanya.
Wanita cantik itu sampai menutup mulutnya,saking terkejutnya.
Bukan karena seringnya pria itu melamarnya,namun atas keberanian Bara yang melamar Kia,padahal masih ada Vano-pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
"Aku......."
Tanpa mereka ketahui,ada sesosok pria yang menatap sendu kearah keduanya.
Hatinya berdenyut nyeri,dengan langkah gontai,iapun pergi meninggalkan dua insan yang menurutnya tengah dimabuk asmara tersebut.
Sepeninggalanya dari perjalanan menuju playgrònd tempat putranya bersekolah,pria itu terus memikirkan apa yang dilihat dan dingarnya tadi.
'Apa Kia menerima lamaran pria itu?'batinya menerka nerka.
Apa sampai disini akhir dari perjuanganya??
Apa sampai disini akhir dari kisah cintanya??
Apa sampai disini perjalanan mahligai rumah tangganya??
Apa dia harus menyerah sekarang??
Menyerah demi wanita yang dicintainya agar bahagia dengan pria pilihanya??
"Aarrggg....."
Geram Vano frustasi sambil memukul stir kemudinya.
Ia kalah lagi,ia terkalahkan olah kenyataan pahit lagi.
'Arrggg.....kenapa semuanya bigitu menyakitkan ya-Allah!'
Sementara itu,seorang wanita cantik berhijab syar'i itu tengah duduk dengan menautkan kedua tanganya didepan dagunya.
Dalam hati ia tengah berpikir,bergelut dengan batinya.
Apakan jawaban yang ia berikan sudah benar??
Apakah jalan yang diambilnya sudah yang terbaik kali ini??
'Semoga saja,ini jalan yang terbaik untukku dan putraku ya-Rabb.'
TBC
Huahhh.....night All readers😄😄
UP....lagi akoh nih.....
Gimana,ada yang bisa nebak keputusan kia apa???
Terima???
Atau tolakk???
Cuss.....komentar guys🤗🤗
Jangan lupa vote💯 komen💬 like🖒 and share⛖.Tolong bantu dukùng ya readers🤗🤗
Sampai jumpa lagi🖑🖑
Sukabumi 16/12/19
__ADS_1
19.55