Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Gadis kecil


__ADS_3

'Jangan......jangan sampai aku jatuh hati pada gadis kecil sepertimu!'


-Bara Pradipta-


"Ya-Allah sampai pucat gitu,kok bisa muntah muntah? apa jangan jangan Vano-"


"Umii.....baju forum majlis abi yang biru dimana?" Panggil suara Halim,sayup sayup dari luar kamar.


"Astagfirullahaladzim,baju abi lupa umi gosok!" Ujar wanita baya tersebut,sambil berjalan meninggalkan Kia dan Vano.


"Astagfirullah,umi kok bisa lupa gitu!"


Gumam Kia pelan sambil membantu memapah sang suami keluar dari kamar mandi.


"Ki....kamu mau kemana?"


Lirih pemilik suara bariton tersebut,menahan Kia yang hendak melangkah.


"Kia mau buat bubur buat mas.Bukanya mas harus minum obat,sebelum itu mas harus sarapan dulu." Ucap wanita cantik bermanik hitam teduh tersebut.


"Aku mual ki,gak mau makan apapun."


Tolak pria berusia 30 tahun tersebut,sambil memperlihatkan ekspresi memelasnya.


"Mas harus makan walaupun sedikit.Nanti Kia sekalian panggil dokter,ya!"


Kata Kia lembut,sambil mengusap punggung tangan suaminya.


Vano kalah,melihat kelembutan yang diberikan istrinya itu,ia menyerah seketika.


Entah mengapa,Vano sekarang lemah akan perintah sang istri yang disampaikan dengan nada lembut tersebut.


"Ok,tapi habis itu kamu temani mas tidur."


Pinta Vano,sedikit merajuk.


Menggemaskan,itulah yang dipikir Kia saat ini.Hingga tanpa sadar,bibirnya terangkat membentuk senyum sabitnya.


"Iya."


Setelah dokter datang dan memeriksa Vano,dokter bilang jika pria tersebut masuk angin dan kelelahan.Pernyataan itu didukung juga dengan kebenaran jika malam sebelumnya,Vano memang pergi meeting dengan salah satu Clientnya ditempat yang dekat dengan pesisir pantai hingga larut malam.Maka tak ayal jika pria itu keesokan harinya mual,muntah muntah dan pusing.


"Hm...tadi itu umi mau bilang apa mi? Kok gak dilanjutin?" Tanya Kia penasaran.


Pasalnya tadi pagi uminya itu seperti akan mengatakan sesuatu,namun terpotong oleh panggilan dari abi.


"Yang mana sih ki? Umi lupa loh..."


Sanggah wanita berhijab syar'i tersebut.


"Yang tadi mi,didepan kamar mandi.Masa umi lupa?" Kata Kia mengingatkan.


"Astagfirullah,Umi beneran lupa loh ki."


"Yaudah,lupain aja mi!"


Kata Kia sambil mengeluarkan mangga muda yang dibelinya dari pasar kemarin sore.


"Mangga muda itu kamu yang beli ki?"


Ujar Salma,penasaran.


Setahunya,putrinya itu tidak terlalu suka makanan asam sejenis buah buahan muda,asam jawa ataupun makanan asam lainya.Ngilu katanya.


"Iya mi,Kia beli kemarin sore."


Ungkapnya berbinar,sambil mencuci mangga mangga tersebut.


"Buat apa ki?"


"Buat dirujak mi,kayaknya seger panas panas makan rujak." Ungkap Kia,sambil membersihkan mangga tersebut.


"A-apa?"


😿😿


Brukk


Suara tubuh besar nan jangkung yang ambruk disofa panjang diruang tengah tersebut.Manik coklatnya menatap sejenak jam dinding yang mengantung dihadapanya.


Jarumnya menunjukkan pukul 20.05 malam.


Pantas saja ruang tamu sepi,Dimas sahabatnya pasti tengah menidurkan sikecil Aurra.


Risma pasti tengah shalat isya,pikirnya.


Sedangkan gadis menjengkelkan itu.....ahh,dia malas memikirkanya.


Dilepaskanya dengan lelah dasi dark coklat tersebut.Hari yang melelahkan baginya hari ini,apalagi setelah kejadian memalukan tadi siang.Issh....Bara malu sendiri ketika mengingat kejadian tersebut.


"Kamu sudah pulang Bar?"


Tanya lembut Risma yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah tan."


"Kamu pasti lelah ya,tante siapin air panas dulu buat kamu mandi ya?"


Tawar Risma.


Risma memang tàk pernah membeda bedakan sahabat sahabat putranya.Ia menganggap mereka sebagai putranya sendiri.


"Gak perlu tan,Bara bisa sendiri kok."


Tolak bara halus,sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kamu sudah makan malam Bar?"


"Udah tan,diluar sama client tadi."

__ADS_1


Jawab Bara sambil meraih jas dan tas kerjanya.


"Bara..."


Panggil Risma,ketika pria muda tersebut hendak meraih knop pintu kamarnya.


"Iya tante,ada apa?"


"Malam ini Baby tidur dikar kamu lagi ya!"


Lirihnya,sambil menatap Bara tak enak.


"Apa??"


Kaget Bara sejenak,tak lama kemudian ia mengusap wajahnya frustasi.


Padahal bayanganya,setelah letih bekerja seharian ini,Bara akan segera tidur diatas rànjangnya nyaman.Lahh....ini??


Nasib....nasibbb!


"Maaf ya bara,tadi Baby menangis histeris setelah pulang dari membeli kecap.Katanya dia dikejar kejar sama anak buah ayahnya.Sampai dirumah dia menangis histeris,dia ketakutan sampai ketiduran."


Tutur Risma.


Benar saja,ketika memasuki ruangan yang menjadi kamarnya itu,gadis mungil itu tengah bergemul didalam selimut.


Tidurnya tak nyenyak,itulah yang dapat disimpulakan oleh Bara saat ini.


Dalam tidurpun,gadis berambut bob tersebut menyengirtkan dahinya,memperlihatkan jika tidurnya tak nyaman.Jejak air mata masih nampak dipipi mulusnya,hidung mungilnya bahkan masih berwarna merah.


Dari semua itu Bara bisa menyimpulkan,jika gadis mungil yang biasanya menjelkan ini benar benar telah menangis hebat.


"Dasar bocah...."


Gumam Bara kecil,sambil menaikkan selimut yang dikenakan baby hingga batas dada.


Dengan langkah kecil,seakan akan tak mau membangùnkan sipenghuni kamar,pria tampan itu melesat menuju kamar mandi.


"Ahh....leher dan punggungku pasti akan sakit lagi esok hari." Gumamnya kecil,sambil menyiapkan bantal dan selimut diatas sofa yang akan menemaninya tidur malam ini.


Lagi,untuk kedua kalinya putra seorang pengusaha Batu bara terkenal asal Kalimantan harus tidur diatas sofa,hanya karena seorang gadis kecil.Catat itu,seorang gadis kecil.


Euggghhh


Lenguh kecil gadis berambut bob tersebut.


Wajahnya yang tak terpulas make up sedikitpun,terlihat menggemaskan ketika baru bangun tidur.Dan pemandangan pertama yang dilihatnya untuk pagi keduanya dirumah ini,adalah pemandangan yang menakjubkan menurutnya.


Turun dari ranjang king size tersebut,langkahnya membawanya mendekat kearah pria tampan yang masih terlelap diatas sofa.


Berjongkok disampinya,yang langsung berhadapan dengan wajah tampan dan mempesona siempunya.


'Tampan'


Batinya tak bisa menyembunyikan ketertarikanya.


Lalu,tanganya yang tanpa peduli akan kata 'lancang' itu mengarah keleher jenjang yang kemarin menjadi sasaran gigitan mautnya.


Gumamnya kecil.


"Ternyata kamu tahu kata maaf juga!"


Sindir suara bass dari pria yang masih menutup matanya tersebut.


Deg


"O-om u..udah bangun? Sejak kapan?"


Kata Baby gugup,seperti anak kucing yang ketahuan mencuri ikan.


"Sejak kamu memandangi saya!"


Ujar Bara sambil membuka matanya,menampilkan manik coklat miliknya yang mempesona.


Deg


"Terpesona hm?"


Lirih Bara,sàmbil tekekeh kecil.


Nyatanya mengoda gadis kecil dihadapanya ini tak terlalu buruk,malah menyenangkan.


"Aahh...Baby,ma-mau mandi dulu ya om!"


Kata gadis bermanik emerald tersebut,sambil berlari kocar kacir keluar kamar.


"Dasar!"


Gumam Bara pelan,sambil beranjak dari tempat berbarinya,dan-


"Ahkk..."


Rintihnya tertahan,karena saat hendak bangun tubuhnya terasa remuk dan ngilu.


"BABY.....KEMARI KAMU!"


teriaknya kesal.


**


"Pagi tante."


Sapa gadis mungil berambut bob yang dikuncir atas sebagian tersebut.


Tubuh mungilnya terbungkus oleh dress kotak kotak berwarna merah dan puti,bertali dipinggangnya.


Baju tersebut memang kemarin ia beli bersama Risma,atas dasar rasa kasihan risma yang terus menerus melihat Baby mengenakan pakaian longgar milik Bara.


__ADS_1


"Subhanallah....cantiknya putri tante!"


Puji Risma,yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk Bara,Dimas dan Aurra.


"Bolehkan Baby ikut bantuin kan tan?"


Tawarnya.


"Boleh boleh,ayo!"


Dengan cekatan,gadis mungil yang lebih mirip anak SMP/SMA itu memberikan nasi beserta laut pauknya kepiring Bara maupun Dimas.


Untuk sejenàk Bara tak dapat mengalihkan pandanganya dari gadis mungil beremerald bulat tersebut.Cantik nan menggemaskan ketika melihatnya pagi ini.


"Ekhem,ada yang terpesona hm?"


Sindir Dimas,sambil menyikut lengan Bara.


"Siapa?"


Elak Bara,sambil melahap sarapan miliknya.


Sedangkan Bara yang melihat itu tersenyum menang karena telah berhasil menggoda sahabatnya tersebut.


Derrt


Derrt


Ketika selesai menghabiskan sarapanya,perhatian bara teralihkan kepada smartphonenya yang bergetar.Dari atas layar lima inchi tersebut,Bara bisa melihat nomer tak dikenal yang menghubunginya.


"Hallo?"


"...."


"Ya,dengan saya sendiri!"


"...."


"Benar,jadi anda ayahnya?"


"...."


"Ya,putri anda masih tinggal bersama saya."


"..."


"Baik!"


"..."


"Saya akan menunggu anda tuan!"


Tut....Tut.....Tut


Sambungan telpon tersebut terputus setelah perbincangan diantara keduanya terputus.Dengan senyum bahagia,Bara langsung beranjak dari tempat duduknya.


Diruang makan memang tinggal ada dirinya,Risma dan Dimas sudah pergi terlebih dahulu untuk mengantar Aurra sekolah.


Deg


Jantung Bara memburu seketika,saat melihat seorang berdiri mematung beberapa meter darinya.Air mata mengalir dari manik emeraldnya.


Bara yakin,jika gadis mungil itu telah mendengarkan semua pembicaraanya dengan pria disebrang sana yang mengaku sebagai ayah dari gadis dihadapanya ini.


"Kamu-"


Bara benar benar tak tahu harus berbicara apa.Saat melihat gadis mungil itu menangis,rasa bersalah menghampirinya seketika.


"Saya-"


Kata Bara terputus,saat gadis cantik berambut hitam sebahu itu telah berdiri dihadapanya.Berdiri tepat dihadapanya,menjinjitkan kakinya sedikit,kedua tangan mungilnya meraih tengkuk pria dihadapanya.


"Apa-"


Cup


Pria bermanik coklat bening itu mematung seketika ditempatnya.Manik coklatnya membulat sempurna,ketika perbuatan gadis mungil dihadapanya membuat kinerja otaknya blank seketika.Jantungnya memburu dua kali lipat dibuatnya.


'Astagfirullahaladzim,bibir saya....tidak suci lagi!'


TBC


@@@


HOhoho....Gimana guys??


Maaf ya....tlat update.


Soalnya hari ini Emak(ku) ngajak kesawah😂😂refreshing katanya.Anak juara bukanya sukuran,inimah diajak kerja😅.


Anak petani mah gitu yaa😂😂


Giman nih episode kali ini??


Garing??


Gajee??


Penasaran??


Atau terkejat diakhir episode??


Cus....lah...komen🤗🤗


Jangan lupa dukunganya ya🤗🤗


Sampai jumpa lagi dipart berikutnya ya🖑🖑


Sukabumi 22/12/19

__ADS_1


13.52


__ADS_2