
'Sesulit apapun jalan yang akan dilewati seorang pasangan,niscaya suatu saat nanti kesulitan itu akan tergantikan dengan kemudahan.'
"Ok,kalau begitu bersiaplah menjadi nyonya Bara Pradipta nona Babyanza La~Susan Luthears,maka dari itu jangan pernah lagi pergi dari sisiku." Ucap Bara penuh bahagia sambil mendekap kembali tubuh mungil dihadapanya,erat.
Mendekapnya erat seolah olah takut gadis dalam pelukanya itu akan hilang jika lengah dari pelukanya.
**
Selepas badai pastilah terbit terang pereda,membawa seulas harapan dengan datangnya terang benderangnya.
"Ayo kita pulang by!"
Ucap pria tampan bermanik coklat tersebut,sambil mengulurkan tanganya.
Gadis bercadar itu menangkupkan kedua tanganya didada.Mengisyaratkan menolak secara halus uluran pria tampan dihadapanya.
Bukanya marah,Bara-pria tampan bermanik coklat itu malah mengembangkan senyumnya kala melihat isyarat gadis dihadapanya.
"Kita bukan mahrom,tadi saja sudah dosa besar berpelukan dengan lawan jenis."
Ucapnya pelan sambil menunduk.
Senyum Bara makin berkembang,kala kata kata yang diucapkan gadis dihadapanya itu amat manis baginya.
"Ok,kalau begitu kita besok menikah!"
Lanjutnya sambil senyum sumringah,menyambar pergelangan tangan gadis bercadar,yang terhalang oleh gamis berlengan panjangnya.
"Eh,tapi-"
Tak ada niatan lagi untuk menolaknya,ketika melihat senyum sumringah pria yang dicintainya tersebut.
'Semoga,apa yang disemoga semogakan,akan tersemogakan ya-Rabb!'
***
"Sayang,ngapain kamu naik tangga bawa barang berat seperti itu?" Omel pria yang sudah rapih dengan setelan jas formalnya tersebut.
"Ini gak berat mas,cuma baju yang mau disimpan dilemari aja!"
"Itu berat,gimana kalau kamu keseleo karena keberatan membawa itu,dan jatuh,pendarahan hebat,terus dilarikan kerumah sakit,gimana?"
Cerocos pria tampan berambut gelap tersebut,sambil mengambil tumpukan baju yang dibawa sang istri.
"Astagfirullahaladzim,ucapan itu adalah doa loh mas!"
Ingatkan si-wanita berhijab syar'i tersebut.
"Astagfirullahaladzim,bukan gitu maksudnya ki!"
Elaknya,sambil berjalan disamping wanita berperut buncit tersebut.
"Kamu itu gak boleh bawa bawa yang berat berat ki,ingat kamu lagi hamil,sayang!"
Tutur pria bersetrlan formal yang baru menyimpan barang bawaanya itu didalam walk in closet.
"Iya mas vano,Kia tahu kok!"
Jawab sang wanita lembut,sambil menghempaskan tumbuhnya untuk duduk diatas ranjang king size-nya.
"Hey grils,ayah mau berangkat kerja nih,mana dong 'say hai-nya' buat ayah?"
Celoteh pria tampan berambut jelaga tersebut,sambil mengelus elus perut buncit sang istri.
Sedangkan Kia-wanita cantik berhijab syar'i tersebut hanya tersenyum kecil,sambil menikmati momen yang rutin dilakukan suminya ini semenjak kehamilan keduanya tersebut.
Senyum pria tampan itu mengembang dengan begitu mempesonanya,ketika tanganya merasa mendapat respon dari calon anak keduanya.
"Terimakasih buat 'say hai-nya' baby grils!"
Entah mengapa,kehamilan kali ini Kia pikir bahwa Vano lebih sensitif tentang calon jabang bayinyà.Pria tampan itu,selalu saja meyakini jika anaknya nanti berjenis kelamin perempuan. Ia selalu saja menyebut
Jabang bayinya dengan panggilan baby grils.
"Ki,besok pagi kita pulang ke Indonesia ya!"
Lanjut pria tampan yang kini tengah dirapihkan setelan formalnya oleh sang istri.
"Hmm-tapi....mas"
Bingung Kia.
Bukanya tak rindu akan kampung halamanya ditanah air yang ia tinggalkan selama ini,tetapi tetap saja ada sedikit keraguan untuk menginjak tanah bumi pertiwi tersebut.
Grep
"Jangan takut ki,tidak perlu ada yang dikhawatirkan!" Yakinkan Vano,sambil menangkup kedua pipi mulus sang istri.
"Keluarga kita menunggu kamu dan Anzar pulang kesana,sayang!" Lanjutnya sambil tersenyum meyakinkan.
Ragu,namun akhirnya semua itu perlahan sirna.Senyuman menjawab dengan yakin itu,terbit dibibir mungilnya.Membuat pria dihadapanya langsung kembali mengembangkan senyuman senangnya.
Cup
"Terimakasih"
Ungkap Vano bahagia,sambil mengecup dahi sang istri sayang.
"Kalau begitu,kamu sama Anzar siap siap ya!" Ucapnya kembali berujar.
"Tapi bukanya,kita pulang ke-Indonesianya besok ya mas?"
"Pulangnya dipercepat,jadi hari ini!"
Kata Vano spontan.
"A-apa?"
-Bandung,Indonesia (pukul 11.00 pagi)-
"Assalamualaikum"
Uluk salam pria tampan yang tengah mengendong putra tampanya tersebut.
"Waalaikumsalam,Vano! Kamu- pulang nak?" Riuh wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik tersrbut.
Silvia-wanita paruh baya itu langsung dengan antusiasnya menyambut kepulangan sang putra dan menantu kesayanganya.
"Ya-Allah,ini cucu mama?"
Tanya ketika ketiganya tengah berada diruang tamu rumah megahnya.
Kia tak berani menjawab,ia merasa malu dan bersalah karena selama ini telah menjauhkan Anzar dari nenek dan kekek dari pihak ayahnya.
"Iya ma,masa Anzar anak Bara.Diakan tampannya mirip aku!"
Ujar Vano sambil membangggakan dirinya sendiri.
"Uluulu.....cucu mama teh mèuni ganteng pisan! Mirip kamu banget sih!" Komentar Silvia sambil memainkan rambut legam milik Anzar yang tengah terlelap karena kelelahan dipangkuan sang ayah.
"Ki,kamu apa kabar sayang? Kenapa dari tadi diam begitu?"
Ucapnya beralih kepada wanita cantik berhijab syar'i yang tengah menunduk dalam disamping suaminya.
"Kia....kia alhamdulillah baik mam,kalau mama sendiri bagaimana kabarnya?"
Ucapnya sedikit ragu.
Silvia tersenyum mengerti,ia juga tahu pasti menantu cantiknya ini merasa tengah canggung setelah apa yang terjadi sèlama ini.
"Alhamdulillah,mama juga baik baik saja ki!"
Ucapnya sambil mengelus punggung tangan wanita cantik dihadapanya.
"Jangan takut ataupun malu karena telah kembali kekeluarga Radityan.Kamu memang sudah sangat pantas menyandang gelar sebagai nyonya Radityan.Kamu wanita yang sangat baik sayang,mama secara pribadi
Minta maaf atas perilaku buruk putra mama beberapa tahun silam.Tapi mama sudah tahu sendiri,bagaimana perjuangan Vano untuk bisa mencapai semua ini."tuturnya lembut sambil mengiringi kecanggungan sang menantu dengan pengertian.
"Jadi,jangan pernah berpikir untuk pergi lagi ki.Karena mama tahu betapa pentingnya kamu dan Anzar untuk putra brengsek mama yang tampan ini!" Lanjut silvia sambil tersenyum lembut.
"I-iya ma.Sebenarnya Kia cuma merasa bersalah karena telah menyembunyikan keberadaan Anzar selama ini.Kia minta maaf mam!" Lirih Kia.
"Hustt....Kia gak salah.Setiap wanita yang berada diposisi Kia pasti akan melakukan hal yang sama.Tidak perlu ada yang diungkit ungkit dari masalalu,sekarang yang terpenting adalah kamu,Vano,Anzar dan baby dalam perutmu bahagia hingga maut memjemput." Bijak Silvia.
"Iya mam,terimakasih!"
Pria yang masih setia memangku sang putra yang tengah terlelap itu,terlihat mengembangkan senyumnya saat melihat kedua wanita yang sangat disayanginya saling mengerti.Sungguh,pilihan yang sangat tepat memboyong kia dan putranya pulang ke tanah air.
Dimalam harinya,setelah kepulangan keduanya.Kia dan Vano memutuskan untuk menginap dikediaman keluarga Radityan,sebelum esok hari Vano akan memboyong anak dan istrinya kekediaman mereka yang telah lama ia siapkan.
Ditengah malam pria tampan berambut legam itu,ia harus terbangun karena tenggorokanya terasa sangat kering.Diliriknya sejenak istri dan putranya yang terlelap disampinya.Senyumnya mengambang tipis,kala melihat keduanya masih terlelap dengan damainya.
Cup
Kecupnya singkat dibibir mungil sang istri saat sudah berada disamping ranjang tempat sang istri terlelap.Wajah damai wanita cantik hadapanya,ternyata mampu memberikan efek tersengat listrik ribuan volt kebahagiaan untuk jantungnya.
Cup
__ADS_1
Cup
Kecupnya kembali,gemas melihat wajah damai istrinya.
'Kamu itu wanita beranak satu,tapi kenapa bisa secantik ini ki?' Batinya bergumam kecil sambil tanganya bergerak mengelus perut menyembul dari balik gamis longgar milik sang istri.
'Yang sehat disana ya baby,ayah sayang kalian semua!' Gumamnya pelan sambil mengecup perut buncit tersebut.
Krieeeet
Ketika tengah menuangkan air putih kedalam gelas yang dibawanya,pintu dapur dibuka kembali oleh sosok jangkung yang berjalan kearahnya.
"Bang Vano!"
Ucap pria bermanik emerald tersebut.
"Kamu?"
Disinilah akhirnya kedua pria dewasa tersebut berada.Diruang kerja Vano yang tepat berada disrbelah kamar yang ditempati sang istri dan putranya.
"Kamu kapan sampai?"
Tanya Vano berusaha mengelak kecanggunan,mempis fakta jika pria dihadapanya ini adalah cinta pertama istrinya dan kini berstatus sebagai adik iparnya.
"Kemarin bang."
"Sama Vanya juga?"
Pria tampan bermanik emerald itu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Vano.Memang benar adanya jika ia kembali ketanah air bersama sang istri juga putrinya.
"Beberapa hari lagi adik saya akan menikah bang,jadi kita pulang ke tanah air bersama sama.Lagipula Vanya juga sedang hamil muda,saya tak tega membiarkanya sendirian dirumah kami di Ohio."
Tuturnya panjang lebar sambil menyesap teh greentea yang baru saja diseduhnya.
"Vanya hamil lagi,sudah berapa bulan?"
Tanya Vano,setidak lengketnya ia dengan sang adik namun tetap saja ia selalu ingin tah tentang keadaan sang adik.
"Baru lima minggu,dikehamilan ini vanya jadi agref banget bang!"ucapnya sambil terkekeh kecil.
Kecanggungan yang tadinya sempat melingkupi keduanya,kini perlahan mulai terkikis.Setidaknya Vano maupun Aditama kini tengah berusaha berdamai dengan masalalu,dan mulai menata kembali masadepan.
"Selamat pagi wajai zaujjattii!"
Lirih pria beraroma maskulin musk yang tengah menlingkarkan tangan kekarnya dipinggang sang istri yang tengah sibuk berkutat dengan spatula-nya.
"Issh....mas,aku lagi buat sarapan.Kalau ada yang lihat gimana?" Lirinya merasa sedikit risi.
"Gak papa,kalau mereka ganggu kita aku akan congkel bola matanya,biar gak bisa lihat kita berdua mesra mesraan!" Ucap pria berpakaian casual itu asal.
"Husstt....gak boleh gitu,mulutnya dijaga.Allah gak suka loh mas sama ummatnya yang suka berkata unfaedah gitu!" Ucap Kia mengkoreksi.
"Iya,aku-"
"Jadi kalau aku yang lihat,kakak bakal nyongkel bola mata cantikku ini?" Ucap sebuah suara dari ambang pintu tersebut.
Keduanya langsung mengalihkan pandanganya,kearah asal suara tersebut.
Disana,seorang wanita cantik berdress toska tengah berdiri sambil berkacak pinggang,berlagak meminta penjelasan dari pertanyaaanya.
"Vanya?!"
Lirih Vano sambil memutar bola matanya jengah.
Sedangkan Kia,dibuat gugup setengah mati oleh kehadiran wanita cantik kloningan wajah sang suami persi perempuan.
"Apa? Mau congkel bola mata cantikku ini? Siap siap saja nanti suamiku balas dendam!"
Ancamnya sambil mendekat kearah keduanya.
"Isshh....apaan sih pagi pagi udah peluk peluk,sana.....sana.....orang aku mau peluk kakak iparku!" Usirnya sambil melepaskan ikatan tangan liat Vano dari tubuh sang istri.
"Apa apaan sih kamu,orang kakak mau-"
"Ssttt....kakak ih,pagi pagi bikin badmood aja!" Ketua wanita cantik berambut legam tersebut.
"Vanya,kakak-"
"Ahkk.....kakak Iparrrr!"
Teriaknya kencang sambil mengahmbur memeluk tubuh bumil dihadapanya.
Kia yang tidak siap akan pelukan tiba tiba itu hampir saja terhuyung kebelakang,jika vano tidak menahan badanya.
"Akhirnya,kita bertemu secara langsung juga!" Antusias wanita berdress toska tersebut.
"Kalau dari dekat kakak cantik banget ya,mukanya kayak baby babyface gitu!"
"Pantas saja,dulu banyak pria hebat yang rela berjuang mati matian buat kakak!"
Ucap wanita cantik yang lebih tua satu tahun dari Kia tersebut.
"Aduduhh.....siabang,udah mau nambah debay aja."
Komentanya sambil mengelus perut buncit Kia.
"Hm,ki ini Keevanya adik aku,istrinya Aditama." Papar Vano menjelaskan,agar istrinya itu tak terlalu kebingungan.
Deg
'Istrinya Aditama'
Diliriknya Vanya dari ujung rambut hingga ujung kaki,cuma dua kata yang dapat mewakili penilaian akan wanita yang pantas disebut dewi aprhodite tersebut.
'Amat Cantik'
Rambut legam sepunggung,manik jelaganya yang bening,hidung mancungnya yang mungil,bibir mungilnya yang kissable,dan jangan lupakan tubuh profosionalnya yang bak model model internasional.
"Mom,what are you doing?"
Lirih pria bersuara bass tersebut,dari arah belakang Vanya.
"Dad,aku cuma sedang menyapa kakak iparku!" Jawabnya sambil memeluk mesra tubuh jangkung pria disampinya yang baru saja datang.
Cup
"Aku kira sedang apa!"
Kata pria bermanik emerald tersebut,sambil mengusap bahu sang istri setelah meninggalkan sebuah kecupan hangan dipelipisnya.
"Mom,Q hungry(lapar)!"
Teriak gadis kecil berpiama tsumsum tersebut,sambil memeluk kaki kedua orang tuanya.
"Oww...Q hungry? My dauther hungry hm?"
(Oww....Q lapar? Putriku lapar hm?)
Tanya pria berambut gelap agak kecoklatan tersebut,sambil menggendong malaikat kecilnya tersebut.
"Ohh....kenalkan kakak ipar,ini suaminku Aditama Matteos Luthears,dan putriku Q'ueensya Asisyah Luthears." Kata Vanya,sambil tersenyum bahagia memperkenalkan keluarga kecilnya.
"Ah,hallo Q'ueensya,kamu cantik sekali!"
Kata Kia canggung.
Baik Vano,Vanya maupun Aditama bisa menangkap jelas kecanggungan yang dialami wanita cantik berhijab syar'i tersebut.Bagaimanapun juga,Kia adalah pihak yang paling tersakiti oleh drama takdir menyakitkan tuhan ini.
"Ah,kalau begitu aku pamit pergi dulu ya.Sepertinya Anzar sudah bangun tidur!"
Ucapnya se-natural mungkin,sambil bergegas menuju pintu luar.
Bukanya Vano tega membiarkan semua ini terbuka secara langsung,namun jika tidak semua masalalu yang rumit itu tak akan pernah ada habisnya.Setidaknya semua orang harus berbaikan dengan masalalu,agar ia bisa membuka lembaran baru tentinya.
"Mas kita mau kemana sih?"
Tanya bingung wanita berhijab syar'i salem tersebut.
Karena semenjak suaminya berkendara nanti,pria itu benar benar mengunci rapat rapat mulutnya.Sekitar 15-menit yang lalu,pria itu datang menyusul dirinya yang tengah melamun dipekarangan belakang.
Dan disinilah kini keduanya berada,disebuah rumah minimalis bertingkat dua yang didominasi berwarna putih.
"Ini rumah siapa mas?"
Bingung Kia.
Namun bukanya lagi menjawab,pria itu malam membuka pintu mobilnya dan mengajak sang istri keluar tanpa banyak bicara.
"Mas?"
"Bungnya pasti sudah mekar sekarang!"
Ucap Vano pelan.
"Bunga apa?"
Bingung Kia.
"Pasti bunganya cantik sekali!"
__ADS_1
"Bunga? Cantik? Apaan sih mas?"
Bingung Kia mulai jengah.
"Mas kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku? Apa-"
Belum sempat ucapan wanita tersebut terselesaikan,sebelum manik hitam teduhnya menangkan sebuah objek yang amat menakjubkan dihadapanya.
"Subhanallah,bunganya bagus banget!"
Ucapnya antusias.
Taman belakang dari rumah minimalis bertingkat dua tetsebut ditanami berbagai bunga bunga cantik didadalam pot.
Dari bunga mawar merah,mawar putih,bunga kertas,bonggaivill,tanaman pakis haji dan banyak lagi.
Pekarangan rumah minimalis yang benar benar cantik karena ditanami puluhan jenis bunga tanaman hias.Sungguh,membuat siapapun yang tinggal disana akan senang ketika melihat pekarangan senyaman ini.
Grep
"Jangan sedih ya ki,mungkin ini saat nya kita berdamai dengan masalalu."
Lirih Vano sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Aku tahu sulit buat kamu melupakan dia,tapi kumohon jangan pernah menyerah melupakanya karena aku sekarang ada disini buat kamu." Lirihnya kembali.
"Kini waktunya kita berdamai dengan masalalu,supaya kita semua bisa bahagia dengan masa depan kita."
"Percaya ki,aku sayang kamu,Anzar,juga baby yang ada diperut kamu aku sayang.
Mulai saat ini,tidak perlu lagi ada air mata dan keraguan ya ki?"
Tanyanya pelan sambil sesekali mengecup ubun ubun sang istri.
Tes
Tes
"Ki,kamu menangis?"
Tanya Vano cemas,sambil buru buru menghadapkan sang istri kehadapanya.
Diusapnya lembut kedua pipi mulus yang mulai sembab oleh air mata tersebut.
"Ki?"
"Terimakasih mas,terimakasih karena mau mencintai Kia sampai sebesar ini.Terimakasih karena telah memberikan banyak kasih sayang selama ini,terimakasih karena telah mau menerima Kia dengan semua masalalu Kia.Terimakasih."
Penuturan Kia yang penuh haru itu tentu langsung disambut riang oleh Vano.Dihujaninya lembut mulai dari kening,kedua kelopak mata,hidung hingga pipi mulus Kia oleh ciuman singkatnya.
"Terimakasih ki,aku cuma minta satu sama kamu.Setia sama aku walaupun apapun keadaan yang akan menerpa kita nanti.Kita akan lalui bersama sama."
Ucap Vano lembut sambil memberikan sebuah kecupan lembut dibibir tipis wanitanya.
Setidaknya memang mereka harus segera berdamai dengan masalalu,untuk membiarkan masa depan berkembang dengan semestinya tanpa ada bayangan hitam dari masalalu.
**
"Masss....."
Panggil wanita cantik berhijab syar'i tersebut girang sambil berlari larian kecil.
"Sayang,jangan lari lari seperti itu,nanti kamu jatuh!"
Lerai pria yang tengah berada dipantry rumahnya tersebut.Sebuah apron pink juga melekat ditubuh atletisnya yang hanya terbalut kaos casual.
"Mas,coba lihat ini?"
Tunjuk wanita cantik yang tengah hamil besar itu,sambil menyodorkan sebuah undangan berwarna putih gading dengan aksen mawar putih tersebut.
"Mas Bara-"
Cup
Katanya terpotong,saat sebuah kecupan singkat mendarat dipelipisnya.
......Menikah?"
Lanjutnya.
Pria itu tersenyum lembut,ia tahu jika istri cantiknya ini terkejut karena tiba tiba mendapatkan undangan pernikahan dari seseorang yang dekat denganya,namun tanpa sepengetahuanya.
"Iya,kan Bara juga pria yang sudah dewasa.Sudah sewajarnya dia menikah ki!"
Lanjut sipria sambil memeluk wanita hamil dihadapanya sayang.
"Kok Kia gak tahu?"
Tanyanya ambigu.
"Pan ini tahu sayang!"
Lanjut Vano,sambil mematikan kompor tempatnya memasakan sarapan tadi.
"Tapi-"
Cup
"Ishh....mas kalau aku lagi bicara itu jangan dipotong dulu,kan aku-"
Cup
"Astagfirullahaladzim,mass!"
Kesal wanita cantik berwajah babyface tersebut.
"Habisnya gemes sayang,bisa bisanya Allah nyiptain manusia secantik kamu."
Ucapnya sambil tersenyum jenaka.
"Allah huakbar,kok suami kia jadi gombal gini?" Bingung Kia.
"Gak papa,yang penting sayang."
Elak Vano sambil kembali memeluk tubuh mungil istrinya yang tengah berbadan dua tersebut.
"Aku sayang kamu ya-Zaujatii,amat sayang kamu!" Bisiknya pelan namun syarat akan kasih sayang.
"Nado sarangheo,oppa!"
Jawab Kia sambil tersenyum kecil kala menjawab pernyataan cinta suaminya itu dengan bahasa Korea.
"Apaan sih,aku gak ngerti ki?"
Bingung Vano.
"Cari aja di mbah google mas!"
Jawab Kia asal sambl memeluk balik tubuh tegap sang suami.
"Gak usah cari tahu ke google,Allah juga tahu kamu sayang sama aku."
Ujarnya sambil tersenyum bahagia.
Tak pernah terpikir sekalipun,ending dari kesalahan meng-khitbah seorang wanita baik baik akan berakhir seperti ini.Memang benar mungkin,cinta datang karena terbiasa,cinta datang karena saling membutuhkan,cinta datang dengan benang takdir rumit yang entah siapa yang tahu alur ceritanya.
TBC
@@@
Huahhh😭😭😭
Guys.....akhirnya aku bisa update juga🤗🤗.
Hampir delapan hari ini aku full time kerja Ditempat PRAKERIN tanpa libur.Weekend nanti alhamdulillah kebagian libur.
Gimana,ada yang masih setia sama 'bukan salah khitbah' ini?
Maafff🙏🙏
Aku tlat bahkan sampai delapan hari gak update,merantau jauh itu capek nge-menej waktunya.Mana pulangnya sampai malam.
Tapi insaallah aku bakal bisa bisaiin update gak terlalu lama selama berada dikota Dilan ini.
Doain juga buat novel ' bukan salah khitbah' agar bisa masuk sebagai salah satu nominasi novel school challenge nanti di 29 pebuari.
Semoga kalian selalu setia ya sama karya ku ini.Maaf juga udah gantungin penasaran kalian seminggu ini🙏🙏.
Ok,Aku NRisma/Kaka shan & Neng karisma
Mengucapkan banyak terimakasih buat dukungan redaers setia selama ini.
Oh iya,jangan lupa dukungan dan komentarnya ya buat part ini🤗🤗
Ok,sampai jumpa dipart berikutnya🖑🖑
Cicadas,Bandung 11/01/20
__ADS_1
05.55 pagi🖑🖑